RADAR BOGOR - Kuburan Cina di Dusun Metro Jaya, Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, terpaksa dijadikan lokasi pengungsian warga akibat banjir bandang yang melanda kawasan tersebut.
Dengan fasilitas yang sangat minim, sekitar 55 kepala keluarga bertahan di area pemakaman yang dinilai sebagai titik paling aman dari luapan air.
Herwandi, salah seorang warga setempat, menjelaskan bahwa banjir dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi sejak Rabu hingga Jumat 26–28 Desember 2025.
Ketinggian air yang biasanya hanya mencapai sekitar 45 sentimeter, kali ini meningkat hingga 60 sampai 70 sentimeter, membuat warga panik saat air datang membawa lumpur dan kayu-kayu besar.
“Puncaknya di hari Jumat itu air naik begitu tingginya, bersama kayu-kayu dan lumpur segala macam. Makanya warga sebagian besar mengungsi ke Kuburan Cina,” ujarnya kepada Radar Bogor, Jumat 2 Januari 2025.
Menurutnya, Kuburan Cina memang sejak lama menjadi lokasi alternatif pengungsian bagi warga Kampung Durian setiap kali banjir melanda.
Selain letaknya yang lebih tinggi dibanding wilayah sekitar, tidak ada tempat lain yang dinilai aman untuk menyelamatkan diri. “Kalau tempat lain memang tidak ada lagi, inilah tempat yang paling tinggi,” katanya.
Herwandi menambahkan, penggunaan area pemakaman sebagai lokasi pengungsian bukanlah hal baru. Sejak 2006, kemudian 2022, hingga 2025, warga selalu mengungsi di lokasi yang sama setiap musim banjir tiba.
Ia menilai kemungkinan untuk berpindah ke lokasi lain sangat kecil karena keterbatasan alternatif tempat aman.
Meski demikian, mengungsi di kawasan pemakaman meninggalkan perasaan campur aduk bagi warga.
Herwandi mengaku sedih karena rumah mereka rusak dan tidak dapat ditempati. Namun, di sisi lain ia tetap bersyukur karena seluruh anggota keluarganya selamat dari bencana.
“Dikatakan sedih, dikatakan bahagia. Bahagianya itu alhamdulillah keluarga utuh,” tuturnya.
Terkait penggunaan lahan pemakaman, Herwandi memastikan tidak ada persoalan dengan pemilik Kuburan Cina. Warga diperbolehkan mengungsi selama kondisi darurat.
Hanya saja, pada momen tertentu seperti perayaan Cap Go Meh, warga biasanya diminta berpindah sementara ke tepi jalan untuk memberi ruang pembersihan area makam.
Dalam memenuhi kebutuhan dasar, para pengungsi masih menghadapi banyak keterbatasan.
Listrik baru dapat dihidupkan sekitar satu minggu setelah banjir dengan memanfaatkan sambungan dari rumah warga di dataran bawah.
Sebelumnya, penerangan hanya mengandalkan lampu minyak dan alat seadanya.
Sementara itu, untuk kebutuhan air bersih, warga memanfaatkan air hujan yang ditampung untuk memasak dan keperluan sehari-hari.
Untuk mandi dan mencuci, warga membuat sumur darurat di sekitar lokasi pengungsian, meski hanya tersedia satu unit MCK untuk puluhan kepala keluarga.
“Harapan saya secepatnya pemerintah menanggulangi permasalahan ini, dengan keadaan seperti ini, masyarakat jelas tidak nyaman. Kami berharap secepatnya dipulihkan sebagaimana mestinya,” pungkasnya.(cr1)
Editor : Alpin.