Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Di Tengah Puing Bencana, Tawa Anak-anak Aceh Tamiang Kembali Tumbuh Bersama Relawan Salam Aid

Muhamad Rifki Fauzan • Kamis, 1 Januari 2026 | 21:57 WIB
Sejumlah anak di Dusun Al Ikhsan, Desa Kota Lintah Bawah, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang menerima buku dari komunitas Salam Aids, Kamis 1 Januari 2026.
Sejumlah anak di Dusun Al Ikhsan, Desa Kota Lintah Bawah, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang menerima buku dari komunitas Salam Aids, Kamis 1 Januari 2026.

RADAR BOGOR – Di antara tenda pengungsian, sisa-sisa lumpur banjir, dan tumpukan gelondongan kayu pepohonan, tawa anak-anak kembali terdengar di Dusun Al Ikhsan, Desa Kota Lintah Bawah, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang.

Sejumlah anak tampak asyik bermain bersama relawan Salam Aid, sejenak melupakan trauma dan keterbatasan hidup pascabencana, Kamis 1 Januari 2026.

Di atas tanah yang tak lagi rata, anak-anak menyusun balok, berlari kecil, dan bekerja sama dalam permainan sederhana. Tidak ada panggung, tidak ada alat permainan mahal. Namun, keceriaan tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana.

Relawan Salam Aid, Jamil Arrohman, menjelaskan bahwa permainan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari pendekatan psikososial berbasis sekolah alam yang mereka terapkan di lokasi bencana.

“Kegiatannya mirip sekolah alam. Karena Salam Aid itu basisnya memang dari sekolah alam. Kelihatannya main, tapi sebenarnya ada pembelajaran,” ujarnya kepada Radar Bogor, Kamis 1 Januari 2026.

Menurutnya, setiap permainan dirancang untuk menstimulasi konsentrasi, kerja sama, dan keberanian anak-anak.

Menyusun balok, misalnya, melatih fokus dan kesabaran. Permainan kelompok melatih kekompakan sekaligus jiwa kompetitif yang mulai tumbuh pada anak usia sekolah dasar.

“Anak-anak di sini rata-rata kelas tiga sampai kelas enam. Di usia itu, kompetitifnya mulai naik. Jadi ada unsur lombanya, tapi tetap fun. Mereka latihan lari, latihan menyusun, dan kerja tim,” jelasnya.

Kondisi lokasi yang masih dipenuhi sisa bencana justru membuat konsep sekolah alam terasa relevan.

Permainan dilakukan di atas tanah yang tidak rata, di lingkungan yang jauh dari kata ideal, namun justru menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri.

“Nyusun balok di tempat seperti ini itu susah. Tapi di situlah latihannya. Konsep sekolah alam itu memang pas banget diterapkan di situasi kebencanaan,” katanya.

Bagi Jamil, anak-anak pengungsi tidak boleh dibiarkan hanya duduk diam di tenda. Aktivitas fisik dan permainan menjadi cara untuk menjaga kesehatan mental mereka.

“Kalau cuma duduk, aktivitas mereka terhambat. Anak-anak itu butuh banyak gerak. Dengan main, mereka jadi happy, ceria, dan nggak terlalu kepikiran kondisi yang mereka alami,” bebernya.

Permainan yang dilakukan pun sangat fleksibel. Tidak selalu menggunakan alat khusus. Jamil mengaku lebih sering memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar.

“Kalau ada balok, kita pakai balok. Kalau nggak ada, bisa susun batu atau main lari. Intinya games yang bikin mereka bergerak dan kerja sama,” tuturnya.

Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam membantu pemulihan psikologis anak-anak. Meski hanya sesaat, permainan mampu mengalihkan ingatan mereka dari trauma bencana.

“Main bareng-bareng itu bisa bikin mereka lupa sebentar. Bisa mengurangi trauma. Anak-anak di sini kelihatannya sudah mulai ikhlas dengan kondisi rumah mereka,” imbuhnya.

Antusiasme anak-anak pun terlihat jelas. Mereka mengikuti permainan dengan semangat, tanpa memikirkan menang atau kalah. Tidak ada juara, tidak ada peringkat.

“Semuanya dapat hadiah. Nggak ada juara satu atau kalah. Karena ini bukan soal menang, tapi soal senang-senang,” tambahnya.

Hadiah yang diberikan pun sederhana, seperti buku bacaan. Namun, bagi anak-anak di pengungsian, hal kecil itu menjadi sesuatu yang berharga.

Salah satunya dirasakan Mutia (13). Gadis remaja itu mengaku sangat senang menerima buku bacaan, terutama novel. “Dibaca. Suka banget, apalagi novel,” katanya polos.

Mutia mengaku jarang mendapat buku bacaan seperti itu. Sebelumnya, ia lebih sering menerima buku gambar atau mewarnai. Yang paling ia rindukan adalah suasana belajar di sekolah. “Kangen banget, banget, banget,” ucapnya tanpa ragu.

Kini, hari-hari Mutia di pengungsian diisi dengan aktivitas seadanya. Jika merasa suntuk di rumah, ia memilih keluar berjalan-jalan dan bermain hingga sore. “Kadang sampai sore baru balik. Habis magrib ngaji, habis isya kadang,” ceritanya.

Bagi anak-anak Dusun Al Ikhsan, permainan bersama relawan bukan sekadar pengisi waktu. Di tengah keterbatasan listrik, air bersih, dan bangunan sekolah yang belum pulih, permainan menjadi ruang aman untuk tertawa, bergerak, dan kembali menjadi anak-anak.

Di antara puing-puing bencana, tawa kecil itu menjadi penanda bahwa harapan masih hidup.(cr1)

Editor : Alpin.
#bencana #korban banjir #aceh tamiang