RADAR BOGOR - Nama Ferry Irwandi, influencer sekaligus pendiri Malaka Project, sempat menjadi pusat perhatian publik beberapa waktu terakhir. Akibat dilaporkan TNI dengan dugaan dalang demonstrasi.
Influencer Ferry Irwandi dilaporkan TNI sebagai dalang dari gelombang demonstrasi di depan Gedung DPR RI yang ramai dibicarakan di TikTok dan berbagai media sosial.
Tuduhan TNI tersebut muncul, setelah influencer Ferry Irwandi mengkritisi akun-akun tertentu di media sosial yang dianggap memprovokasi massa untuk turun ke jalan.
Kontroversi ini berlanjut ketika aparat siber TNI menyinggung kemungkinan adanya dugaan tindak pidana terkait aktivitas digital Ferry.
Isu itu membuat namanya semakin ramai diperbincangkan, bahkan menyeretnya dalam perdebatan publik yang cukup panas.
Namun, seiring berjalannya waktu, isu yang semula begitu heboh perlahan mereda. Tidak ada bukti konklusif yang dipublikasikan, dan perhatian publik mulai beralih pada isu-isu lain.
Melalui unggahan terbarunya di Instagram @irwandiferry, Ferry akhirnya memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa persoalannya dengan TNI sudah selesai.
“Urusan saya dan TNI udah selesai teman-teman,” tulisnya.
Dalam pernyataannya, Ferry mengajak masyarakat untuk tidak lagi terjebak pada isu personal yang menimpa dirinya.
Ia menekankan pentingnya memberi perhatian pada tuntutan yang disuarakan oleh berbagai kelompok masyarakat, mulai dari serikat buruh, pengemudi ojek online, hingga aliansi mahasiswa dan ekonom. Baginya, substansi perjuangan itulah yang harus tetap dijaga.
Ferry juga menyinggung fakta bahwa masih banyak peserta aksi yang ditangkap, hilang, maupun belum memperoleh keadilan.
Karena itu, ia menyerukan solidaritas: “Mari saling jaga, jaga warga!” tambahnya. Ia berkomitmen untuk terus memberikan kabar perkembangan terbaru apabila ada dinamika baru terkait gerakan sosial ini.
Dengan pernyataan tersebut, Ferry seakan menutup bab kontroversi mengenai tuduhan dirinya sebagai dalang demo DPR.
Dari yang semula menjadi sorotan karena isu negatif, kini ia mencoba mengarahkan kembali perhatian publik pada esensi perjuangan rakyat yang lebih luas.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga