RADAR BOGOR - Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menilai, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi di era digital memunculkan pola baru dalam proses radikalisasi.
Ia menyebut banyak pelaku teror kini lahir dari proses self-indoctrinization atau indoktrinasi diri sendiri melalui media daring.
Hal ini diungkapkan menanggapi aksi kekerasan diberbagai tempat yang diduga berasal dari paham ekstrim.
Beberapa waktu lalu polisi juga menyita buku dari terduga pelaku penghasutan demo akhir Agustus.
“Pelaku teror sekarang muncul lewat dua tahap, self-indoctrinization dan self-recruitment. Mereka belajar sendiri dari berbagai sumber di media sosial, tanpa harus direkrut langsung oleh jaringan teror,” kata Reza.
Menurutnya, kemudahan akses informasi membuat seseorang bisa mempelajari ideologi ekstrem hingga cara membuat bom hanya lewat internet.
Kondisi itu menyulitkan aparat penegak hukum, termasuk kepolisian, untuk melakukan deteksi dini dan profiling terhadap calon pelaku.
“Dua tahap ini membuat otoritas hukum kesulitan mengenali potensi pelaku. Mereka tidak lagi melalui proses rekrutmen tradisional, tapi berkembang secara mandiri di ruang digital,” ujarnya.
Reza mencontohkan langkah antisipatif yang dilakukan di Inggris, di mana sekolah-sekolah ikut memantau sejauh mana siswa terpapar paham ekstrem.
Dari hasil pemantauan, siswa diklasifikasi berdasarkan tingkat risiko: low risk, at risk, medium risk, dan high risk.
Ia menilai, pendekatan serupa penting diterapkan di Indonesia, terutama di lingkungan pendidikan. Pemantauan sejak dini akan membantu mencegah anak muda terpapar ideologi berbahaya. (uma)
Editor : Alpin.