RADAR BOGOR - Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh menciptakan penderitaan mendalam bagi warga setempat.
Salah satu yang merasakan langsung dahsyatnya musibah tersebut adalah Nanda Mardika Putra, ketika kampungnya dihantam banjir bandang.
Dalam kejadian itu, air bercampur lumpur disertai gelondongan kayu yang terbawa arus menerjang deras tempat tinggalnya.
Namun, Nanda dan keluarganya dapat menyelamatkan diri.
Demi mencari tempat yang lebih aman, Nanda bersama rombongan terpaksa berjalan kaki selama 12 jam tanpa henti.
Nanda Mardika Putra menjelaskan bahwa usai banjir bandang, ia bersama beberapa saudara bertolak dari kawasan Takengon menuju Lhokseumawe pada Kamis, 27 November 2025 pukul 15.00 WIB.
Baca Juga: The Nice Playland Gunung Geulis Bogor Tawarkan Wahana Seru, Harga Terjangkau untuk Keluarga
“Satu tim ada tujuh orang,” ungkapnya kepada Radar Bogor, Selasa 2 Desember 2025.
Dengan bermodal nekat karena seluruh akses tertutup dan tak bisa dilewati kendaraan, mereka memutuskan berangkat dengan berjalan kaki sambil mencari berbagai jalan pintas.
Saat tiba di kawasan KM 92 Takengon, perjalanan kembali terhambat akibat ban alat berat yang digunakan untuk membersihkan jalan mengalami bocor.
Kondisi tersebut membuat akses sama sekali tidak dapat dilewati.
Jalan yang mereka tempuh penuh lumpur akibat banjir dan longsor.
Bahkan, beberapa titik dilaporkan jembatan juga terputus.
Perjalanan kembali terhenti di kawasan Pondok Baru.
Aparat kepolisian di lokasi menyampaikan, jalur benar-benar tidak dapat dilalui.
Meski begitu, Nanda dan rombongan tak putus asa terus mencari alternatif lain hingga akhirnya memutuskan bermalam di salah satu masjid.
Selama perjalanan, kondisi gelap gulita dan tidak adanya jaringan komunikasi sama sekali menambah tekanan mental.
Akses jalan pun dikelilingi kawasan rawan yang banyak dihuni hewan liar.
Baca Juga: Hwasa Pecahkan Rekor, Lagu Solonya Berjudul Good Goodbye Sabet Perfect All Kill Pertama Tahun 2025
Mereka bahkan terpaksa berjalan tanpa alas kaki akibat semua jalur dipenuhi lumpur.
Tanpa mempedulikan duri tajam maupun bahaya lainnya, Nanda dan rombongan terus berjalan kaki tanpa henti.
Warga yang mereka temui di perjalanan sempat memperingatkan agar berhati-hati, karena ada rombongan gajah liar yang melintas di sekitar jalur tersebut.
Hanya mengandalkan bekal seadanya seperti roti, Nanda dan rombongan melanjutkan perjalanan kaki dengan waktu istirahat sangat singkat, sekitar 5 hingga 10 menit tanpa tidur.
Mereka sengaja membawa tali untuk mengantisipasi medan ekstrem selama perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan panjang selama 12 jam, sekitar pukul 03.00 WIB Nanda dan rombongan akhirnya tiba di Lhokseumawe dan akhirnya bisa berkomunikasi dengan keluarga lainnya.
Kepada Radar Bogor, Nanda mengaku, ia mendapat informasi dari rekannya mengenai adanya aksi penjarahan minimarket di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah akibat minimnya logistik pascabencana.
Ia menambahkan, ada desa di kawasan Gajah Putih dan Langkahan hilang karena diterjang banjir dan longsor.
Teuku Anwar salah satu kerabat Nanda yang ada di Kota Bogor mengungkapkan, sempat khawatir sebab tidak bisa berkomunikasi dengan saudara-saudaranya di Aceh.
Apalagi, kata Anwar, kondisi di sekitar lokasi bencana sangat ekstrem dan membahayakan.
Namun, pria yang merupakan Ketua FMP (Festival Merah Putih) tahun 2021 ini akhirnya setelah beberapa hari dapat menghubungi kerabat di Aceh. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim