Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta Menuju Aceh Tamiang, Menelusuri Sisa Banjir di Ujung Sumatera

Muhammad Ali • Kamis, 1 Januari 2026 | 19:03 WIB
Kondisi terkini warga korban bencana banjir bandang di Aceh Tamiang, Kamis 1 Januari 2026.
Kondisi terkini warga korban bencana banjir bandang di Aceh Tamiang, Kamis 1 Januari 2026.

RADAR BOGOR – Tepat pada momen Tahun Baru, 1 Januari 2026, tim Radar Bogor memulai perjalanan panjang menuju Kabupaten Aceh Tamiang.

Perjalanan ini dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi pascabencana banjir bandang yang melanda tiga provinsi sekaligus, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Langkah pertama dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Dari sana, tim terbang menuju Bandara Internasional Kualanamu, Medan, dengan waktu tempuh sekitar dua setengah jam.

Penerbangan pagi itu berjalan lancar, mengantarkan tim ke salah satu pintu utama menuju wilayah terdampak bencana di ujung Sumatera.

Sesampainya di Bandara Internasional Kualanamu, suasana terlihat tidak terlalu ramai. Meski begitu, bandara ini memiliki peran penting.

Kualanamu menjadi titik persinggahan utama para relawan dan pengiriman donasi sebelum mereka melanjutkan perjalanan darat menuju lokasi-lokasi bencana di Aceh.

Kondisi terkini warga korban bencana banjir bandang di Aceh Tamiang, Kamis 1 Januari 2026.
Kondisi terkini warga korban bencana banjir bandang di Aceh Tamiang, Kamis 1 Januari 2026.

Di bandara tersebut, tim Radar Bogor dijemput oleh seorang sopir bernama Rahmat Dani.

Dia bertugas mengantarkan perjalanan menuju Posko Salam ID yang berlokasi di Dusun Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.

“Relawan masih lalu lalang karena bantuan dari pemerintah belum maksimal. Banyak relawan yang membawa donasi seperti pakaian dan makanan,” ujarnya kepada Radar Bogor, Kamis 1 Januari 2025.

Menurut Dani, Bandara Internasional Kualanamu di Kabupaten Deli Serdang menjadi akses utama bagi relawan dan donasi yang datang dari Jakarta.

Jalur udara ini menjadi satu-satunya pilihan paling memungkinkan untuk menjangkau wilayah terdampak dengan cepat.

“Bandara satu-satunya yang paling dekat ya Kualanamu. Kalau Bandara Lanud Soewondo Polonia biasanya untuk pejabat atau orang-orang penting,” katanya.

Perjalanan darat dari Medan menuju Aceh Tamiang memakan waktu cukup panjang.

Sepanjang perjalanan, cuaca terpantau panas, meski beberapa kali hujan rintik turun, namun tidak berlangsung lama. Mobil yang ditumpangi tim Radar Bogor melintasi sejumlah wilayah.

“Melewati Deli Serdang, masuk Kota Medan, lanjut ke Binjai, kemudian Kabupaten Langkat, baru masuk perbatasan Aceh Tamiang,” ungkap Dani sambil tetap fokus menyusuri jalan.

Ketika kendaraan melaju di Jalan Lintas Sumatera, tepatnya di Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, hamparan perkebunan kelapa sawit mendominasi pemandangan di sepanjang perjalanan.

Barisan pohon sawit tampak rapat, seolah mengiringi perjalanan menuju daerah bencana.

Namun, pemandangan berubah drastis saat memasuki Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang. Jejak banjir bandang mulai terlihat jelas.

Reruntuhan rumah masih tersisa, lumpur tampak mengering di berbagai sudut, genangan air belum sepenuhnya surut, serta bekas longsoran terlihat di pinggir jalan.

Di beberapa titik, anak-anak hingga orang dewasa tampak mengais kardus di pinggir jalan untuk meminta rezeki kepada para pengguna jalan.

Aktivitas sederhana itu menjadi gambaran nyata tentang beratnya dampak banjir bandang yang masih dirasakan warga.

Perjalanan ini bukan sekadar menempuh jarak ratusan kilometer, tetapi juga menyusuri jejak luka yang ditinggalkan bencana.

Di Aceh Tamiang, awal tahun 2025 dibuka dengan upaya bertahan dan harapan warga yang berjuang bangkit dari sisa-sisa banjir bandang.(cr1)

Editor : Alpin.
#aceh tamiang #bencana alam #radar bogor