Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Cerita di Balik Perjalanan Muhammad Musa Relawan SalamAid Menembus Lumpur Aceh Tamiang, Tak Menyangka saat Pertama Kali Tiba di Lokasi Bencana

Muhammad Ali • Minggu, 4 Januari 2026 | 22:46 WIB
Muhammad Musa (baju merah) saat berbincang dengan wartawan Radar Bogor Muhammad Ali (baju hitam) di Dusun Al Ikhsan, Desa Kota Lintang Bawah, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang.
Muhammad Musa (baju merah) saat berbincang dengan wartawan Radar Bogor Muhammad Ali (baju hitam) di Dusun Al Ikhsan, Desa Kota Lintang Bawah, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang.

RADAR BOGOR – Bagi Muhammad Musa, dunia kerelawanan bukanlah hal baru. Sejak duduk di bangku SMA, ia telah mengenal kerja-kerja kemanusiaan melalui komunitas relawan di Bogor.

Hingga kini, lebih dari 15 tahun, langkahnya tak pernah jauh dari aktivitas sosial. Sehari-hari, Musa aktif di Lembaga Kemanusiaan SalamAid Bogor, mengabdikan waktunya untuk berbagai misi kemanusiaan di dalam dan luar negeri.

Dalam bencana banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang, Musa hadir sebagai Koordinator Kebencanaan SalamAid untuk wilayah Provinsi Aceh. Meski saat ini ia sebenarnya diamanahkan mengelola divisi lain di SalamAid, yakni Divisi Kepalestinaan (Salam Palestina), panggilan kemanusiaan membawanya kembali turun ke lapangan setelah sekitar tiga tahun absen dari penanganan kebencanaan.

“Baru kali ini lagi ada bencana besar, dan saya bisa datang kembali mengabdikan diri untuk kemanusiaan setelah kurang lebih tiga tahun tidak turun di kebencanaan,” kata Musa kepada Radar Bogor, Minggu, 4 Januari 2026.

Keputusan untuk berangkat ke Aceh Tamiang bukan tanpa pertimbangan, awalnya, tim SalamAid bergerak ke sejumlah wilayah lain yang juga terdampak banjir. Namun, informasi mengenai kondisi Aceh Tamiang yang ternyata jauh lebih parah baru diketahui beberapa hari setelah bencana terjadi.

“Kita baru tahu Aceh Tamiang separah ini di hari A+4, A+5, waktu itu kok kosong tim SalamAid di sana,” ujar Musa kepada wartawan Radar Bogor Muhammad Ali di Aceh Tamiang.

Melihat kondisi tersebut, Musa yang berasal dari divisi berbeda akhirnya diutus untuk turun langsung. Tanpa ragu, ia menyatakan siap dan informasi yang beredar di media sosial memperkuat keyakinannya bahwa Aceh Tamiang membutuhkan bantuan segera.

Perjalanan menuju Aceh Tamiang menjadi pengalaman yang tak akan pernah dilupakannya. Dari Medan, melewati jalan tol hingga keluar di Pangkalan Brandan, tanda-tanda bencana sudah terlihat. Lumpur masih menyelimuti wilayah Langkat, warga berdiri di pinggir jalan menanti bantuan, sebagian dengan tatapan kosong penuh harap.

Namun, apa yang ia lihat setelah memasuki perbatasan Kabupaten Aceh Tamiang jauh di luar bayangannya.

“Saya benar-benar kaget, dari jalan utama saja, rumah-rumah hancur, rata dengan tanah, orang-orang berdiri di pinggir jalan, mengadahkan tangan, berharap bantuan, itu sepanjang perbatasan Langkat sampai Langsa,” tutur sambil menahan air mata.

Baginya, ini bukan lagi bencana biasa, skala kerusakan yang melanda hampir seluruh kabupaten membuat Musa beberapa kali harus menahan air mata dan mengaku tak pernah membayangkan satu wilayah bisa lumpuh sedemikian rupa.

“Ini satu kabupaten meminta bantuan, landscapenya rumah hancur semua, saya kira banjirnya seperti biasa, satu kelurahan atau satu kecamatan, ternyata ini satu kabupaten, bahkan ada wilayah yang terisolir,” bebernya dengan mata berkaca kaca.

Pemandangan di Kampung Durian menjadi salah satu momen paling membekas, lumpur menutupi hampir seluruh permukiman. Warga berjalan dengan tubuh dan wajah penuh lumpur. Ada yang mencuci pakaian dengan air bercampur lumpur, bahkan ada yang makan di tengah kondisi tersebut.

“Itu bikin saya benar-benar terpukul, ini bencana skala nasional, ini bencana besar,” ucapnya lirih.

Di tengah keterkejutan dan kesedihan itu, Musa justru menemukan kembali semangatnya. Ia merasa kehadirannya di Aceh Tamiang adalah hal yang sangat urgen dan bermakna. Bersama SalamAid, ia bergerak membantu warga, mendampingi anak-anak, dan menguatkan masyarakat yang terdampak.

“Mungkin kita nggak akan ke Aceh Tamiang kalau gak ada bencana ini, tapi justru di sini saya merasa sangat dibutuhkan. Alhamdulillah, keberadaan saya bisa bermanfaat, dan itu yang membuat saya terus semangat membantu saudara-saudara kita di Aceh Tamiang,” tutupnya.

Di antara lumpur, reruntuhan rumah, dan tatapan lelah para penyintas, langkah Muhammad Musa menjadi gambaran tentang pengabdian yang lahir dari empati. Sebuah perjalanan kemanusiaan yang bukan sekadar tentang datang membantu, tetapi tentang hadir dan membersamai mereka yang sedang diuji oleh sang maha kuasa. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#bencana #Musa #aceh tamiang #relawan #SalamAid