RADAR BOGOR - Dubber senior Ika Zidane, sosok di balik karakter ikonik Ninja Hattori dan Doraemon versi Indonesia, dikabarkan meninggal dunia pada Senin, 20 Oktober 2025.
Kabar duka Ika Zidane ini pertama kali disampaikan komunitas Voice Over Dubber Announcer Indonesia (KVDAI) melalui unggahan di medsos mereka.
Kabar meninggalnya Ika Zidane dengan cepat menyebar di kalangan penggemar animasi dan pelaku industri hiburan.
Banyak yang merasa kehilangan atas kepergian Ika Zidane sosok yang selama puluhan tahun menghidupkan karakter-karakter animasi yang begitu melekat di ingatan masyarakat Indonesia.
Dikutip dari Instagram @kitabuku.id, Ika Zidane, yang memiliki nama asli Ika Swastika, dikenal sebagai salah satu pengisi suara paling berpengaruh di Indonesia.
Kariernya dimulai pada akhir tahun 1990-an, ketika dunia dubbing televisi Indonesia sedang berkembang pesat dengan masuknya berbagai tayangan kartun dan anime dari Jepang.
Suaranya yang khas, lembut namun ekspresif, membuatnya menjadi pilihan utama untuk karakter-karakter utama di berbagai serial animasi populer.
Salah satu peran paling dikenal dari Ika Zidane adalah Kanzo Hattori dalam animasi legendaris Ninja Hattori.
Melalui suaranya, karakter ninja kecil yang cerdas dan lucu itu menjadi begitu hidup di hati penonton Indonesia.
Selain itu, Ika juga dipercaya untuk mengisi suara Doraemon, kucing robot biru dari masa depan, dalam beberapa versi film dan tayangan televisi Indonesia, termasuk Stand by Me Doraemon.
Tak berhenti di situ, Ika Zidane juga mengisi suara berbagai karakter dalam serial lain seperti Digimon (Sora, Hikari, dan Renamon), Sailor Moon (Sailor Pluto), serta beberapa karakter dalam Crayon Shinchan dan Detective Conan.
Dalam wawancara lamanya, Ika menyebutkan bahwa menjadi seorang dubber adalah pekerjaan yang penuh tantangan namun sangat memuaskan.
Ia mengaku bangga karena melalui suaranya, ia bisa membuat anak-anak tertawa, sedih, dan belajar nilai-nilai persahabatan dari tokoh-tokoh animasi yang dihidupkannya. Suara adalah jembatan emosi antara karakter dan penonton, ucapnya kala itu.
Banyak rekan sesame dubber yang turut menyampaikan duka mendalam. Melalui unggahan di media sosial, mereka mengenang Ika sebagai sosok yang rendah hati, dan disiplin.
Salah satu rekannya menulis. “Mbak Ika bukan hanya senior, tapi guru yang mengajarkan kami bagaimana memberi nyawa pada karakter lewat intonasi dan perasaan,” tulisnya.
Ika Zidane dikenal karena profesionalismenya di dunia voice acting. Ia sering terlibat dalam proyek-proyek besar, baik untuk televisi nasional maupun platform digital.
Selain itu, Ika juga aktif membagikan pengalamannya kepada generasi muda yang tertarik menjadi dubber profesional melalui workshop dan pelatihan.
Bagi banyak penonton yang tumbuh di era 1990-an hingga 2000-an, Suara Ika Zidane bukan sekedar bagian dari tontonan, melainkan bagian dari masa kecil yang penuh kenangan.
Suara Doraemon yang hangat dan lembut, atau Hattori yang ceria dan enerjik, menjadi ikon yang membekas dalam memori.
Dalam dunia yang serba visual, suara mereka menjadi elemen penting yang membentuk karakter dan emosi dalam sebuah cerita.
Nama Ika Zidane kini disejajarkan dengan para dubber legendaris Indonesia lainnya seperti Dora Sumbang dan Maria Oentoe.
Walaupun telah tiada, warisan Ika Zidane akan terus hidup melalui suara-suara yang terekam abadi di berbagai tayangan. akan selalu ada jejak suara Ika Zidane yang mengingatkan penonton pada sosoknya.
Ia telah meninggalkan karya yang tak lekang oleh waktu, sekaligus teladan bagi para pengisi suara muda Indonesia. (Alya/BSI)
Editor : Yosep Awaludin