RADAR BOGOR - Perubahan sistem pemilu yang terlalu sering dinilai berpotensi melemahkan konsistensi demokrasi.
Founder Vinus Indonesia, Yusfitriadi menegaskan, pentingnya evaluasi mendalam sebelum melakukan revisi sistem pemilu agar regulasi tidak terus berubah tanpa fondasi yang kuat.
Hal tersebut disampaikan Yusfitriadi dalam diskusi publik Riungan Pegiat Pemilu yang berlangsung di Vinus Empowerment Space (VES), Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Yusfitriadi menilai, evaluasi sistem pemilu menjadi kunci agar Indonesia memiliki sistem yang ajeg dan berlaku dalam jangka waktu panjang.
Menurutnya, dalam perspektif pelaksanaan undang-undang, masa lima tahun pertama penerapan regulasi sejatinya masih berada pada tahap uji coba.
Oleh karena itu, perubahan sistem setelah satu periode pemilu dinilai terlalu prematur dan belum mencerminkan hasil implementasi yang sesungguhnya.
Yusfitriadi menjelaskan, jika dalam praktik ditemukan persoalan, perbaikan seharusnya difokuskan pada aspek teknis pelaksanaan, bukan langsung mengubah sistem pemilu secara keseluruhan.
Ia menilai, koreksi teknis jauh lebih relevan apabila problem yang muncul berada pada level implementasi.
Lebih lanjut, ia mengingatkan partai politik agar tidak bersikap apologetik dengan terus menyalahkan sistem pemilu atas berbagai persoalan demokrasi.
Menurutnya, lemahnya demokrasi elektoral justru sering berakar pada dinamika internal partai yang tidak dibangun berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi.
Yusfitriadi menegaskan, selama partai politik tidak melakukan pembenahan serius terhadap tata kelola internal dan proses pengambilan keputusan yang demokratis, perubahan sistem pemilu apa pun tidak akan menghasilkan praktik demokrasi yang sehat.
Oleh karena itu, evaluasi yang jujur dan menyeluruh menjadi syarat utama sebelum wacana revisi kembali digulirkan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim