Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Haru Nanda Mardika Putra Bertahan 12 Jam Jalan Kaki Setelah Banjir Bandang dan Longsor Terjang Aceh

Lucky Lukman Nul Hakim • Selasa, 2 Desember 2025 | 09:35 WIB

GELAP : Nanda Mardika Putra saat berjalan kaki 12 jam tanpa henti pasca banjir dan longsor di Aceh.
GELAP : Nanda Mardika Putra saat berjalan kaki 12 jam tanpa henti pasca banjir dan longsor di Aceh.

RADAR BOGOR - Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh menciptakan penderitaan mendalam bagi warga setempat.

Salah satu yang merasakan langsung dahsyatnya musibah tersebut adalah Nanda Mardika Putra, ketika kampungnya dihantam banjir bandang.

Dalam kejadian itu, air bercampur lumpur disertai gelondongan kayu yang terbawa arus menerjang deras tempat tinggalnya.

Baca Juga: Pencairan Bansos Awal Desember 2025 Mulai Mengalir: PKH, BPNT, BLT Rp900 Ribu dan Penebalan Rp400 Ribu Masuk Serentak

Namun, Nanda dan keluarganya dapat menyelamatkan diri.

Demi mencari tempat yang lebih aman, Nanda bersama rombongan terpaksa berjalan kaki selama 12 jam tanpa henti.

Nanda Mardika Putra menjelaskan bahwa usai banjir bandang, ia bersama beberapa saudara bertolak dari kawasan Takengon menuju Lhokseumawe pada Kamis, 27 November 2025 pukul 15.00 WIB.

Baca Juga: The Nice Playland Gunung Geulis Bogor Tawarkan Wahana Seru, Harga Terjangkau untuk Keluarga

“Satu tim ada tujuh orang,” ungkapnya kepada Radar Bogor, Selasa 2 Desember 2025.

Dengan bermodal nekat karena seluruh akses tertutup dan tak bisa dilewati kendaraan, mereka memutuskan berangkat dengan berjalan kaki sambil mencari berbagai jalan pintas.

Saat tiba di kawasan KM 92 Takengon, perjalanan kembali terhambat akibat ban alat berat yang digunakan untuk membersihkan jalan mengalami bocor.

Baca Juga: KPM Peralihan Terima Banyak Saldo Bantuan, 4 Bansos Cair Sekaligus Sejak Kemarin Melalui KKS Baru Bank Mandiri

Kondisi tersebut membuat akses sama sekali tidak dapat dilewati.

Jalan yang mereka tempuh penuh lumpur akibat banjir dan longsor.

Baca Juga: Nikmati Kuliner Sentul dengan Cita Rasa Jawa di Warung Temon, Pasar Ahpoong, Punya Nuansa Pedesaan Jawa yang Estetik

Bahkan, beberapa titik dilaporkan jembatan juga terputus.

Perjalanan kembali terhenti di kawasan Pondok Baru.

Aparat kepolisian di lokasi menyampaikan, jalur benar-benar tidak dapat dilalui.

Baca Juga: Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Larang Penebangan Hutan di Jabar, Siapkan Moratorium untuk Cegah Bencana

Meski begitu, Nanda dan rombongan tak putus asa terus mencari alternatif lain hingga akhirnya memutuskan bermalam di salah satu masjid.

Selama perjalanan, kondisi gelap gulita dan tidak adanya jaringan komunikasi sama sekali menambah tekanan mental.

Akses jalan pun dikelilingi kawasan rawan yang banyak dihuni hewan liar.

Baca Juga: Hwasa Pecahkan Rekor, Lagu Solonya Berjudul Good Goodbye Sabet Perfect All Kill Pertama Tahun 2025

Mereka bahkan terpaksa berjalan tanpa alas kaki akibat semua jalur dipenuhi lumpur.

Tanpa mempedulikan duri tajam maupun bahaya lainnya, Nanda dan rombongan terus berjalan kaki tanpa henti.

Warga yang mereka temui di perjalanan sempat memperingatkan agar berhati-hati, karena ada rombongan gajah liar yang melintas di sekitar jalur tersebut.

Hanya mengandalkan bekal seadanya seperti roti, Nanda dan rombongan melanjutkan perjalanan kaki dengan waktu istirahat sangat singkat, sekitar 5 hingga 10 menit tanpa tidur.

Baca Juga: Hiatus 2 Tahun 7 Bulan, Akhirnya VERIVERY Resmi Comeback dengan Album ‘Lost and Found’, Transformasi Musik dan Visual Lebih Kuat

Mereka sengaja membawa tali untuk mengantisipasi medan ekstrem selama perjalanan.

Setelah menempuh perjalanan panjang selama 12 jam, sekitar pukul 03.00 WIB Nanda dan rombongan akhirnya tiba di Lhokseumawe dan akhirnya bisa berkomunikasi dengan keluarga lainnya.

Baca Juga: Enam Info Bansos 1 sampai 10 Desember 2025: Buka Peluang Warga Jadi KPM Baru untuk Masuk Kuota dan Dapat Bantuan hingga Batas Waktu Graduasi Mandiri

Kepada Radar Bogor, Nanda mengaku, ia mendapat informasi dari rekannya mengenai adanya aksi penjarahan minimarket di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah akibat minimnya logistik pascabencana.

Ia menambahkan, ada desa di kawasan Gajah Putih dan Langkahan hilang karena diterjang banjir dan longsor.

Teuku Anwar salah satu kerabat Nanda yang ada di Kota Bogor mengungkapkan, sempat khawatir sebab tidak bisa berkomunikasi dengan saudara-saudaranya di Aceh.

Baca Juga: Waroeng Iga Sedjahtera Cibinong Diburu Penikmat Kuliner, Sajikan Iga Bakar Jumbo hingga Sate Maranggi Lumer

Apalagi, kata Anwar, kondisi di sekitar lokasi bencana sangat ekstrem dan membahayakan.

Namun, pria yang merupakan Ketua FMP (Festival Merah Putih) tahun 2021 ini akhirnya setelah beberapa hari dapat menghubungi kerabat di Aceh. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#lhokseumawe #bogor #longsor #banjir #aceh