Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sidak ke DAS Batang Toru, Menteri LH Hanif Faisol Temukan Tiga Sumber Utama yang Memperparah Banjir di Sumatera

Yosep Awaludin • Sabtu, 6 Desember 2025 | 12:27 WIB
Kondisi serpihan batang kayu yang terbawa banjir bandang di DAS Batang Toru, Sumatera.
Kondisi serpihan batang kayu yang terbawa banjir bandang di DAS Batang Toru, Sumatera.

RADAR BOGOR - Dua perusahaan yang beroperasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, PT Agincourt Resources dan PT NSHE, disidak Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) Hanif Faisol, Jumat 5 Desember 2025.

Sidak tersebut merupakan bagian dari kunjungan Hanif Faisol ke daerah di Sumatra Utara (Sumut) yang terkena dampak banjir dan longsor.

Hanif Faisol menjelaskan bahwa sidak dilakukan setelah pantauan udara menunjukkan ada perubahan bentang alam yang diduga berkontribusi pada tingkat banjir yang tinggi di daerah tersebut. Dia menyatakan bahwa banjir di Batang Toru diperparah oleh setidaknya tiga sumber utama.

"Dari peninjauan udara, kami mengidentifikasi sedikitnya tiga sumber utama yang memperparah banjir, kegiatan hutan tanaman industri, pembangunan listrik tenaga air yang besar, dan aktivitas penambangan emas di DAS Batang Toru. Semua ini memberi kontribusi besar terhadap tekanan lingkungan," katanya.

Ia menyatakan bahwa aktivitas skala besar tersebut telah menunjukkan peningkatan tekanan pada DAS Batang Toru, terutama dalam kondisi curah hujan ekstrem yang telah meningkat belakangan ini.

Ia menjelaskan bahwa identifikasi awal dilakukan melalui kombinasi pantauan udara dan pemeriksaan langsung di lapangan di lokasi yang dianggap meningkatkan beban limpasan air.

Banyak lahan pertanian, baik kering maupun basah, memperburuk kondisi di hulu DAS. Ini mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air hujan.

"KLH kini melakukan verifikasi lapangan secara menyeluruh untuk memastikan seluruh temuan dapat diikuti dengan tindakan korektif yang presisi," terangnya.

Ia menegaskan bahwa pemulihan lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi harus mempertimbangkan ekosistem secara keseluruhan, bukan hanya sebagian.

Pola curah hujan ekstrim sebesar 250–300 mm juga harus menjadi acuan baru dalam perencanaan dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Semua hasil ini harus dievaluasi dalam konteks lanskap yang tidak berubah. Menurutnya, KLH akan meninjau kembali semua persetujuan lingkungan yang berlaku di DAS Batang Toru karena intensitas hujan saat ini meningkat secara signifikan.

Menurut Hanif, KLH juga akan meningkatkan pengawasan terhadap operasi pemanfaatan ruang di daerah rawan banjir dan longsor, termasuk dua bisnis yang mendapat sidak.

Semua aktivitas di lereng curam, hulu DAS, dan alur sungai akan dievaluasi ulang untuk kesesuaian tata ruang dan izin lingkungan.

Menurutnya, jika ditemukan pelanggaran yang berpotensi meningkatkan risiko bencana, penegakan hukum akan dilakukan.

"Kami akan melakukan verifikasi lebih lanjut terhadap bisnis lain yang terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap tekanan lingkungan, yang turut memperparah bencana banjir dan longsor di Sumatera," tegasnya. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#sumatera #Hanif Faisol #batang toru