Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Soal Dugaan Keracunan Makanan dan Manu MBG yang Disajikan Basi, Anggota DPR RI Achmad Ruyat Minta BGN dan BPOM Perketat Pengawasan

Alpin. • Jumat, 19 September 2025 | 20:12 WIB
Anggota Komisi IX DPR RI Achmad Ru’yat saat sosialisasi program MBG dilaksanakan di SDIT Alkautsar, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu.
Anggota Komisi IX DPR RI Achmad Ru’yat saat sosialisasi program MBG dilaksanakan di SDIT Alkautsar, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu.

RADAR BOGOR - Dugaan proses produksi food tray program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga mengandung minyak babi terus menuai sorotan masyarakat.

Meski Badan Gizi Nasional (BGN) telah menegaskan material food tray tidak mengandung minyak babi, namun polemik ini masih berkembang di masyarakat.

BGN menegaskan material food tray tidak mengandung minyak babi dan sudah melalui proses pencucian hingga steril.

Tidak hanya itu, kasus dugaan keracunan MBG yang dialami siswa, juga mendapat sorotan

BGN dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) diminta lakukan evaluasi agar kasus dugaan keracunan MBG ini tidak terjadi lagi.

Anggota DPR RI, drh. H. Achmad Ru'yat, M.Si mengatakan, BGN dan BPOM harus benar-benar memastikan MBG aman dan higienis, sehingga layak dikonsumsi siswa, ibu hamil dan menyusui.

Achmad Ru'yat menjelaskan, BPOM yang memiliki kompetensi dan SDM harus melakukan pengawasan agar kualitas makanan bergizi gratis ini benar-benar terjamin.

Kepala BGN menyebutkan MBG tetap dilaksanakan saat Ramadhan.
Kepala BGN menyebutkan MBG tetap dilaksanakan saat Ramadhan.

Begitu juga dengan dugaan material food tray yang mengandung minyak babi, harus dipastikan BPOM bahwa itu tidak ada agar masyarakat tidak dirugikan.

Apalagi, MBG ini merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yang harus disukseskan pemerintah dan masyarakat.

"Jangan sampai makanan yang disajikan itu basi. Apalagi sampai menyebabkan keracunan. Ini sangat berbahaya," tegas politisi PKS ini.

Dia mencontohkan kasus keracunan MBG yang terjadi di Kota Bogor, beberapa waktu lalu. "Kasus seperti ini jangan sampai terjadi lagi," terangnya.

Untuk transparansi program MBG ini, sambungnya, siswa atau guru jangan takut memfoto atau memperlihakan menu apa saja yang mereka terima.

Jangan sampai menu MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan pemerintah.

Sementara kasus dugaan keracunan MBG ini, bukan hanya terjadi di Kota Bogor, tapi juga dialami siswa di beberapa daerah.

Seperti di Garut, Jawa Barat, sebanyak 569 siswa mengalami gejala muntah, mual, dan diare usai menyantap menu MBG, Jumat 19 September 2025.

Selain di Garut, 230 siswa juga mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah.

Setidaknya 44 dari 230 siswa tersebut masih mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Trikora Salakan, Kabupaten Banggai Kepulauan.

Sedangkan di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menu MBG yang dibagikan kepada siswa ditemukan basi pada Selasa 16 September 2025.

Bahkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mewakili pemerintah dan BGN harus menyampaikan permohonan maaf, atas masih terjadinya kasus keracunan MBG di banyak daerah.

Prasetyo mengatakan, kasus keracunan MBG terhadap para siswa, tentu tidak diinginkan pemerintah dan masyarakat.

"Kami atas namanya pemerintah dan mewakili Badan Gizi Nasional, memohon maaf karena telah terjadi kembali beberapa kasus di beberapa daerah," ujarnya kepada awak media di Jakarta, Jumat 19 September 2025.(pin/**)

Editor : Alpin.
#bpom #Makan Bergizi Gratis #Mbg #BGN