Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Penyemprotan Abu Vulkanik Gunung Semeru di Gladak Perak Terkendala Jarak Sumber Air

Siti Dewi Yanti • Senin, 24 November 2025 | 03:25 WIB
Penyemprotan jalan dari abu Vulkanik Gunung Semeru.
Penyemprotan jalan dari abu Vulkanik Gunung Semeru.

RADAR BOGOR - Upaya pembersihan abu vulkanik sisa erupsi Gunung Semeru di kawasan Gladak Perak, jembatan penghubung Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, masih berlangsung hingga Minggu (23/11).

Kegiatan penyemprotan ini terus dilakukan untuk memastikan keamanan para pengguna jalan, meski prosesnya terhambat oleh jauhnya lokasi pengambilan air.

Tumpukan material abu vulkanik Semeru membuat jalur di sekitar Gladak Perak menjadi licin dan membahayakan kendaraan yang melintas.

Ketebalan abu vulkanik di beberapa titik bahkan mencapai sekitar 5 sentimeter.

Selain itu, aliran lahar dingin juga telah mencapai kawasan tersebut pada Sabtu (22/11) pagi, meski jaraknya sekitar 13 kilometer dari puncak gunung tertinggi di Jawa itu.

Zaenuri, Komandan Regu Damkar Lumajang, menyampaikan, jika penyemprotan tidak dilakukan kondisi jalan akan sangat berisiko bagi warga yang melintas.

Petugas saat ini membersihkan area dari arah Malang menuju Lumajang.

Namun, kendala utama adalah sumber air yang berada cukup jauh, yakni di Sumber Umbulan, Dusun Mulyoarjo, Desa/Kecamatan Pronojiwo, Lumajang.

Untuk menuju sumber air tersebut, petugas membutuhkan waktu sekitar 39 menit dari Gladak Perak, sehingga membuat proses pembersihan berjalan lebih lambat.

Tanaman Warga Juga Terdampak

Erupsi Semeru pada Rabu (19/11) tidak hanya merusak puluhan rumah dan menyebabkan ratusan hewan ternak milik warga di Dusun Gumukmas dan Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, meninggal.

Dampaknya juga meluas hingga ke lahan pertanian, termasuk tanaman lombok, tomat, dan padi yang tertutup abu vulkanik.

Tanaman lombok dan tomat menjadi yang paling terkena imbas. Ribuan tanaman milik Imron Rosidi, warga Sumbersari, mengalami kerusakan karena daun dan buahnya tertutup abu.

Imron menyampaikan, pihaknya harus menyemprot tanamannya menggunakan air dari tangki agar tidak rusak, mengingat abu yang dibiarkan menempel dapat menyebabkan pembusukan.

Tanamannya baru berumur sekitar 45 hari, sementara masa panen umumnya terjadi pada usia 90 hari.

Nasib lebih buruk dialami Yuliani, warga Dusun Gumukmas.

Tanaman lombok miliknya hilang sepenuhnya setelah tersapu lahar dingin pada saat erupsi terjadi. (dea/jum/ttg)

Editor : Siti Dewi Yanti
#abu vulkanik #gunung #semeru #lumajang