Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Jodoh Tak Kunjung Datang, Wanita Ini PIlih Jalani Hipnoterapi hingga Terungkap Penyebabnya

Eka Rahmawati • Rabu, 10 September 2025 | 15:18 WIB
Nina Marlina seorang hipnoterapis dari Griya Harmoni Terapi.
Nina Marlina seorang hipnoterapis dari Griya Harmoni Terapi.

RADAR BOGOR - Wanita berparas manis ini datang dari luar kota menempuh perjalanan seharian untuk menjalani konseling dan hipnoterapi.

Sebut saja Ayu, usianya kepala tiga, dari masalah yang ingin diatasi, ia tuliskan bahwa dirinya merasa sulit dapat jodoh, intinya ia ingin menikah tetapi pria yang didambakan menjadi suami tak kunjung datang. Hubungan dengan pacarnya sering kali kandas seperti yang sudah-sudah, dia merasa “sreg” dengan pacar yang terakhir, eh ditinggal juga, hanya sebulan bertahan akhirnya putus.

Dari hasil wawancara mendalam didapati pola yang sama dari relasi sebelumnya, dalam berelasi jarang bertahan lama, ia pikir apa karena dirinya jelek seperti yang sering dilontarkan ibunya sewaktu Ayu masih kecil.

Kalimat yang tidak sepantasnya ia dengar dari orang yang mengandung, melahirkan dan menyusuinya, perundungan dari ibunya ini memengaruhi cara Ayu memandang dirinya. Meskipun demikian, Ayu merasa sedih setiap kali melihat ibunya menangis karena omongan tetangga.

“Anakmu sudah dewasa, hidup mapan, punya usaha bagus, belum nikah juga. Mau cari laki-laki kaya apa sih?” 

Singkat cerita, masa kecil Ayu sering mengalami perlakuan tidak adil dari ibunya, sebagai anak sulung justru dinomor duakan oleh ibunya. Adiknya jadi anak emas sementara dirinya sering diabaikan, ditolak, dan mengalami kekerasan verbal juga fisik.

Ayu kecil hingga dewasa sering menyaksikan ibunya bertengkar dengan ayahnya yang dia anggap pelit, ibunya bekerja keras untuk menambah kebutuhan keluarga yang tidak bisa dipenuhi ayahnya. Ayu sering menerima ledakan emosi ibunya juga ayahnya, ia juga mengalami Adverse Childhood Experience atau masa kecil yang merugikan dan dampaknya terbawa hingga dewasa, ia sulit menjalin relasi.

Ada banyak peristiwa yang memilukan dan membuat dirinya mengalami trauma berulang, tumbuh dalam keluarga disfungsi membuat Ayu menciptakan pertahanan diri dan melindungi dirinya dari kekerasan serupa.

Itulah mengapa setiap kali punya pacar meskipun sudah merasa “sreg”, pacarnya selalu mengakhiri hubungan, ternyata pikiran bawah sadar Ayu melindungi Ayu agar tidak menikah dan membuat hubungannya selalu putus atau ditinggal.

Ada bagian diri Ayu yang sering mensabotase hubungannya bernama “si takut.” Si takut ini muncul melindungi Ayu agar “tak punya anak.” Pikiran bawah sadarnya melindungi Ayu dari situasi dan kondisi yang ia hindari. Ia tak mau mengulang pola kehidupan keluarganya, bagian diri ini bilang kalau nikah nanti punya anak, bagian dirinya merasa khawatir kalau nanti anaknya menderita seperti Ayu.

Ia juga tak mau jadi ibu seperti ibunya yang kasar dan memperlakukan anak pilih kasih, ketakutan lainnya ia tak mau punya suami seperti ayahnya yang pelit juga kasar. Ayu tak ingin dirinya harus kerja keras dan melelahkan seperti ibunya yang kemudian melampiaskan kesal dan marahnya pada anaknya.

Masalah seperti yang dialami Ayu banyak terjadi dan kita tidak pernah tahu apa akar masalah yang membuat orang merasa sulit membangun relasi meskipun ia ingin menikah. Dari kisah Ayu ada banyak hal yang bisa diambil pelajaran, termasuk jangan suka kepo dengan masalah orang lain dan  bertanya “kapan nikah?”

Dari kisah Ayu, ada kisah menarik lainnya untuk direnungkan dan diambil pelajaran, delapan tahun yang lalu saya kedatangan klien, sebut saja Ira dengan permasalah yang serupa dengan Ayu yaitu ingin menikah namun jodoh tak kunjung tiba. Bedanya, pria yang datang pada Ira bukan kriteria idealnya, beberapa kali ia didekati pria beristri atau duda.

Dalam formulir yang Ira isi tertulis bahwa hubungan semasa Ira kecil/remaja dengan ayah buruk, dengan ibu biasa, dari data yang ditulis ini jadi dasar bagi terapis menelusuri pola pengasuhan masa lalu hingga diketahui bahwa ayah Ira sering melakukan KDRT pada ibu dan semua anaknya.

Ira anak bungsu dari empat bersaudara, kakak sulungnya berusia 40 tahun tidak menikah, kakak keduanya menikah dan usia pernikahannya hanya berlangsung 3 bulan kemudian cerai. Kakak ketiganya memiliki suami yang kerjanya serabutan, kakaknya yang berpendidikan S2 yang bekerja memenuhi kebutuhan keluarga, usia Ira kala itu 30 tahun, bekerja dan punya penghasilan yang memadai.

Hanya Ira yang masih lajang dan tinggal ibunya memilih tinggal bersama Ira, ibunya sudah bercerai dengan sang ayah. Perceraian terjadi saat ayahnya mendekati masa pensiun dan memilih menikah dengan wanita selingkuhannya.

Keluhan fisik yang Ira alami dalam enam bulan terakhir sering mengalami migren, nyeri lambung, kram saat menstruasi dan kulitnya gatal-gatal tampak banyak  bintik hitam bekas luka yang mengering, tak hanya itu, jauh sebelumnya Ira pernah menjalani operasi amandel, benjolan payudara dan usus buntu.

Dari keluhan fisik dan daftar emosi dengan skala 0 - 10 beberapa emosi yang Ira tulis cukup intens, emosi yang intens ini menjadi jembatan untuk membimbing Ira menemukan akar masalahnya, dari penelusuran akar masalah ditemukan bagian diri yang melindungi Ira dari “laki-laki bejat” seperti ayahnyanya.

Pikiran bawah sadarnya memandang semua laki-laki sama, Ira kecil tumbuh dalam keluarga disfungsi, dan mengalami masa kecil yang merugikan. Trauma yang berulang, dan yang menyakitkan baginya ketika Ira menyaksikan kakaknya diseret ayahnya. Banyaknya peristiwa traumatik membuat Ira sering merasa takut dan sulit menemukan laki-laki yang baik untuknya.

Tapi, yang diceritakan Ira di awal dengan temuan dalam kondisi hipnosis yang dalam sungguh mencengangkan dan akhirnya terjawab mengapa ia merasa takut. Tak disangka dan tak diduga ternyata Ira kecil pernah mengalami pelecehan dari teman kecilnya yang kala itu sama-sama berusia 5 tahun.

Zaman itu bocah 5 tahun bisa melakukan pelecehan pada Ira dan saudara sepupu pelaku. Pikiran bawah sadarnya membuat kulit Ira jadi tampak buruk agar tidak menarik dan tidak dilecehkan lagi.

Setelah diproses memori dengan muatan emosi yang intens, di pertemuan berikutnya Ira menceritakan keluhan kram saat haid sudah hilang bahkan biasanya “banjir darah” saat haid hari pertama sudah tidak lagi. Kulit Ira tampak lebih bersih terutama di tangan dan wajah, setelah berefleksi, Ira merasa bersyukur atas semua pengalaman yang pernah terjadi.  Sebulan kemudian Ira berkabar kalau dirinya sudah menemukan laki-laki yang sesuai dengan daftar  kriteria suami ideal yang ia tulis.

Dari kisah Ayu dan Ira, keduanya unik, menarik dan selalu ada pembelajaran berharga, masalah jodoh tak kunjung datang ternyata, ya begitu adanya. Kalau Anda pernah atau masih mengalami KDRT, luka batin, trauma dalam berelasi, nikah dan cerai berulang, ingin memulihkannya, carilah bantuan hipnoterapis.

Penulis: Nina Marlina, Hipnoterapis dari Griya Harmoni Terapi 
Instagram @nina_chandrakirana

Editor : Eka Rahmawati
#jodoh #hipnoterapi