Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gedung DPR Jadi Sorotan, Ternyata Ini Filosofi Gedung Kura-Kura yang Digagas oleh Soekarno

Khairunnisa RB • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 16:16 WIB
Gedung DPR.
Gedung DPR.

RADAR BOGOR – Aksi demonstrasi masyarakat yang beberapa hari ini terjadi, membuat Gedung DPR menjadi sorotan dan trending topic.

Tagar bubarkan DPR menempati posisi trending ke 8 trending topic x (dulunya Twitter witter). Banyak pula yang penasaran dengan filosofi gedung kura-kura itu.

Hingga pukul 11.00 WIB, lebih dari 88 ribu unggahan membanjiri lini masa, sebagian besar berisi kritik pedas dan sindiran tajam terhadap DPR yang dinilai semakin jauh dari kepentingan rakyat.

Gelombang kekecewaan warganet tumpah ruah.

Banyak yang menilai DPR sudah kehilangan marwah sebagai lembaga perwakilan rakyat,

Dari sinilah, Gedung DPR bukan hanya dipandang sebagai simbol politik, melainkan juga simbol kekecewaan publik.

Namun, di balik hiruk pikuk kritik tersebut, sedikit yang tahu bahwa arsitektur Gedung DPR RI menyimpan filosofi mendalam.

Bangunan yang identik dengan atap hijau besar itu ternyata memiliki akar sejarah yang panjang dan sarat makna.

Bentuk dasar gedung DPR disebut-sebut terinspirasi dari budaya Hindu kuno.

Filosofinya melambangkan Yoni, simbol organ vital perempuan yang dimaknai sebagai sumber kehidupan.

Simbol ini tidak digambarkan secara gamblang, melainkan dihadirkan secara samar melalui desain bangunan.

Sebagai penggagas proyek tersebut, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, memiliki visi unik.

Ia mengibaratkan gedung DPR sebagai “ibu” yang melahirkan aturan-aturan penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gedung ini pun menjadi saksi sejarah lahirnya berbagai peraturan politik dan hukum di tanah air.

Pembangunan Gedung DPR bermula dari Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1965, ketika Soekarno meresmikan proyek gedung untuk menyelenggarakan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO), sebuah forum internasional yang menghimpun negara-negara kekuatan baru dunia.

Arsitek Soejoedi Wirjoatmodjo dipercaya merancang bangunan megah itu, dibantu oleh arsitek ternama Ir. Sutami.

Sayangnya, dinamika politik kala itu membuat proyek sempat terhenti akibat peristiwa G30S 1965.

Pekerjaan baru bisa dilanjutkan kembali pada 9 November 1966, dengan nama yang berubah menjadi Gedung DPR.

Setelah melalui proses panjang, barulah pada 1 Februari 1983, gedung ini diresmikan dan resmi digunakan sebagai pusat aktivitas legislatif Indonesia.

Ciri paling ikonik dari gedung DPR adalah atap hijau raksasa berbentuk dua kubah melengkung.

Desain ini awalnya dimaknai sebagai sayap burung Garuda yang tengah mengepak, melambangkan kekuatan dan kebangkitan bangsa.

Namun, publik kemudian lebih akrab menyebutnya sebagai “Gedung Kura-kura” karena atapnya menyerupai cangkang kura-kura yang kokoh namun sederhana.

Kini, di tengah ramainya tagar dan kritik terhadap DPR, gedung bersejarah itu kembali jadi sorotan.

Bukan hanya karena fungsinya sebagai pusat pengambilan keputusan politik, tetapi juga karena makna filosofis dan sejarah panjang yang melekat pada setiap lengkung atap hijau “kura-kura” tersebut.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#dpr #trending topic #gedung