RADAR BOGOR - Yakobus Yamtop (49), pemilik usaha tepung Sagu Dwitrap di Distrik Tanah Miring, Merauke begitu antusias menyambut kedatangan Tim Ekspedisi Patriot IPB University.
Ia terlihat tak sabar untuk mengenalkan pabrik pengolahan Sagu Dwitrap yang serba semi-mekanisnya itu kepada Tim Ekspedisi Patriot IPB University yang dipimpin Ratih Kemala Dewi.
Siang hari itu, Rabu 1 Oktober 2025, Yakobus membawa para patriot transmigrasi ke rumah produksi Sagu Dwitrap.
Dengan bangganya, ia bercerita panjang lebar tentang perjalanan pabrik Sagu Dwitrap dan bagaimana pengolahannya.
“Pabrik sagu Dwitrap mampu mengolah 2-3 pohon dalam satu minggu. Jumlah ini lebih sedikit dibanding empat tahun lalu sebelum pandemi Covid-19," katanya.
"Dulu waktu 2018-2021, kami punya permintaan (tepung sagu) cukup banyak. Sebulan bisa untung Rp30 juta yang dikerjakan bersama 25 karyawan,” cerita Yakobus.
Baca Juga: Momen Haru! Bertrand Peto Selalu Ingatkan Ruben Onsu Shalat, Support Penuh Meski Beda Agama
Bukan hanya permintaan yang turun, tapi alat-alat pengolahan sagunya juga sudah memasuki masa udzur.
Menurut Yakobus, perlu ada peremajaan untuk membantu meningkatkan produksi sagu, terlebih ketika sewaktu-waktu banyak permintaan.
Perjalanan Yakobus Mengolah Sagu
Jauh sebelum menjadi pengusaha sagu, ia sempat mencoba peruntungan usaha padi. Pada 2003 ia membuka lahan sawah seluas satu hektare, tapi gagal karena kekurangan air.
Berbekal pengetahuan dari orang tuanya, ia banting setir mengolah sagu pada 2007 hingga sekarang.
Awalnya, Yakobus hanya mengandalkan metode pengolahan sagu tradisional dengan cara memangkur.
Setelah mendapat bantuan dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Merauke, ia mulai mengolah sagu dengan menggunakan teknologi mesin listrik. Perubahan cara pengolahan ini menjadi inspirasi Yakobus menamai usahanya "Dwitrap".
“Dwitrap itu dialek Boven Digoel (salah satu kabupaten di Papua Selatan) yang berarti rumah sagu. Dalam artian lain, Dwi adalah dua, sedangkan trap adalah tangga. Jadi pengertiannya, tangga pertama kita tokok dan manual, tangga kedua sudah punya mesin,” ungkapnya.
Yakobus bekerja sama dengan para petani sagu di lima kampung di Distrik Tanah Miring, yaitu Kampung Kamangi, Tambat, Sarmayam 1, Sarmayam 2, dan Erom Senayu.
Biasanya, petani datang ke rumah produksi untuk mengecek ketersediaan sagu: masih ada atau sudah mulai habis. Jika pasokannya mulai menipis, petani akan menebang 10-15 pohon, lalu dihanyutkan lewat Kali Maro.
“harga satu batang utuh sekitar Rp300-500 ribu, tergantung panjangnya. Nanti kami potong-potong sendiri. Biaya transportasinya Rp100 ribu/pohon. Satu batang sagu menghabiskan modal Rp1.300.000. Itu sudah termasuk mesin, bahan bakar, dan makan dua hari,” ujarnya.
Dalam satu batang bisa menghasilkan 480 kg sagu basah atau sekitar 200 kg sagu kering. Yakobus menjual 1 kg sagu kering Rp20.000, sedangkan sagu basahnya dibanderol Rp10.000.
Sagu milik Yakobus dipasarkan di toko-toko kuliner, sebagiannya lagi untuk acara-acara adat. Belum ada produk turunan sagu selain tepung yang dipasarkan pria asal Boven Digoel itu.
Sejauh ini, usaha sagu masih menguntungkan bagi Yakobus Yamtop, meski perjuangannya tidak mudah.
“Mengolah sagu ini susah-susah gampang. Perlu niat serius jika ingin terjun menjadi pengusaha sagu. Kalau punya niat betul-betul boleh (membuka usaha produksi sagu),” katanya memberi pesan.
Kunjungan Tim Ekspedisi Patriot IPB University ke pabrik Sagu Dwitrap merupakan bagian dari riset lapangan untuk desain pengembangan komoditas unggulan spesifik kawasan transmigrasi Salor.
Melalui pendekatan ilmiah dan empati sosial, tim berupaya menjembatani nilai tradisi dan inovasi agar sagu tetap lestari sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. (***)
Editor : Yosep Awaludin