RADAR BOGOR – Fenomena langit langka akan menghiasi angkasa pada 7–8 September 2025 mendatang.
Gerhana bulan total diprediksi dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia.
Menyikapi hal ini, Kementerian Agama (Kemenag) mengimbau umat Islam untuk melaksanakan salat gerhana bulan total (Salat Khusuf) sekaligus memperbanyak doa demi keselamatan dan kesejahteraan bangsa.
Dalam unggahan resmi di akun Instagram @kemenag_ri, Kemenag menyebut bahwa gerhana bulan total bukan sekadar peristiwa astronomi biasa, melainkan juga momentum spiritual untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Mari jadikan momen spiritual ini untuk memohon keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bangsa,” tulis Kemenag dalam imbauannya.
Jadwal Fase Gerhana Bulan
Berdasarkan informasi yang dibagikan, berikut rincian jadwal fase gerhana bulan total sesuai zona waktu Indonesia:
Waktu Indonesia Barat (WIB)
• Mulai: 23.27 WIB
• Puncak: 01.11 WIB
• Selesai: 02.56 WIB
Waktu Indonesia Tengah (WITA)
• Mulai: 00.27 WITA
• Puncak: 02.11 WITA
• Selesai: 03.56 WITA
Waktu Indonesia Timur (WIT)
• Mulai: 01.27 WIT
• Puncak: 03.11 WIT
• Selesai: 04.56 WIT
Dengan jadwal tersebut, masyarakat di seluruh Nusantara dapat menyesuaikan diri untuk mengamati fenomena ini sekaligus melaksanakan Salat Khusuf pada waktunya.
Salat Gerhana, Sunnah yang Sarat Makna
Dalam ajaran Islam, gerhana bulan maupun gerhana matahari dianggap sebagai tanda kebesaran Allah SWT.
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan salat sunnah dua rakaat yang dikenal sebagai Salat Khusuf (salat gerhana bulan) atau Salat Kusuf (salat gerhana matahari).
Salat ini dilakukan dengan bacaan yang lebih panjang dibanding salat biasa, serta diiringi doa dan istighfar.
Tujuannya bukan hanya menjalankan sunnah, melainkan juga memperbanyak zikir, mengingat kebesaran Allah, serta menghindari anggapan mistis yang kerap melekat pada fenomena alam di masa lalu.
Melalui salat gerhana, umat Islam diingatkan untuk senantiasa bertafakur, meningkatkan keimanan, serta berdoa untuk diri sendiri, keluarga, dan bangsa.
Fenomena gerhana bulan total kali ini diprediksi akan berlangsung cukup lama, yakni sekitar tiga setengah jam dari awal hingga akhir fase.
Bagi masyarakat Indonesia, ini menjadi kesempatan untuk menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan sekaligus memanfaatkannya sebagai ajang kebersamaan umat.
Kemenag mengajak masjid-masjid di seluruh daerah untuk menyelenggarakan salat gerhana secara berjamaah.
Selain memperkuat ukhuwah Islamiyah, kegiatan ini diharapkan menjadi sarana doa bersama demi persatuan bangsa.
Secara astronomis, gerhana bulan total terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga cahaya matahari terhalang sepenuhnya.
Saat fase puncak, bulan biasanya akan tampak berwarna merah tembaga, fenomena yang sering disebut sebagai blood moon.
Kehadiran gerhana bulan total ini diprediksi akan menjadi salah satu peristiwa langit terbesar pada tahun 2025 yang dapat diamati dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus.
Para pencinta astronomi maupun masyarakat umum diperkirakan akan antusias menyambut momen ini.
Baca Juga: Apa Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW? Berikut Jawaban Lengkap Ustadz Abdul Somad
Kemenag berharap agar umat Islam di Indonesia tidak hanya terpukau dengan keindahan fenomena alam, tetapi juga mengambil hikmah spiritual di baliknya.
Di tengah berbagai tantangan bangsa, doa bersama pada malam gerhana diharapkan membawa keberkahan, ketenangan, dan kekuatan bagi masyarakat Indonesia.
Dengan demikian, peristiwa gerhana bulan total pada 7-8 September 2025 bukan sekadar tontonan langit, tetapi juga undangan untuk merenung, memperkuat iman, serta meneguhkan persaudaraan dan doa untuk bangsa.***
Editor : Eli Kustiyawati