RADAR BOGOR – Tim Ekspedisi Patriot IPB University memaparkan hasil kajian pengembangan Kawasan Transmigrasi Kerang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, dalam kegiatan diseminasi di Ruang Rapat Diskominfo Kabupaten Paser, Senin 1 Desember 2025.
Pemaparan ini menjadi rangkaian akhir dari kegiatan riset lintas kampus yang melibatkan IPB University, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), dan Universitas Indonesia (UI).
Kegiatan Desiminasi oleh Tim IPB University itu dibuka oleh Kepala Bidang Transmigrasi Kabupaten Paser, Juhaeni.
Ia menegaskan pentingnya hasil penelitian tersebut bagi perumusan arah kebijakan daerah. Ia meminta seluruh temuan dapat dirumuskan menjadi rekomendasi yang aplikatif.
“Apa yang dihasilkan dalam penelitian dan pembahasan hari ini harus menjadi rekomendasi yang benar-benar bisa ditindaklanjuti secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam paparannya, perwakilan IPB University, Doni Sahat Tua Manalu, menjelaskan tim menggunakan sejumlah metode analisis.
Mulai dari Location Quotient (LQ), Analytical Hierarchy Process (AHP), analisis SWOT, pemetaan rantai pasok, hingga analisis finansial.
Hasilnya, tim menyusun strategi pengembangan kawasan berbasis penguatan agribisnis dari hulu hingga hilir.
“Ketersediaan benih, pupuk, dan alsintan adalah fondasi utama. Di sisi lain, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP) diperlukan untuk meningkatkan kualitas,” terangnya.
Untuk Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Keladen, pihaknya juga mengusulkan penerapan integrated farming system
Tim IPB University yang diwakili Laila Azizah Syukur menambahkan penetapan komoditas unggulan dilakukan melalui analisis kuantitatif dan diskusi kelompok terarah (FGD).
“Berdasarkan metode LQ dan AHP, terdapat tiga komoditas utama yang paling prospektif, yaitu kelapa sawit (perkebunan), pisang (hortikultura), dan jagung (tanaman pangan),” jelasnya.
Pada sektor perkebunan, Putri Nadira Gustina memaparkan kelapa sawit menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi kawasan.
“Produksi sawit menyumbang 92 persen dari total output sektor perkebunan di Kabupaten Paser. Namun produktivitas kebun rakyat masih rendah dan banyak petani terbatas modal, terutama dalam tiga tahun awal budidaya,” ungkapnya.
Sementara itu, Izzudin Haidar Al Qossam menjelaskan jagung berperan penting dalam ketahanan pangan daerah.
“Kontribusi jagung mencapai 91 persen di sektor pangan dan menjadi bahan baku utama pakan unggas. Pengolahannya juga relatif mudah,” ujarnya.
Pada sektor hortikultura, Farhan Fauzul Azhim menilai pisang memiliki peluang besar menjadi ikon kawasan.
Budidayanya mudah dan perputaran modal cepat, namun tantangannya adalah minimnya fasilitas pascapanen serta potensi serangan penyakit tanaman.
IPB University juga menghadirkan narasumber dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan, Rizki Amalia, yang menyoroti tingginya kontribusi sawit terhadap PDB pertanian dan penyerapan tenaga kerja.
Namun, ia menilai produktivitas yang belum optimal masih menjadi persoalan mendasar. “Petani masih terkendala akses bibit unggul, modal, dan belum terintegrasi dalam kelembagaan yang kuat. Tanpa perbaikan ini, produktivitas sulit meningkat,” jelasnya.
Ia juga mendorong penerapan sistem tumpang sari sebagai upaya meningkatkan pendapatan petani sebelum sawit memasuki masa produksi.
Hasil diseminasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah strategis pengembangan Kawasan Transmigrasi Kerang.
Dengan dukungan riset perguruan tinggi dan penguatan kolaborasi multipihak, kawasan ini diharapkan dapat berkembang lebih produktif, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (uma)
Editor : Yosep Awaludin