RADAR BOGOR - Banyak yang beranggapan, menderita tumor otak sudah tidak bisa melakukan apapun.
Namun, rupayanya hal tersebut tidak sepenuhnya demikian, seperti yang dialami Endi Biaro.
Suatu waktu, salah satu junior Endi Biaro langsung berurai air mata saat mendengar kabar seniornya menderita tumor otak.
Saat itu, sang junior langsung mendatangi rumah Endi Biaro.
Bahkan, langsung bertemu dengan istri Endi Biaro yang kemudian sama-sama histeris.
Selanjutnya, mereka masuk teras rumah.
Sang junior terkejut sebab melihat Endi Biaro sedang membaca buku sambil duduk santai.
Dalam bayangannya, Endi Biaro telah tergeletak tidak berdaya dan lumpuh.
Endi Biaro mengungkapkan, tidak sedikit orang langsung heran.
Ya, kata Endi Biaro, pasien tumor otak yang telah dijadwalkan operasi, namun masih dapat beraktivitas bugar.
Penyakit ini, kata Endi Biaro, dalam pikiran masyarakat awal mengerikan.
Berbagai kisah mengenai tumor otak beredar di berbagai kalangan masyarakat, sehingga penyakit tersebut dianggap horor.
Endi Biaro menjelaskan, dirinya belum merasakan gangguan hebat akibat penyakit tersebut.
Namun, ada gejala sesaat yakni lidah agak kelu ketika berbicara atau terasa kesemutan pada tangan kanan.
Kendati demikian, potensi daya rusaknya akan fatal.
Sehingga dokter, atas persetujuan dirinya memutuskan untuk melakukan operasi.
Jika tidak dioperasi, seperti memelihara monster.
Sebab, tumor tersebut terus membesar sehingga menekan fungsi vital serta merusak jaringan saraf tubuh.
Sedangkan, berbagai obat cuma dapat menahan sementara, bukan menghilangkan sumber masalah.
Termasuk, jalur operasi pun tidak menjamin 100 persen, karena ada risiko.
"Pertarungan terjadi di sini, sehingga saya tidak boleh lemah harus kuat," tuturnya.
Endi Biaro menambahkan, fisiknya seperti hati, jantung, paru-paru hingga darah telah diperiksa dicek dan seluruhnya normal.
Menurut Endi Biaro, saat itu rekam medis tak menunjukkan hal aneh.
Apalagi, Endi Biaro tidak alergi terhadap obat.
Lebih lanjut ia mengatakan, kekuatan tersebut merupakan modal menghadapi meja operasi.
Yang menjadi pendukung lainnya, letak tumor Endi Biaro tak ada di batang otak atau dekat organ vital, namun sisi kiri serta tak terlalu dalam.
Selanjutnya, sambung Endi Biaro, teknologi kedokteran telah lebih maju dibandingkan 10 atau 15 belas tahun silam.
Intinya, jelas Endi Biaro, harapan terus dikuatkan.
Ya, Endi Biaro memilih untuk tak depresi jelang operasi.
Apalagi, para kerabat, teman bahkan pimpinan Endi Biaro terus mendukung dan menyemangati.
"Mudah-mudahan, saya selamat melampaui semua ini, Insya Allah," pungkas Endi Biaro. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim