RADAR BOGOR – Lomba 17 Agustusan merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia, kini makin beragam. Terbaru, ada beberapa lomba yang nyeleneh hingga menjadi perhatian ulama Buya Yahya.
Lomba 17 Agustusan yang menjadi sorotan, adalah meletuskan balon dengan menubrukan tubuh laki-laki dan perempuan. Ada juga panjat pinang yang dilakukan perempuan menggunakan celana pendek. Hal ini membuat Buya Yahya merespon.
Ulama Buya Yahya menegaskan, bahwa memeriahkan Hari Kemerdekaan adalah wujud cinta kepada NKRI. Bisa saja dilakukan dengan lomba 17 Agustusan, tapi harus tetap dalam koridor syariat dan menjunjung tinggi nilai akhlak.
“Bergembira di hari kemerdekaan itu baik, bahkan bukti kita mencintai NKRI. Tapi jangan sampai rasa syukur itu diwujudkan dengan hal-hal yang melanggar ajaran agama,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan laki-laki dan perempuan dalam interaksi fisik yang tidak perlu seperti lomba tabrakan badan atau panjat pinang bercampur bukan hanya kurang pantas, tapi juga bisa merendahkan martabat perempuan.
“Perempuan itu seharusnya dimuliakan dan dijaga. Kalau pakai celana pendek, naik panjat pinang, lalu jadi bahan tertawaan, itu sama saja merendahkan mereka,” tambahnya.
Ia menilai, jenis lomba yang diadakan di masyarakat mencerminkan kecerdasan dan kepekaan penyelenggaranya.
Makin cerdas dan peka seseorang maka makin hati-hati pula dalam memilih bentuk perlombaan.
Sebaliknya, jika hanya mengejar kesenangan tanpa memikirkan nilai moral, kegiatan itu justru bisa mengundang murka Allah.
Tidak hanya di masyarakat umum, pemimpin pondok pesantren Al-Bahjah itu mencontohkan di pondok pesantren pun ada perlombaan yang tidak sesuai akhlak, seperti lomba makan dengan cara yang tidak sopan.
Karena itu, ia menyerukan agar semua pihak, termasuk pemerintah daerah, ikut memberi rambu-rambu agar lomba-lomba yang diadakan bernilai positif.
“Kalau ada kegiatan yang haram atau melanggar akhlak, seharusnya dihentikan. Panitia harus evaluasi sejak awal, mana yang layak dan mana yang tidak,” tegasnya.
Menurut ulama kelahiran 52 tahun lalu ini mengatakan, lomba panjat pinang dengan perempuan pakai celana pendek, bertentangan dengan semangat kemerdekaan itu sendiri.
“Kita memang merdeka dari penjajah, tapi jangan sampai malah jadi budak hawa nafsu. Itu bukan arti kemerdekaan yang sejati,” ujarnya.
Menutup pesannya, Buya Yahya mengajak seluruh masyarakat untuk memaknai kemerdekaan dengan kegiatan yang membangun, mendidik, dan menumbuhkan kecakapan.
Ia menegaskan bahwa rasa syukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan harus diwujudkan dengan hal-hal yang diridai-Nya.
“Boleh saja mengadakan lomba, tapi pilih yang bermanfaat, yang mengasah kecerdasan, keterampilan, dan kreativitas. Dengan begitu, nikmat kemerdekaan akan Allah abadikan, bukan malah mendatangkan murka-Nya,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga