RADAR BOGOR - Ada kisah menarik dari 76 pelajar yang dikukuhkan sebagai pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) tingkat nasional yang bertugas di Istana Merdeka tahun ini. Adalah Ritha Lovely Chantika.
Ritha Lovely Chantika, menjadi satu Paskibraka asal Papua Barat, yang hari ini bertugas di Istana Merdeka, Jakarta, mengibrkan bendera merah putih di HUT ke 80 Indonesia.
Ritha Lovely Chantika mendapat kehormatan untuk menjadi pemimpin upacara dalam prosesi pengukuhan Paskibraka di Istana Merdeka.
Ia mengaku perasaannya sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Ada rasa bangga, terharu, dan bahagia yang bercampur menjadi satu.
Ritha Lovely Chantika mengenang bagaimana langkah panjang yang telah ia tempuh hingga sampai di titik ini.
Dikutip Radar Bogor dari presidenri.go.id pada 17 Agustus 2025, perjalanan Ritha Lovely Chantika dimulai dari keikutsertaan dalam paskibraka di tingkat sekolah, berlanjut ke tingkat kabupaten, lalu provinsi, hingga akhirnya lolos ke tingkat nasional.
Menurutnya, semua tahap itu adalah pengalaman berharga sekaligus anugerah yang ia syukuri.
Ia menuturkan dengan penuh rasa syukur bahwa dukungan keluarga, guru, dan lingkungan sangat membantunya untuk bisa melewati seleksi demi seleksi.
Kisah perjuangan lain datang dari tanah Papua Selatan.
Abraham Sarau, salah satu anggota yang terpilih, mengungkapkan bahwa perjalanan menuju pengukuhan bukanlah sesuatu yang mudah.
Ia bahkan sempat merasa ingin menyerah, karena beratnya tantangan selama proses seleksi.
Namun, semangat yang diberikan oleh teman-temannya berhasil menguatkan hatinya.
Dari Nusa Tenggara Timur, ada cerita inspiratif lain dari seorang pelajar bernama Paulus Gregorius Afrizal.
Paulus merasa sangat bangga karena dapat mengibarkan bendera di tingkat nasional sekaligus membawa nama daerahnya ke panggung kehormatan.
Ia mengatakan, masa persiapan sebelum hari pengukuhan penuh dengan latihan intensif.
Setiap hari mereka berlatih disiplin, menjaga kesehatan, serta mempersiapkan fisik dan mental untuk menyukseskan upacara yang sangat penting bagi bangsa Indonesia.
Meski menjadi bagian dari Paskibraka Nasional sudah merupakan kebanggaan besar, Paulus menyimpan kisah kehidupan yang tak kalah mengharukan.
Di luar sekolah, ia menyempatkan diri untuk berdagang jagung bakar pada akhir pekan.
Hal itu ia lakukan untuk membantu perekonomian keluarga.
Menurutnya, berjualan bukanlah paksaan dari siapapun, melainkan keinginannya sendiri agar bisa meringankan beban kedua orang tua.
Dengan penuh semangat, ia membagi waktu antara bersekolah, berlatih sebagai atlet karate, serta membantu mencari nafkah.
Paulus menilai bahwa semua kegiatan itu justru mengajarkannya arti kedisiplinan dan tanggung jawab yang kelak sangat berguna saat menjalankan tugas sebagai anggota Paskibraka.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga