RADAR BOGOR – Lembaga kemanusiaan SalamAid terus menunjukkan komitmennya dalam merespons bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Berbasis pada gerakan pendidikan dan kerelawanan, SalamAid hadir membersamai warga terdampak sejak masa tanggap darurat hingga proses pemulihan.
SalamAid pertama kali hadir di Bogor, tepatnya di Sekolah Alam Bogor, pada 1 Muharram 1439 Hijriah atau bertepatan dengan 21 September 2017.
Sejak itu, SalamAid tumbuh bersama ekosistem kebaikan dan Jaringan Sekolah Alam Nusantara sebagai lembaga kemanusiaan yang gerakannya berbasis dunia pendidikan.
Koordinator Relawan SalamAid, Muhammad Musa, mengatakan selama bencana banjir bandang ini pihaknya membuka sejumlah titik konsentrasi bantuan di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Kami memiliki empat titik konsentrasi. Khusus di Aceh, SalamAid membuka posko di Aceh Tamiang dan Pidie Jaya. Sementara di wilayah lain ada posko di Langsa, serta dukungan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat,” ujarnya kepada Radar Bogor, Selasa 6 Januari 2026.
Ia menjelaskan, di Aceh Tamiang sendiri SalamAid mengoperasikan dua posko aktif. Kehadiran posko-posko tersebut menjadi bukti keseriusan SalamAid dalam membersamai warga hingga kondisi benar-benar pulih.
“Awalnya bahkan ada tiga sampai empat posko. Ini menunjukkan bahwa SalamAid tidak hanya datang lalu pergi, tapi berkomitmen mendampingi warga sampai pulih,” katanya.
Dalam penyaluran bantuan, SalamAid memprioritaskan kebutuhan dasar warga terdampak, mulai dari sembako, kebutuhan balita, lansia, hingga perlindungan kesehatan.
Salah satu kebutuhan mendesak yang masih sangat dibutuhkan warga adalah kelambu.
“Bagi kita mungkin kelambu itu sederhana. Tapi di sini, tanpa kelambu mereka tidak bisa tidur karena nyamuk. Warga tinggal di tenda, sampah di mana-mana, kondisi tidak normal. Itu jadi penderitaan tersendiri,” ungkapnya.
Ia menambahkan, hasil asesmen terbaru menunjukkan kebutuhan kelambu masih tinggi, termasuk di wilayah Sekerak dan daerah-daerah terisolir seperti Tampur Paloh dan Babo.
Meski tidak terdampak langsung, wilayah-wilayah tersebut mengalami keterisolasian sehingga tetap membutuhkan bantuan.
SalamAid juga mengutamakan kelompok rentan dalam distribusi bantuan, seperti lansia, bayi, dan anak-anak.
Selain itu, pendampingan psikososial dan aktivitas belajar anak-anak terus dilakukan bersama relawan.
Dalam menjalankan aksi kemanusiaan, SalamAid berkolaborasi dengan berbagai pihak. Jaringan Sekolah Alam Nusantara menjadi mitra utama yang secara konsisten terlibat sejak awal.
“Ada sekitar 200 sekolah alam dari Aceh sampai Papua yang ikut berkontribusi. Bahkan sampai malam ini, teman-teman dari Medan masih mendampingi anak-anak untuk belajar, bermain, dan mengaji,” jelasnya.
Selain itu, kolaborasi juga terjalin dengan CSR perusahaan, media massa seperti Radar Bogor, relawan independen, hingga para influencer yang turun langsung ke lapangan bahkan pemerintahan seperti pemerintah kota Bogor yang sempat datang langsung ke lokasi bencana.
“Mereka datang bukan sekadar bikin konten, tapi benar-benar membantu. Ada yang ikut bangun sumur bor, MCK, dan ke depan kami sedang mempersiapkan pembangunan hunian sementara (huntara),” katanya.
Menurutnya, kondisi pengungsian saat ini sudah sangat memprihatinkan. Dalam satu tenda, bisa dihuni empat hingga sepuluh kepala keluarga, yang tentu berdampak buruk secara kesehatan dan psikologis.
“Sudah satu bulan lebih warga tinggal di tenda. Secara biologis dan kemanusiaan ini tidak baik. Alhamdulillah, beberapa mitra sudah siap berkolaborasi untuk pembangunan huntara bersama SalamAid,” pungkasnya.
Melalui pendekatan pendidikan, kemanusiaan, dan kerelawanan, SalamAid berharap proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih menyeluruh dan berkelanjutan bagi warga terdampak.(cr1)
Editor : Alpin.