RADAR BOGOR - Menteri Keuangan (Menkeu) yang baru saja dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, Purbaya Yudhi Sadewa, ternyata menyimpan sebuah kebiasaan yang cukup unik dan tak banyak diketahui publik.
Dalam sebuah perbincangan santai di podcast yang dipandu oleh pengusaha muda Putri Tanjung, Purbaya Yudhi Sadewa menceritakan bahwa salah satu caranya melepas penat ketika menghadapi tekanan pekerjaan adalah dengan menonton drama pendek asal Tiongkok.
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa menonton drama-drama berdurasi singkat memberinya hiburan sekaligus menjadi cara efektif untuk mengurangi stres.
"Menghibur sih, kadang-kadang ceritanya mirip-mirip, orangnya enggak sih, tapi tonton aja," ucap Purbaya Yudhi Sadewa.
"Yang pendek-pendek, kalau kepanjangan bosen,” sambung Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa saat rasa jenuh mulai menumpuk karena padatnya tugas sebagai pejabat negara, dirinya cenderung memilih untuk menonton drama China yang berdurasi pendek ketimbang serial panjang yang memakan waktu.
Menurutnya, alur cerita yang ringan dan tidak bertele-tele membuat drama semacam itu terasa menyenangkan untuk diikuti, walaupun terkadang cerita yang ditampilkan terlihat mirip satu sama lain.
Namun, hal itu justru menjadi bagian dari hiburan baginya, karena ia dapat menonton tanpa harus terlalu terbebani alur cerita yang kompleks atau panjang.
Purbaya juga mengungkapkan bahwa kebiasaannya tersebut sempat menimbulkan protes kecil dari sang istri, Ida Yulidina.
Ia bercerita bahwa sang istri beberapa kali menegurnya karena terlalu sering menonton drama yang dikenal dengan drachin.
"Tahunya itu pelarian kita ketika istri bilang, 'Kamu nonton (drama) China terus?' 'Oh iya iya gua nonton.' Tapi menarik," kata Purbaya Yudhi Sadewa.
Meski begitu, Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa menonton drama merupakan semacam bentuk pelarian kecil yang membantunya tetap waras di tengah padatnya aktivitas sebagai pejabat publik.
Ia bahkan menilai bahwa menonton drama pendek jauh lebih menarik daripada drama berseri panjang, karena cerita yang terlalu panjang justru membuatnya cepat bosan.
Selain menghabiskan waktu dengan menonton drama, pria yang merupakan lulusan Teknik Elektro dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini juga memiliki kebiasaan membaca di waktu senggangnya.
Ia menuturkan bahwa dirinya gemar membaca berita internasional serta buku-buku yang membahas ekonomi global.
Kebiasaan membaca tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memahami dinamika perekonomian dunia secara lebih menyeluruh.
Purbaya menilai bahwa membaca langsung dari sumber luar negeri seringkali memberinya pemahaman yang lebih jernih dibandingkan hanya mendengarkan pendapat para ekonom dalam negeri yang menurutnya kadang membingungkan.
Sekilas tentang Profil Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya Yudhi Sadewa lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 7 Juli 1964.
Saat ini, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Merah Putih, menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Sebelum menduduki jabatan ini, Purbaya telah lama malang melintang di berbagai posisi strategis pemerintahan, di antaranya sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Selain itu, ia juga pernah mengemban sejumlah jabatan penting lainnya, seperti:
• Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Mei 2018–September 2020)
• Staf Khusus Bidang Ekonomi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Juli 2016–Mei 2018)
• Staf Khusus Bidang Ekonomi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (November 2015–Juli 2016)
• Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis di Kantor Staf Presiden (April 2015–September 2015)
• Staf Khusus Bidang Ekonomi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (2010–2014)
• Anggota Komite Ekonomi Nasional (2010–2014)
Selain itu, ia juga pernah menjadi Wakil Ketua Satgas Penanganan dan Penyelesaian Kasus (Debottlenecking) atau “Pokja IV” di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sejak Juni 2016 hingga sekarang, serta aktif sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) sejak 2016 dan Anggota Indonesia Economic Forum sejak 2015. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim