Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Bolehkah Shalat Gerhana Bulan Sendiri? Simak Hukum, Niat, dan Tata Cara Pelaksanaan Shalat Khusuf 7-8 September 2025

Khairunnisa RB • Sabtu, 6 September 2025 | 08:37 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RADAR BOGOR – Sebuah fenomena langit yang sangat istimewa yaitu gerhana bulan total diperkirakan akan menyapa jagat raya pada Ahad hingga Senin, 7–8 September 2025 mendatang.

Pada rentang waktu tersebut, seluruh mata dunia, termasuk masyarakat di Indonesia, berkesempatan menyaksikan fenomena gerhana bulan total yang selalu ditunggu-tunggu para pencinta astronomi maupun umat beragama.

Fenomena gerhana bulan total bukan hanya menghadirkan keindahan visual di angkasa, tetapi juga membawa makna spiritual yang dalam bagi mereka yang memandangnya sebagai tanda kebesaran Sang Pencipta.

Menjelang peristiwa alam tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) mengimbau kaum muslimin di seluruh penjuru tanah air agar memanfaatkan kesempatan ini dengan menunaikan shalat khusuf atau shalat gerhana.

Ibadah sunnah ini telah dicontohkan Rasulullah SAW ketika terjadi gerhana pada zamannya, sebagai bentuk rasa takut sekaligus pengagungan kepada kebesaran Allah SWT.

Namun, muncul beberapa pertanyaan di tengah masyarakat. Bagaimana hukum shalat gerhana bulan ini?

Apakah wajib dilakukan secara berjamaah di masjid, atau boleh juga dikerjakan sendirian di rumah?

Apakah terdapat perbedaan niat dan tata cara pelaksanaannya ketika dilakukan sendiri maupun berjamaah?

Hukum Shalat Khusuf Menurut Ulama

Mengutip penjelasan Buya Yahya, salah seorang ulama yang kerap menjadi rujukan umat, hukum shalat khusuf adalah sunnah muakkad, yakni sunnah yang sangat dianjurkan dan hampir mendekati kewajiban karena Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya ketika terjadi gerhana.

“Shalat sunnah gerhana ini adalah shalat sunnah yang dikukuhkan atau sunnah muakkad,” jelas Buya Yahya.

Beliau juga menegaskan bahwa shalat gerhana dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah, sebagaimana shalat Idulfitri atau Iduladha.

Namun, jika seseorang tidak memungkinkan hadir berjamaah, maka ia tetap diperbolehkan mengerjakannya secara individu di rumah.

Lafaz Niat Shalat Gerhana

Perbedaan utama antara shalat sendiri dan berjamaah terletak pada niatnya. Berikut lafaz niat yang biasa digunakan:

Niat shalat gerhana sendiri:

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ

Artinya: “Saya niat shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Niat shalat gerhana berjamaah (imam/makmum):

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman/makmûman lillâhi ta‘âlâ

Artinya: “Saya niat shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah Ta’ala.”

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Secara umum, tata cara shalat khusuf hampir sama dengan shalat sunnah biasa, namun memiliki kekhususan pada jumlah rukuk dan panjang bacaan. Berikut urutannya:

• Niat dalam hati.

• Takbiratul ihram, lalu membaca doa iftitah dan ta’awudz.

• Membaca surat Al-Fatihah, kemudian membaca surat panjang (misalnya Al-Baqarah) dengan suara lantang.

• Ruku’ dengan memanjangkannya.

• I’tidal, lalu kembali membaca Al-Fatihah dan surat panjang, meski lebih singkat dari sebelumnya.

• Ruku’ kedua, lebih pendek dari ruku’ pertama.

• I’tidal kembali, kemudian sujud panjang, duduk di antara dua sujud, lalu sujud lagi.

• Selanjutnya masuk ke rakaat kedua. Seperti halnya pada rakaat pertama, terdapat rangkaian bacaan dan gerakan shalat yang harus dijalankan.

Bedanya, bacaan surat dan lamanya rukuk maupun sujud di rakaat kedua ini tidak sepanjang dan tidak selama pada rakaat sebelumnya

Setelah salam, imam dianjurkan menyampaikan khutbah berisi nasihat, anjuran berdzikir, berdoa, memperbanyak istighfar, dan bersedekah.

Dengan demikian, shalat khusuf merupakan kesempatan emas bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus merenungkan kebesaran-Nya melalui fenomena alam yang jarang terjadi.

Entah dikerjakan secara berjamaah di masjid atau sendirian di rumah, ibadah ini tetap bernilai tinggi di sisi Allah.

Maka, ketika gerhana bulan total pada Ahad malam, 7 September 2025 terjadi, marilah kita tidak hanya menyaksikan keindahannya, tetapi juga mengiringinya dengan ibadah yang penuh kekhusyukan.***

Editor : Eli Kustiyawati
#gerhana bulan total #fenomena #shalat khusuf #astronomi