Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Hari ke 10 Pasca Diterjang Bencana Banjir Bandang dan Longsor, Wilayah Tapanuli Tengah Mengalami Krisis Air Bersih

Muhamad Rifki Fauzan • Minggu, 7 Desember 2025 | 21:16 WIB
Kondisi Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pasca diterjang bencana hebat 10 hari lalu, kini warga mengalami krisis air bersih.
Kondisi Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pasca diterjang bencana hebat 10 hari lalu, kini warga mengalami krisis air bersih.

RADAR BOGOR - Penderitaan warga Tapanuli Tengah, Sumatera Utara belum berakhir. Pasca diterjang bencana hebat 10 hari lalu, mereka kini mengalami krisis air bersih.

Bagi warga yang tidak memiliki ekonomi cukup, air hujan jadi harapan satu-satunya. Aliran air sungai, sudah tak lagi dilirik karena kondisinya keruh.

“Warnanya masih keruh jadi memang tidak layak dikonsumsi. Airnya juga kadang-kadang naik ke pemukiman, meski ga se parah banjir kemarin,” kata Relawan SalamAid, Sufian.

Sufian sendiri sudah hampir sepekan di Tapanuli Tengah. Keluhan warga sudah jadi makanannya saban hari. Tak banyak, mereka hanya kepingin kampungnya kembali pulih.

Pasokan air bersih jadi salah satu kebutuhan paling mendesak. Warga yang memiliki ekonomi cukup, biasanya membeli dengan membawa satu galon di lengannya.

“Ada kaya semacam pick up gitu, biasanya warga bawa galon. Satu galon harganya 3 sampai Rp5 ribu. Itu posisinya di pinggir jalan,” kata Sufian saat dihubungi Radar Bogor.

Bagi warga yang tinggal di pelosok, mereka harus rela jalan kaki hampir 2 Km jaraknya. Belum lagi, beban galon di pundak yang beratnya sekira 5Kg.

Fenomena itu kerap disaksikan Sufian tiap hari. Tidak memandang gender, semua mengalami nasib serupa. Punggung mereka tak pernah lepas dari galon.

“Air itu biasanya di masak untuk minum, atau untuk sekedar bersih-bersih. Jadi disini lumpur masih ada, karena mau bersih-bersih juga kan susah,” terang Sufian.

Namun warga Tapanuli Tengah kini sudah sedikit bernafas lega. Aliran listrik yang sebelumnya sempat padam, kini berangsur pulih kembali.

“Listrik sudah ada alhamdulillah sejak kemarin. cuma ada sesekali padam. Jadi belum sepenuhnya. Untuk antrean BBM juga berkurang juga,” beber Sufian.

Kondisi berbeda dialami oleh warga di Tamiang Aceh. Hingga kini, mobilitas mereka masih terganggu. Lumpur, bak lumut liar yang terus menggrogoti bangunan.

“Ada yang sampai ke atas genting lumpurnya. Jadi di lokasi ini, tertimpa banjirnya terakhir, Tapanuli dulu dua hari berikutnya baru Tamiang,” kata Fadilah Relawan SalamAid.

Tebalnya lumpur membuat sumur yang menjadi sumber air bersih warga tertutup. Mereka membersihkannya hanga dengan alat sederhana.

“Seadanya aja, ada yang pakai kayu terus serokan. Jadi disini juga sama kalau mau dibilang kekurangan air bersih krisisi juga,” pungkasnya.(bay)

Editor : Alpin.
#tapanuli tengah #krisis air bersih #banjir bandang #banjir sumatera