Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sekolah Perdana Pascabanjir Bandang, Anak-anak Kampung Durian Aceh Tamiang Belajar di Atas Terpal dengan Semangat yang Tak Surut

Muhammad Ali • Senin, 5 Januari 2026 | 15:28 WIB
Anak-anak Sekolah Dasar Negeri Kampung Durian, Kabupaten Aceh Tamiang.
Anak-anak Sekolah Dasar Negeri Kampung Durian, Kabupaten Aceh Tamiang.

RADAR BOGOR – Tanpa bangku, tanpa meja, dan dengan lantai beralaskan terpal, proses belajar kembali dimulai di SD Negeri Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.

Senin, 5 Januari 2026 menjadi hari pertama anak-anak kembali ke sekolah setelah lebih dari sebulan dihantam banjir bandang yang merusak rumah, jalan, dan fasilitas pendidikan.

Pagi itu, langkah-langkah kecil anak-anak menyusuri akses menuju sekolah yang masih berlumpur.

Sepatu paco sebutan sepatu boot di Aceh Tamiang menjadi alas kaki yang paling aman, meski tidak semua siswa memilikinya.

Namun keterbatasan tersebut tak menghalangi semangat mereka untuk kembali ke ruang belajar dan bertemu teman-teman serta guru.

Kepala Sekolah SD Negeri Kampung Durian, Farida Ginting, mengatakan hari ini menjadi momen yang sangat emosional bagi para guru.

Sekolah kembali dibuka setelah lebih dari satu bulan terhenti akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.

“Alhamdulillah, hari ini tanggal 5 Januari 2026 adalah hari pertama sekolah setelah pascabanjir bandang. Jujur, bayangan kami anak-anak yang hadir mungkin hanya sekitar 50 persen, karena rumah mereka banyak yang terdampak parah, bahkan ada yang hanyut,” ujarnya kepada Radar Bogor, Senin 5 Januari 2026.

Di luar dugaan, jumlah siswa yang hadir justru melebihi ekspektasi pihak sekolah. Anak-anak datang dengan wajah ceria meski kondisi sekolah jauh dari kata layak.

Beberapa ruang kelas masih kosong tanpa bangku dan meja, sementara lantainya belum sepenuhnya bersih dari sisa lumpur.

“Yang hadir hari ini melebihi ekspektasi kami dan para guru. Anak-anak juga terlihat bahagia karena bisa kembali bertemu teman dan guru. Beginilah kondisi yang bisa kami berikan saat ini,” katanya.

Keterbatasan fasilitas membuat proses belajar dilakukan dengan duduk di lantai beralaskan terpal.

Terpal tersebut merupakan bantuan dari donatur yang sangat membantu agar kegiatan sekolah tetap bisa berjalan. Di hari pertama ini, pembelajaran pun belum difokuskan pada materi akademik.

“Hari ini kami tidak fokus ke pelajaran. Kami lebih banyak melakukan trauma healing, memberikan semangat dan penguatan mental kepada anak-anak pascabanjir,” jelasnya.

Meski serba terbatas, antusiasme dan semangat anak-anak menjadi penguat bagi para guru.

Sebagian siswa datang tanpa seragam lengkap, bahkan ada yang tidak memiliki pakaian sekolah sama sekali karena hanyut terbawa banjir.

“Meskipun ada beberapa yang cerita mereka juga nggak ada baju. kami juga kasih semangat dan motivasi tidak akan kalah dengan pakaian yang dipakai hari ini, karena betul memang semua, nggak ada yang tersisa,” tambahnya.

Farida berharap ke depan ada perhatian lebih untuk pemulihan pendidikan di Kampung Durian.

Kebutuhan dasar sekolah masih sangat banyak, mulai dari seragam, alat tulis, hingga fasilitas penunjang belajar lainnya.

“Harapan kami, ada dermawan yang melirik keadaan anak-anak kami. Mereka butuh seragam, alat tulis, dan fasilitas belajar supaya proses pembelajaran bisa lebih maksimal,” imbuhnya.

Selain itu, sepatu paco atau sepatu boot juga menjadi kebutuhan mendesak. Akses menuju sekolah masih dipenuhi lumpur dan licin, sehingga berisiko bagi keselamatan anak-anak.

“Anak-anak sangat membutuhkan sepatu paco, karena kondisi jalan menuju sekolah memang seperti ini,” katanya.

Salah satu siswi kelas VI, Aqila Nasita, mengaku sangat senang bisa kembali ke sekolah meski kondisinya belum pulih.

Setelah lebih dari sebulan di rumah, hari pertama sekolah menjadi momen yang ia tunggu.

“Senang, bahagia bisa ketemu teman-teman dan guru lagi setelah satu bulan lebih,” ucap Aqila polos.

Menurut Aqila, jarak rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Namun ia berharap kondisi desanya segera pulih seperti sebelum banjir bandang melanda Aceh Tamiang. “Semoga cepat pulih seperti sebelum sebelumnya,” pungkasnya.

Aqila menyebut seragam dan peralatan tulis menjadi hal paling ia butuhkan saat ini.

Di tengah lumpur, terpal, dan keterbatasan fasilitas, hari pertama sekolah di SD Negeri Kampung Durian menjadi simbol kebangkitan kecil pascabencana.(cr1)

Editor : Alpin.
#aceh tamiang #anak sekolah #pascabanjir Aceh Tamiang