RADAR BOGOR - Banyak pertanyaan mengenai jadwal pembukaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2026 masih menjadi perhatian masyarakat.
Hingga awal Januari 2026, pemerintah menegaskan belum ada keputusan resmi terkait pelaksanaan rekrutmen aparatur sipil negara tersebut.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB), Rini Widyantini mengatakan, pihaknya masih menunggu arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto terkait kebijakan pembukaan CPNS 2026.
Selain itu, pemerintah juga masih melakukan perhitungan kebutuhan pegawai di seluruh kementerian dan lembaga.
Rini menjelaskan bahwa proses rekrutmen ASN dilakukan berdasarkan siklus perencanaan lima tahunan.
Mengingat seleksi CPNS terakhir berlangsung pada 2024, maka pemerintah perlu melakukan evaluasi dan perhitungan ulang sebelum membuka seleksi berikutnya.
Saat ini, Kementerian PAN-RB telah meminta seluruh kementerian dan lembaga untuk melakukan pemetaan kebutuhan pegawai sesuai dengan strategi pembangunan masing-masing instansi untuk lima tahun ke depan.
Melalui analisis tersebut, pemerintah dapat mengetahui unit kerja yang mengalami kekurangan atau kelebihan sumber daya manusia.
Hasil pemetaan ini nantinya menjadi dasar pengambilan keputusan terkait jumlah dan jenis formasi yang akan dibuka, termasuk kemungkinan adanya penambahan atau pengurangan jabatan tertentu.
Meski jadwal CPNS 2026 belum ditetapkan, sejumlah kementerian dan lembaga mulai menyampaikan rencana awal pembukaan formasi.
Dua instansi yang telah mengemukakan rencana tersebut adalah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, Kemenkeu berencana memprioritaskan rekrutmen CPNS dari lulusan Politeknik Keuangan Negara STAN serta lulusan SMA.
Disebutkan, Kemenkeu menyiapkan kuota sekitar 279 formasi bagi lulusan STAN dan 300 formasi untuk lulusan SMA.
Untuk lulusan STAN, penempatan akan disesuaikan dengan latar belakang keilmuan masing-masing.
Sementara itu, lulusan SMA direncanakan akan ditempatkan sebagai petugas lapangan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, yang saat ini membutuhkan tambahan tenaga teknis di berbagai wilayah.
Sementara itu, peluang pembukaan formasi CPNS 2026 juga disampaikan Kepala BRIN, Prof Arif Satria.
BRIN berencana membuka rekrutmen bagi periset di sejumlah bidang prioritas, seperti pemuliaan tanaman, nanoteknologi.
Termasuk genomika, antariksa, sains material, serta teknologi keberlanjutan.
Mantan Rektor IPB itu menilai, jumlah peneliti di Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 300 orang per satu juta penduduk.
Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan negara maju yang memiliki hingga ribuan peneliti per satu juta penduduk.
Selain bidang sains dan teknologi, BRIN juga menekankan pentingnya penguatan riset sosial agar kolaborasi lintas disiplin dapat menghasilkan riset yang lebih aplikatif dan berdampak luas bagi masyarakat.
Menurut Arif, peningkatan jumlah peneliti nasional harus didukung dengan penguatan ekosistem riset yang kondusif.
Salah satu caranya, membuka peluang karier peneliti melalui jalur CPNS agar lebih banyak talenta unggul tertarik terjun ke dunia riset. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim