RADAR BOGOR – Di sudut Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, berdiri sebuah kedai kopi sederhana dengan nama yang terasa jauh dari Tanah Rencong. Terpampang jelas di bagian depan bangunan Kedai Kopi Bogor.
Nama itu bukan sekadar penanda tempat, melainkan jejak perjalanan hidup, pertemuan lintas daerah, dan warisan seorang ibu yang bertahan hingga kini.
Kedai tersebut dikelola oleh Muhammad Noor (51), di balik secangkir kopi dan makanan yang disajikannya setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang orang tua, perjuangan hidup dari nol, dan keteguhan bertahan di tengah bencana.
“Ibu saya orang Bogor. Bapak orang Langsa, dulu jualan kaki lima, jual kerang rebus,” tutur Noor saat ditemui Radar Bogor, Selasa 6 Januari 2026.
Kisah itu bermula ketika sang ibu merantau dari Bogor ke Aceh. Saat itu, keduanya belum saling mengenal.
Pertemuan terjadi secara sederhana, di tengah aktivitas sang ayah yang berjualan kerang rebus sebagai pedagang kaki lima.
Dari perkenalan singkat itu, tumbuh hubungan yang kemudian berujung pada pernikahan.
Setelah menikah, sang ibu memilih meninggalkan Bogor dan ikut menetap bersama suaminya di Aceh Tamiang, kehidupan awal mereka jauh dari kata mapan.
Keduanya sama-sama menjalani hari sebagai pedagang kaki lima, berpindah-pindah, bertahan dengan penghasilan seadanya.
“Pertamanya jualan kaki lima juga lumayan lama. Akhirnya memutuskan beli ruko, lalu jualan di sini,” ujar Noor.
Dari ruko kecil itulah Kedai Kopi Bogor lahir. Nama Bogor dipilih sebagai penanda asal sang ibu, sekaligus pengikat kenangan akan kampung halaman yang jauh di Pulau Jawa.
Kedai itu menjadi saksi bagaimana keluarga kecil tersebut perlahan membangun kehidupan dari bawah, mengandalkan kerja keras dan ketekunan.
Waktu terus berjalan. Sang ibu, sosok sentral di balik berdirinya kedai, kemudian meninggal dunia.
Sejak saat itu, tongkat estafet usaha keluarga jatuh ke tangan Muhammad Noor. “Ibu meninggal dunia, saya teruskan usaha ibu,” katanya singkat, dengan nada lirih.
Ujian terbesar datang beberapa waktu lalu, ketika banjir bandang melanda Aceh Tamiang dan sejumlah wilayah di Sumatera. Kedai Kopi Bogor tak luput dari terjangan air bah.
Bangunan kedai terendam banjir hingga setinggi sekitar tiga meter, merusak perabot, perlengkapan usaha, dan meninggalkan puing-puing lumpur tebal. “Kena banjir juga kemarin. Air sampai tiga meter,” kenang Noor.
Lebih dari sebulan, kedai itu terdiam. Noor harus membersihkan sisa-sisa banjir sedikit demi sedikit, sambil menghadapi kenyataan pahit, usaha berhenti, penghasilan terputus, dan tabungan terus menipis.
“Baru jualan lagi sekitar sepuluh hari ini. Hampir setengah bulan lebih duit kita nggak ada, nggak ada yang ngasih, tabungan menipis terus. Ya cuma usaha ini harapannya,” ucapnya pelan.
Hari-hari pascabanjir dijalani dengan penuh keterbatasan. Aktivitas ekonomi belum sepenuhnya pulih, pelanggan belum seramai dulu, namun Noor memilih bertahan.
Ia membuka kembali Kedai Kopi Bogor dengan kondisi seadanya, menata ulang bangunan yang sempat porak-poranda.
Bagi Noor, kedai ini bukan sekadar tempat mencari nafkah. Kedai Kopi Bogor adalah peninggalan ibu, simbol perjuangan orang tua, dan pengikat kisah keluarga lintas daerah yang tak ingin ia biarkan hilang ditelan bencana.
Di tengah kota yang perlahan bangkit dari luka banjir bandang, aroma kopi kembali mengepul dari Kedai Kopi Bogor.
Menjadi penanda bahwa di balik kehilangan dan keterpurukan, masih ada tekad untuk bertahan menjaga warisan seorang ibu dari Bogor, jauh di ujung Aceh. (Cr1)
Editor : Alpin.