RADAR BOGOR – Pantauan Radar Bogor di lokasi pengungsian sementara yang berada di Pemakaman China, Dusun Metro Jaya, Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, menunjukkan kondisi para pengungsi masih memprihatinkan.
Hujan deras yang turun disertai angin kencang membuat pengungsi harus berjibaku dengan cuaca ekstrem di tengah keterbatasan fasilitas.
Saat hujan mengguyur kawasan tersebut, para pengungsi tampak berusaha melindungi diri dengan perlengkapan seadanya.
Tenda-tenda pengungsian tidak sepenuhnya mampu menahan terpaan angin dan air hujan, sehingga aktivitas warga menjadi semakin terbatas.
Di lokasi pengungsian, pengungsi terpaksa menyiapkan ember serta berbagai wadah seadanya untuk menampung air hujan.
Langkah itu dilakukan karena akses terhadap air bersih masih sangat terbatas, sementara kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari seperti memasak, mencuci, dan mandi terus mendesak.
Salah seorang pengungsi, Herwandi, mengatakan bahwa di lokasi tersebut satu tenda diisi dengan 2-3 kepala keluarga yang mengungsi.
Namun, fasilitas pendukung yang tersedia belum memadai untuk memenuhi kebutuhan seluruh pengungsi.
“Di sini ada sekitar 55 kepala keluarga, tapi fasilitasnya masih sangat terbatas. MCK hanya satu, jadi kebutuhan air bersih belum bisa terpenuhi secara layak,” ujar Herwandi kepada Radar Bogor, Jumat 2 Januari 2025.
Ia menambahkan, warga terpaksa memanfaatkan air hujan yang ditampung menggunakan ember dan wadah seadanya untuk mencukupi kebutuhan harian.
Kondisi tersebut menjadi pilihan terakhir di tengah keterbatasan pasokan air bersih di lokasi pengungsian.
“Kita menampung air hujan pakai alat seadanya seperti ember dan semacamnya untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari,” ungkapnya.
Hingga pukul 15.15 WIB, hujan di lokasi pengungsian terpantau semakin deras dan disertai angin kencang. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini menambah kekhawatiran para pengungsi, terutama terhadap kemungkinan terjadinya banjir susulan.
Sementara itu, pengungsi lainnya, Usman, menyebut hujan yang turun kali ini merupakan yang terbesar setelah peristiwa banjir bandang sebelumnya.
Ia mengaku intensitas hujan kali ini sangat mengkhawatirkan. “Hujan kali ini paling besar setelah pasca banjir bandang. Suaranya seperti pesawat, ini paling parah,” katanya.
Menurut Usman, hujan deras tersebut mengingatkannya pada puncak banjir yang terjadi beberapa waktu lalu.
Ia menyebut kondisi hujan kali ini hampir serupa dengan hujan lebat yang terjadi pada malam Kamis, 27 November 2025.
“Ini hujan terbesar, sama seperti malam Kamis waktu puncaknya banjir,” pungkasnya.
Hingga saat ini pukul 20.47 WIB, kondisi di Aceh Tamiang masih gerimis belum reda sepenuhnya.(Cr1)
Editor : Alpin.