Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Jalan Terjal Energi Alternatif di Negeri Sendiri, Bobibos Dibajak Negeri Tetangga, Regulasi Jadi Penyebabnya

Ahmad Sopyan • Sabtu, 27 Desember 2025 | 09:38 WIB
Pembina Bobibos Mulyadi beberkan penyebab bobibos memilih produksi masal di Timor Leste ketimbang di Indonesia.
Pembina Bobibos Mulyadi beberkan penyebab bobibos memilih produksi masal di Timor Leste ketimbang di Indonesia.

RADAR BOGOR - Inovasi bahan bakar nabati (BBN) yang lahir di Indonesia bernama Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos atau disingkat Bobibos menemui jalan terjal untuk diproduksi masal di negeri sendiri.

Bobibos terganjal regulasi. Bahan bakar dari jerami itu tak bisa diproduksi dan dijual secara masal di dalam negeri.

"Jadi terkendala Regulasi. Pemerintah Indonesia mengatur pemanfaatan energi terbarukan, dari sawit, aren, dan tebu. Yang kami ini, dari jerami belum ada regulasinya," kata Pembina Bobibos Mulyadi kepada Radar Bogor Sabtu 27 Desember 2025.

Inovasi energi alternatif itu kini "dibajak" negeri tetangga. Timor Leste. Semenjak Launcing Bobibos di Jonggol, Kabupaten Bogor, sejumlah negara luar tertarik dengan Bobibos. Timor-Leste paling agresif untuk bisa mendatangkan bobibos di negara Meraka.

Negara tetangga itu bergerilya agar Inovasi bahan bakar berbasis jerami yang dikembangkan Bobibos itu bisa segera diproduksi di sana.

Keseriusan Timor Leste untuk memboyong Bobibos dan memproduksi secara masal di sana diawali dengan penyajian kerjasama dengan salah satu perusahaan di sana.

Selain itu, negara Timor Leste mau menyiapkan regulasi agar bobibos bisa diproduksi secara masal di negeri tersebut.

Pergerakan Timor Leste untuk "membajak" Bobibos juga tak hanya sebatas itu saja. Mereka menyiapkan lahan 25 ribu hektare dan pabrik serta gudang yang sudah jadi agar bobibos bisa segera diproduksi.

"Mereka menyiapkan lahan 25 ribu hektare, pabrik dan area gudang yang sudah jadi, kami sudah diminta untuk produksi di sana," tuturnya.

Ditanya soal kapan mulai produksi di Timor-Leste, Mulyadi mengatakan akan dimulai di awal tahun depan.

"Paling lambat itu di Februari 2025, tapi kami akan coba Januari tahun depan sudah mulai produksi," paparnya.

Terkait komunikasi dengan pemerintah Indonesia, Mulyadi menyebut pihaknya tetap menempuh jalur koordinasi kelembagaan dan legislasi.

Ia mengeklaim telah menyampaikan perkembangan proyek tersebut kepada sejumlah pihak, termasuk DPR dan kementerian terkait.

“Kami mengikuti alur koordinasi yang ada. Prinsipnya, kami ingin taat regulasi dan tidak melangkah sebelum ada aturan yang jelas,” tukasnya.

Warga Minta Pemerintah Gerak Cepat

Awal kemunculan bahan bakar berbasis jerami yang dikembangkan Bobibos di Jonggol, Kabupaten Bogor itu memantik reaksi warga. Beritanya viral dimana-mana.

Semenjak diluncurkan pada November 2025 lalu itu, nama Bobibos ramai diperbincangkan dimana mana. Termasuk di Kota Depok. Banyak masyarakat yang penasaran akan Bobibos.

Namun, semakin hari masyarakat mulai meragukan Bobibos karena tak kunjung diproduksi secara masal.

Kondisi itu mebuat masyarakat terbagi menjadi dua kubu. Ada yang masih setia menunggu Bobibos. Ada pula yang sudah apatis dan menganggapnya angin lalu.

Hingga muncul kabar bahwa Bobibos bakal pertama kali diproduksi massal di negeri tetangga.

Hal itu mengingatkan pada masyarakat perihal nasib mobil listrik Selo, karya anak bangsa yang dikabarkan dikembangkan di negeri Jiran Malaysia.

"Mirip-mirip sama yang dulu kasus mobil listrik buatan anak bangsa, malah di kembangkan di Malaysia," ujar Soni warga Kalimulya kepada Radar Bogor Sabtu 27 Desember 2025.

Ia mengatakan pemerintah jangan sampai terlambat. Harus gerak cepat. "Harusnya Pemerintah mendukung, jangan sampai dibajak lagi," tuturnya.

Senada dikatakan oleh Indra Wiguna warga Kalimulya Depok lainya. Kepada Radar Bogor ia mengatakan, banyak inovasi karya anak bangsa yang malah dihargai di negeri orang ketimbang di negara sendiri.

"Kalau melihat sejarah, dari zaman dulu begitu, banyak orang Indonesia yang hebat, tapi malah lebih dihargai di luar negeri. Kalau bisa Pemerintah harus gerak cepat," tuturnya.

Ia mengatakan jika Bahan bakar nabati ini bisa diproduksi masal di Indonesia, tentunya makin banyak pilihan masyarakat akan kebutuhan BBM. Juga bisa memangkas subsidi BBM dan mengalihkannya untuk membantu sektor lainya.

"Kalau bisa diproduksi masal, otomatis jadi banyak alternatif bahan bakar bagi warga. Ini nantinya juga bisa mengurangi subsidi BBM. Ini kan bagus," tuturnya. (faj)

Editor : Yosep Awaludin
#bahan bakar #Bobibos #mulyadi