RADAR BOGOR - Perlahan, rasa takut warga Aceh Tamiang mulai luruh. Setelah hampir sebulan dihantui banjir besar, sebagian warga kini memberanikan diri kembali mendatangi pemukiman yang sempat mereka tinggalkan.
Di Kampung Blang Cut, kedatangan warga ke rumah-rumah yang rusak bukan lagi sekadar lewat. Mereka mulai masuk ke pekarangan, duduk di depan rumah, bahkan menggali lumpur yang mengendap di lantai dan halaman.
Namun, keberanian itu tidak datang sekaligus. Selama 24 hari pascakebencanaan, intensitas kedatangan warga masih beragam. Ada yang baru sekali datang, ada pula yang baru tiga kali kembali ke rumahnya.
“Intinya mah ke rumahnya doang gitu lah, rindu sama suasana rumah. Ada yang cuma makan-makan doang di depan rumahnya,” kata Fadil, Relawan SalamAid.
Sebagian warga masih enggan menatap sungai yang pernah meluap dan menghancurkan pemukiman mereka.
Sungai itu menjadi pengingat trauma, sehingga banyak warga memilih hanya berada di sekitar rumah tanpa berani mendekat.
Aktivitas warga di rumah pun masih terbatas. Mereka datang hanya seperlunya saja setelah itu kembali ke tempat pengungsian atau hunian sementara.
“Ada yang cuma meratapi rumahnya doang, gak berani lihat sungai,” lanjut Fadil saat berbincang dengan Radar Bogor, Selasa 23 Desember 2025 malam.
Meski begitu, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Warga yang memiliki anggota keluarga laki-laki mulai membersihkan lumpur yang mengeras.
Sementara keluarga lain hanya mengambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan.
“Iya, kalau ada yang lelaki di rumahnya, dia menggali (lumpur). Kalau gak ada lelaki, ya dia ambil seadanya aja,” ujar Fadil.
Barang yang diambil umumnya berupa perabotan rumah tangga, perlengkapan memasak, serta pakaian yang masih layak pakai.
Namun untuk barang elektronik, warga belum bisa banyak berharap. “Karena elektronik terendam banjir, mungkin harus diservis lagi,” jelasnya.
Sementara itu, proses pemulihan infrastruktur di Aceh Tamiang masih berjalan.
Aliran listrik mulai menyala di sejumlah wilayah, meski belum merata. “Baru sekitar 30–40 persen,” ungkap Musa, Relawan SalamAid.
Di tengah keterbatasan listrik, warga mulai membersihkan fasilitas umum seperti masjid dan sekolah.
Aktivitas ini menjadi simbol bahwa kehidupan sosial perlahan ingin kembali bergerak.
Karena masih berada di masa transisi, kebutuhan air bersih masih sangat dibutuhkan warga.
Air digunakan untuk membersihkan lumpur sekaligus memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Banyak warga kini memilih bertahan di hunian sementara. Sebagian membangun rumah darurat secara mandiri dengan memanfaatkan puing-puing kayu dari rumah yang roboh.
Menjelang satu bulan pascabanjir, kebutuhan warga pun mulai berubah. Fokus bantuan tidak lagi semata pada makanan, tetapi perlengkapan rumah tangga.
“Kebutuhan warga mulai bergeser ke perlengkapan rumah tangga (kebutuhan isi rumah), seperti kompor, alas tidur, atau kasur,” kata Musa.
Meski Aceh Tamiang cukup ramai disorot, Musa mengingatkan masih ada wilayah lain yang luput dari perhatian.
“Berbeda dengan daerah Aceh Timur yang saya kunjungi barusan. Daerah ini masih cukup sepi dari sorotan bantuan dibandingkan Aceh Tamiang,” pungkasnya.(bay)
Editor : Alpin.