RADAR BOGOR - Pantauan Radar Bogor di lokasi pengungsian sementara yang berada di Pemakaman China, Dusun Metro Jaya, Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamian, memperlihatkan kondisi pengungsi yang masih memprihatinkan pascabencana banjir bandang, Jumat 2 Januari 2025.
Di tengah keterbatasan logistik dan fasilitas, terselip kisah kemanusiaan yang menyentuh hati tentang kasih sayang seorang ibu terhadap dua ekor kucing peliharaannya yang turut mengungsi bersamanya.
Pemilik kucing, Ernawati mengenang detik-detik saat banjir bandang menerjang kawasan tempat tinggalnya.
Dengan air yang terus meninggi dan hujan yang tak kunjung reda, ia memilih menyelamatkan dua kucing kesayangannya dengan cara menggendong keduanya.
“Digendong lah, digendon airnya kan dalam. Karena kami sibuk, dia pun sibuk. Dia kan dipelihara memang dari bayi,” ujarnya kepada Radar Bogor, Jumat 1 Januari 2025.
Upaya penyelamatan itu bukan perkara mudah, dalam kondisi panik, kedua kucingnya meronta ketakutan. “Mana nyakar lagi,” tambahnya.
Meski begitu, Ernawati mengaku tak tega meninggalkan mereka. Baginya, kedua kucing tersebut sudah menjadi bagian dari keluarga, terlebih salah satunya merupakan induk yang selalu ikut dievakuasi setiap kali banjir melanda.
“Nahan kan, karena banjir dalam. Karena hujan juga, mau ditinggalkan kan kasian dia,” katanya lirih.
Di pengungsian, persoalan baru kembali dihadapi Ernawati. Ia kesulitan mencari makanan untuk kedua kucingnya karena kondisi darurat yang membuat pakan hewan menjadi barang langka.
Akibatnya, kesehatan kucing-kucing tersebut sempat menurun. “Kemarin apa saja dimakan, bulunya rontok,” ungkapnya.
Harapan datang ketika relawan Salam Aid menyalurkan bantuan, termasuk makanan untuk hewan peliharaan para pengungsi.
Ernawati pun mengaku lega karena kini kebutuhan makan kedua kucingnya mulai terpenuhi.
“Alhamdulillah, makasih orang baik. Sekarang sudah ada makanan juga,” ucapnya penuh syukur.
Di tengah duka dan kelelahan akibat bencana, kisah Ernawati dan dua kucingnya menjadi potret kecil tentang kasih sayang yang tak luntur.
Sebuah pengingat bahwa di tengah banjir dan pengungsian, kepedulian dan rasa kemanusiaan tetap hidup, bahkan untuk makhluk kecil yang setia menemani.(cr1)
Editor : Alpin.