RADAR BOGOR - Satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran membuka babak baru dalam pembangunan dengan fokus pada kedaulatan pangan dan pemerataan gizi.
R Haidar Alwi, Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) mengatakan, keberhasilan dua program utama, Swasembada Pangan dan Makan Bergizi Gratis (MBG), menunjukkan arah kebijakan negara mulai kembali ke semangat berdikari yang dicanangkan para pendiri bangsa.
"Namun yang menarik, salah satu aktor kunci di balik keberhasilan awal dua program tersebut bukan dari kementerian teknis semata, melainkan lembaga keamanan: Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo," tutur Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB itu, Minggu 19 Oktober 2025.
Peran polri dalam mewujudkan swasembada pangan menunjukkan pergeseran paradigma bahwa keamanan nasional tidak lagi hanya menjaga ketertiban masyarakat, tetapi juga memastikan ketahanan pangan sebagai bagian dari stabilitas sosial-ekonomi.
Polisi melihat dirinya sebagai penggerak produktivitas bangsa, bukan hanya penegak hukum.Inovasi yang dibuat oleh Polri menunjukkan pendekatan ilmiah dan kerja sama.
Hasil panen melonjak dari sebelumnya hanya 4 ton per hektare menjadi rata-rata 9–14 ton per hektar berkat penggunaan pupuk teknologi MIGO Presisi Bhayangkara dan bibit unggul hibrida P27.
Haidar Alwi menyatakan bahwa angka-angka ini lebih dari sekadar statistik; mereka menunjukkan efisiensi dan kemandirian baru dalam sektor pertanian, yang selama ini terjebak dalam ketergantungan terhadap impor.
Peningkatan efisiensi lahan bukanlah satu-satunya tujuan polisi; upaya tersebut juga mencakup pengembangan keterampilan manusia dan pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan.
Rekrutmen bintara khusus pertanian adalah contoh nyata bagaimana profesionalisme kepolisian bekerja sama dengan peningkatan sumber daya pertanian nasional.
Haidar Alwi menyatakan bahwa mereka tidak hanya penegak hukum, tetapi juga pendamping dan penggerak masyarakat desa untuk memanfaatkan potensi lahan dengan pendekatan ilmiah.
Selain itu, polisi berkolaborasi dengan perguruan tinggi seperti Universitas Sriwijaya dan Universitas Lambung Mangkurat, menunjukkan bahwa kebijakan tersebut berpusat pada penelitian dan inovasi.
Dari pengolahan enceng gondok hingga penggunaan pupuk organik hemat biaya hingga mengoptimalkan penggunaan lahan gambut berasam tinggi di Kalimantan Selatan
Haidar Alwi menyatakan bahwa inisiatif ini menunjukkan kemampuan Polri untuk merancang strategi lintas sektor.
Selain itu, Polri telah memperkenalkan teknologi yang efisien dan berkelanjutan seperti Pompa Air Tenaga Surya yang dibuat dengan panel surya dan Watergen yang menghasilkan air bersih dari udara.
Inovasi ini menunjukkan bahwa modernisasi sektor pertanian dapat berjalan seiring dengan prinsip ramah lingkungan.
Tidak perlu mengabaikan dukungan infrastruktur juga. Salah satu tonggak penting dalam sistem logistik pangan nasional adalah pembangunan 18 gudang ketahanan pangan Polri yang berlokasi di dua belas provinsi dan memiliki kapasitas total 18.000 ton.
"Gudang-gudang ini bukan hanya fasilitas penyimpanan, tetapi juga simpul distribusi yang menjamin pasokan dan harga bahan pangan stabil di seluruh wilayah Indonesia," kata Haidar Alwi.
Peran Kepolisian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga sangat besar. Polri berhasil menjangkau sekitar 2,35 juta penerima manfaat melalui penciptaan 672 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang juga mempekerjakan lebih dari 33 ribu orang.
Hasil ini menunjukkan kemampuan institusi keamanan Polri untuk menggerakkan ekonomi rakyat.
Selain itu, dari target 1.000 hingga 1.500 SPPG Polri, 159 telah beroperasi penuh dan ratusan lainnya sedang dalam pembangunan, menunjukkan bahwa tidak ada satu pun kasus keracunan MBG yang berasal dari mereka.
"Capaian ini tidak hanya menunjukkan kecepatan eksekusi, tetapi juga kemampuan Polri mengintegrasikan sistem logistik, produksi, dan distribusi pangan secara efisien," kata Haidar Alwi.
Rockefeller Foundation telah memberikan apresiasi internasional terhadap inovasi SPPG Polri. Ini menunjukkan bahwa pendekatan Polri dalam program MBG telah melampaui batas sektoral dan telah berkembang menjadi model pengelolaan sosial-ekonomi yang terintegrasi berbasis keamanan pangan.
Menurutnya, hal ini sekaligus menjadi simbol diplomasi Indonesia di bidang ketahanan pangan global, menunjukkan bahwa stabilitas nasional dapat tumbuh dari kepedulian terhadap perut rakyat.
Satu tahun telah berlalu, Swasembada Pangan dan MBG menunjukkan bagaimana pemerintahan Prabowo-Gibran memperhatikan rakyat kecil dan menunjukkan aspek baru dari peran Polri.
Di bawah pimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Polri menjadi pilar produktif yang menjamin ketersediaan pangan, membuka lapangan kerja, dan memperkuat fondasi kesejahteraan nasional, dan tidak lagi sekadar penjaga keamanan dan penegak hukum.
"Polri telah membuktikan dalam konteks ini bahwa keamanan sejati bukan hanya ketiadaan konflik, namun hadirnya kepastian pangan, gizi, dan harapan hidup yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia," tutur Haidar Alwi. (***)
Editor : Yosep Awaludin