Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dari Logistik hingga Keamanan, Tantangan Relawan SalamAid di Wilayah Pascabanjir Sumatera

Muhammad Ali • Selasa, 6 Januari 2026 | 16:55 WIB
Relawan SalamAid, Muhammad Musa berbincang dengan warga Dusun Al Ikshan, Kabupaten Aceh Tamiang.
Relawan SalamAid, Muhammad Musa berbincang dengan warga Dusun Al Ikshan, Kabupaten Aceh Tamiang.

RADAR BOGOR – Upaya pendampingan warga terdampak banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara hingga Sumatera Barat, tidak lepas dari berbagai tantangan di lapangan.

Relawan SalamAid yang sejak awal hadir di wilayah terdampak mengungkapkan, persoalan logistik hingga faktor keamanan menjadi tantangan utama dalam menjalankan misi kemanusiaan pascabencana.

Koordinator Relawan SalamAid, Muhammad Musa, mengatakan kondisi di Aceh, Sumatera Utara hingga Sumatera Barat terkhusus pascabanjir belum sepenuhnya pulih terkhusus di Kabupaten Aceh Tamiang.

Aktivitas ekonomi sempat lumpuh, membuat harga kebutuhan pokok melonjak dan sulit dijangkau oleh warga maupun relawan.

“Daerah ini sempat seperti kota mati dan sampai sekarang belum benar-benar pulih. Harga-harga masih mahal. Cabai saja bisa dua kali lipat dari harga normal, belum lagi sayur dan kebutuhan pemenuhan gizi warga,” ujarnya kepada Radar Bogor, Selasa 6 Januari 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut turut berdampak pada operasional dapur umum. Kenaikan harga bahan pangan membuat biaya penyediaan makanan bagi pengungsi meningkat signifikan, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi relawan di lapangan.

“Kebutuhan dapur umum ikut terdampak. Harga bahan naik, sementara pasokan juga terbatas,” katanya.

Tak hanya persoalan harga, keterbatasan akses distribusi juga menjadi kendala serius. Jika suatu barang tidak tersedia di Aceh Tamiang, relawan harus mencarinya ke daerah lain seperti Kota Langsa.

Namun, ketersediaan barang di wilayah tersebut juga terbatas, sehingga alternatif terdekat harus ke Medan dengan jarak dan waktu tempuh yang tidak singkat.

Musa mencontohkan kebutuhan spesifik warga yang sulit dipenuhi, seperti kacamata plus bagi lansia.

Salah seorang warga kehilangan kacamatanya akibat banjir dan membutuhkan kacamata dengan ukuran khusus.

“Kacamata plus 12 itu sulit dicari. Harus ke Medan dan masih harus antre. Hal-hal teknis seperti ini sering luput, tapi sangat dibutuhkan warga,” jelasnya.

Selain logistik, faktor keamanan juga menjadi perhatian utama. Sejumlah wilayah terdampak masih terisolasi dan memiliki risiko tinggi, terutama saat relawan harus melintasi sungai atau daerah yang belum sepenuhnya aman.

“Warga juga mengingatkan kalau di sungai masih ada buaya. Itu tentu berisiko bagi relawan,” ungkapnya.

Untuk meminimalkan risiko, SalamAid menerapkan standar keselamatan yang ketat.

Setiap relawan dibekali alat pelindung diri (APD) seperti pelampung dan helm keselamatan, terutama saat harus menggunakan perahu atau melintasi wilayah rawan.

“Kami selalu menyiapkan APD. Relawan tidak diperbolehkan menyeberang atau bergerak di area berisiko tanpa perlengkapan keselamatan, karena kita tidak tahu potensi kecelakaan di lapangan,” tegasnya.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, SalamAid memastikan komitmennya untuk terus mendampingi warga hingga kondisi benar-benar pulih.

Bagi para relawan, keterbatasan bukan menjadi alasan untuk berhenti, melainkan dorongan untuk terus hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan.(cr1)

Editor : Alpin.
#aceh tamiang #bencana Sumatera #SalamAid