Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sekolah yang Jadi Pengungsian di Aceh Tamiang Kini Bersiap Kembali Menjadi Ruang Belajar

Muhammad Ali • Sabtu, 3 Januari 2026 | 20:27 WIB
Pantauan Radar Bogor di SD Negeri KP Durian, Kecamatan Rantau, Kabuaten Aceh Tamiang, Sabtu, 3 Januari 2026.
Pantauan Radar Bogor di SD Negeri KP Durian, Kecamatan Rantau, Kabuaten Aceh Tamiang, Sabtu, 3 Januari 2026.

RADAR BOGOR – SD Negeri KP Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh yang sempat dijadikan tempat pengungsian warga pascabanjir bandang kini mulai berbenah. Ruang-ruang kelas sekolah yang sebelumnya dipenuhi pengungsi, lumpur, dan sisa genangan air, perlahan dibersihkan melalui gotong royong antara warga pengungsi dan pihak sekolah, Sabtu, 3 Januari 2026.

Upaya pembersihan ini dilakukan menyusul rencana dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar pada Senin, 5 Januari 2026 sesuai pengumuman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Meski demikian, kondisi sekolah masih menunjukkan bekas-bekas bencana.

Wartawan Radar Bogor Muhammad Ali dalam laporannya dari Aceh Tamiang menyampaikan lantai kelas tampak kusam dan berlumpur, sejumlah perabotan mengalami kerusakan, serta perlengkapan belajar belum sepenuhnya dapat digunakan. Situasi ini membuat proses persiapan pembelajaran berjalan dengan berbagai keterbatasan.

Warga yang sebelumnya mengungsi di sekolah tersebut dijadwalkan meninggalkan lokasi pengungsian sementara pada Jumat, 3 Januari 2026, Hal ini dilakukan agar penataan ruang kelas dan persiapan kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat dilakukan secara maksimal.

Kepala SD Negeri KP Durian, Farida Ginting, mengatakan bahwa seluruh guru di sekolah tersebut turut terdampak banjir bandang. Meski para guru tidak mengungsi di sekolah, rumah mereka ikut terendam, bahkan beberapa di antaranya hanyut terbawa arus.

“Seperti guru ini kan semuanya terdampak, guru memang tidak mengungsi, tapi rumah mereka terendam, ada juga yang beberapa rumahnya hanyut,” ujar Farida kepada Radar Bogor, Sabtu, 3 Januari 2025.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan para guru dan siswa menjadi perhatian serius. Menurut Farida, banyak siswa kehilangan pakaian serta kebutuhan pokok akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.

“Kami juga meminta bantuan untuk guru-gurunya, seperti baju yang hilang, sembako juga mereka membutuhkan,” katanya.

Tak hanya itu, perlengkapan belajar mengajar juga terdampak cukup parah, sejumlah alat mengajar rusak dan belum bisa digunakan kembali. Di tengah kondisi sekolah yang masih dipenuhi lumpur, pihak sekolah membutuhkan perlengkapan tambahan untuk mendukung aktivitas belajar.

“Alat-alat mengajar pun mereka membutuhkan, tikar dan sepatu boot juga sangat dibutuhkan di masa seperti ini karena lumpur belum bisa kami atasi. Kami bekerja secara manual,” jelasnya.

SD Negeri KP Durian memiliki 122 siswa dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 12 orang, terdiri dari 10 guru perempuan dan dua guru laki-laki. Untuk kebutuhan darurat, pihak sekolah membutuhkan sedikitnya delapan tikar, dengan rincian enam tikar untuk ruang kelas serta masing-masing satu tikar untuk kantor dan ruang dewan guru.

Hingga saat ini, Farida mengungkapkan belum ada bantuan yang diterima pihak sekolah untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Meski demikian, proses pembersihan tetap dilakukan agar kegiatan belajar mengajar tidak tertunda lebih lama.

“Sampai saat ini bantuan belum ada,” ungkapnya.

Di tengah keterbatasan yang ada, semangat untuk mengembalikan sekolah sebagai ruang belajar bagi anak-anak tetap terjaga. Gotong royong membersihkan sekolah menjadi harapan agar suara tawa dan aktivitas belajar kembali terdengar di ruang-ruang kelas yang sempat menjadi tempat bertahan hidup pascabencana.(Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#aceh tamiang #pengungsian #sekolah