RADAR BOGOR - Kondisi pacsa banjir di wilayah Tamiang Aceh masih jauh dari pulih. Aroma lumpur masih tercium pekat. Dinding rumah warga Aceh didominasi warna coklat akibat lupur.
Setiap langkah kaki, meninggalkan jejak di dalam tanah basah. Kondisi ini membuat mobilitas warga terganggu. Bahkan mulai timbul berbagai macam penyakit.
“Rumah-rumah masih penuh lumpur, sehingga banyak warga mulai mengalami keluhan penyakit kulit,” Abu Ayub Al Anshari, Relawan SalamAid.
Satu pekan lebih di Tamiang, membuatnya mengenal dekat dengan warga di sana. Berbgai keluhan terus disampaikan. Namun telinganya tak pernah bosan mendengarkan.
Dalam perjalan misi kemanusiannya, Abu sempat berjumpa dengan pria paruh baya. Kondisinya sungguh mengkhawatirkan. Badannya bergetar hebat.
“Kakek itu diduga stroke. Setelah kami bertanya pada keluarganya, mereka mengatakan kondisi kejang seperti ini baru terjadi setelah banjir,” terang Abu.
Tidak berfikir panjang, Abu pun langsung kembali mengenakan sepatu anti lumpurnya. Dirinya bergegas mencari tim medis untuk melakukn penanganan.
“Pihak keluarga juga menyampaikan bahwa selama ini belum ada petugas kesehatan yang datang memeriksa,” beber Abu pada Radar Bogor, Selasa 9 Desember 2025.
Di tengah jalan Provinsi, nampak bala bantuan datang silih berganti. Namun ini belum mampu menjamah ke lokasi-lokasi warga yang ada di gang kecil.
“Distribusi sembako juga belum merata. Warga yang rumahnya berada di lorong-lorong sempit tidak mendapatkan bantuan karena akses sulit,” ucap Abu.
Kondisi itu terpaksa membuat warga setempat beranjak dari rumahnya. Titik-titik pendistribusian jadi lokasi incarannya. Harapannya pulang, bawa makanan.
“Mereka mengaku tidak mendapatkan bantuan apa pun, terutama mereka yang tinggal sendirian di lorong-lorong kecil. Sehingga terpaksa keluar” pungkasnya.(bay)
Editor : Alpin.