Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sudah 25 Tahun Menikah Pasangan Suami Istri Ini Batal Cerai Setelah Jalani Hipnoterapi

Eka Rahmawati • Jumat, 12 Desember 2025 | 15:07 WIB
Nina Marlina seorang Hipnoterapis Klinis saat hadir dalam sebuah acara.
Nina Marlina seorang Hipnoterapis Klinis saat hadir dalam sebuah acara.

RADAR BOGOR - Bagi kebanyakan orang, usia pernikahan 25 tahun adalah perayaan perak, penanda kekokohan. Namun, bagi pasangan ini sebut saja mereka yakni Bapak R (52) dan Ibu S (50), usia pernikahan seperempat abad itu terasa seperti menjalani masa hukuman. Mereka telah melewati dua dekade lebih, membesarkan dua anak, keduanya datang atas saran temannya untuk menguatkan kaki-kaki mereka yang berdiri di ambang jurang dingin: perceraian.

Ini bukan kisah baru terjadi dan baru ditangani melainkan jauh sebelum pandemi melanda dan fenomena gray divorce terdengar di mana-mana. Masalah mereka bukan karena orang ketiga, bukan karena masalah finansial yang tiba-tiba. Masalah mereka lebih mendasar, pertengkaran yang tak kunjung henti. Kata-kata kasar S sudah menjadi bahasa sehari-hari.

Sementara suara Bapak R seperti tak terdengar dan memilih diam. Baginya “percuma” bila menanggapi sang istri yang menurutnya tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Ia memilih bungkam bila istri marah meledak-ledakdan menuduh yang tidak-tidak. Keduanya pernah berupaya menemui tokoh agama dalam rangka mediasi. Konsultasi resmi di BP4 (Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan) sudah mereka tempuh.

Hasilnya, terasa mentok, keduanya merasa lelah dan frustrasi. Setiap saran hanya seperti plester di atas luka yang memerlukan jahitan. Masalah terus meradang, seolah ada "hantu" tak kasat mata yang selalu membisikkan perpecahan di antara mereka. Ketika semua opsi yang mereka tahu sudah dijalani,  muncul satu harapan yang terdengar asing dari apa yang disarankan temannya: hipnoterapi.

Mereka tidak menyadari, konflik yang mereka hadapi bukanlah pertengkaran suami-istri biasa. Di bawah permukaan kesal dan amarah, tersembunyi benang trauma masa lalu, yang emosinya masih intens dan memimpin setiap perdebatan mereka.

Inilah kisah tentang bagaimana mereka batal cerai, bukan karena menemukan kembali cinta yang hilang, melainkan karena mereka menemukan dan menyembuhkan diri mereka yang terluka.

Pertemuan pertama, keduanya datang duduk bersama. Satu persatu cerita persoalan yang mereka alami sepanjang pernikahan. Orang bilang perempuan ahli sejarah, mulailah cerita yang runut bagaimana pengalaman mereka sebelum dan setelah menikah. Sang suami juga cerita apa yang mereka hadapi berdua.

Singkat cerita pada pertemuan kedua, S yang menjalani hipnoterapi lebih dahulu. Apa yang membuat dia sering berkata kasar pada suami rupanya ada kemarahan yang ia pendam selama 25 tahun pada bapak mertua. Ia sejak awal tidak diterima sebagai menantu karena beda suku.

Pernikahan mereka memang tidak diketahui mertua karena kakak R tanggal pernikahannya diundur sehingga melewati tanggal rencana pernikahan R dan S yang akhirnya tetap menikah tanpa dihadiri keluarga R (suami). Setelah anak pertama lahir, barulah S diterima sebagai menantu.

Namun bara rasa sakit hatinya pada mertua masih tak kunjung padam hingga memasuki usia pernikahan dua puluhan konflik dengan R makin intens. Rasa sakit hatinya pada mertua diproses. Tak hanya itu, dalam proses terapi terungkaplah kalau R, suaminya mengalami persoalan dalam urusan ranjang.

Akhirnya perilaku sering berkata kasar dan marahnya S diketahui sebab ada perasaan tidak diinginkan, yang awalnya karena penolakan mertua tetapi juga karena ada ketidakpuasan dalam hubungan di tempat tidur.

S sebagai istri merasa tidak diinginkan, tidak menarik, sehingga S sering uring-uringan bahkan sering menuduh R memiliki hubungan terlarang dengan adik kandung S yang menurutnya sering datang dan menginap di rumahnya. S sendiri yang menyarankan dan menemani suaminya berobat ke dokter, hasilnya tetap sama, S kecewa.

S dan R sudah pisah ranjang, mereka tidur masing-masing bersama anak mereka.

Berikutnya R (suami) menjalani hipnoterapi. Dia mengakui kalau dirinya punya masalah dengan hubungan di tempat tidur. Sudah berusaha melakukan berbagai upaya agar dia mampu memberi kepuasan kepada istrinya.

Dia sendiri bingung, padahal tidak punya masalah penyakit jantung ataupun diabetes. Dalam proses terapi diketahui saat dia SD kelas dua pernah mengalami peristiwa yang mengejutkan. Pulang sekolah masuk rumah dan mencari orang tuanya ke kamarnya. Tak disangka R kecil mendapati bapaknya tengah melakukan hubungan suami istri dengan sang ibu.

Ia kaget begitu juga orang tuanya, seketika itu wajah R kena lemparan bantal dan menangis. Pria 52 tahun yang duduk di kursi terapi itu menangis seperti anak kecil.

Pengalaman itu membuatnya trauma dan merasa bersalah karena telah membuat bapaknya marah. Rasa bersalah lainnya, R mengakui bahwa saat usia 17 tahun pernah melakukan hubungan terlarang dengan sang kekasih.

Rasa bersalahnya yang besar itu pula yang membuat pikiran bawah sadarnya menghukum dirinya sehingga mengalami persoalan di atas ranjang. Setelah keduanya menjalani hipnoterapi, sepekan kemudian mereka berkabar bahwa masalah keduanya sudah teratasi dan sepakat untuk membangun kembali rumah tangganya.

Beruntung keduanya mau datang dan duduk bersama, cerita secara terbuka untuk mengatasi masalahnya. Yang pasti perubahan itu terjadi karena mereka yang menginginkan itu terjadi. Terapis hanya membantu menemukan akar masalahnya, apa pembelajaran yang Anda dapati dari kisah rumah tangga mereka?

Penulis: Nina Marlina, Hipnoterapis Klinis
Instagram @nina_chandrakirana

Editor : Eka Rahmawati
#hipnoterapi #cerai #suami istri