RADAR BOGOR – Setelah sebulan dilanda bencana ekologis yang memutus sejumlah akses vital, konektivitas darat di Aceh perlahan mulai pulih.
Salah satunya ditandai dengan kembali tersambungnya Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh, yang menjadi penghubung utama Jalan Nasional Banda Aceh–Medan.
Saat bencana ekologis terjadi, satu ruas Jembatan Krueng Tingkeum putus akibat dihantam banjir bandang dan longsor.
Kondisi tersebut membuat akses transportasi dari Banda Aceh menuju Medan dan sebaliknya lumpuh total, terutama bagi kendaraan roda empat ke atas yang tidak dapat melintas sama sekali.
Selama jembatan terputus, warga dan pengendara roda dua terpaksa menyeberang menggunakan perahu nelayan.
Penyeberangan tersebut tidak gratis, dengan tarif Rp10 ribu per orang dan Rp50 ribu hingga Rp80 ribu per unit sepeda motor, tergantung kondisi arus sungai.
Jembatan Krueng Tingkeum mulai kembali dioperasikan pada Jumat (26/12/2025) setelah rampung dipasang jembatan bailey atau rangka baja portabel.
Jembatan ini berada di lintas timur Sumatera, tepat di perbatasan Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara, sehingga menjadi urat nadi pergerakan orang dan barang antarwilayah.
Turjawali Sat Lantas Polres Bireuen, Briptu Heri Haryadi mengatakan saat ini, pengoperasian jembatan diberlakukan dengan sistem buka-tutup diterapkan secara situasional.
Menyesuaikan dengan kepadatan kendaraan di lapangan guna menjaga kelancaran dan keselamatan arus lalu lintas, mengingat kapasitas maksimal jembatan darurat tersebut hanya 30 ton.
"Waktunya tergantung kepadatan kendaraan, tidak selalu satu jam. Kalau ramai, sebentar sudah ditutup lagi,” ujarnya kepada Radar Bogor saat ditemui di lokasi jembatan, Rabu 7 Januari 2026.
Pantauan Radar Bogor pada pukul 08.05 WIB menunjukkan arus lalu lintas terpantau cukup ramai. Meski demikian, Heri menilai kondisi tersebut belum bisa disebut padat maksimal.
“Dari jam dua dini hari sampai jam delapan pagi itu relatif sepi. Kepadatan biasanya terjadi siang hari, mulai jam anak sekolah hingga aktivitas masyarakat, dan padat sampai sekitar jam sepuluh malam,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, panjang jembatan darurat saat ini berbeda dibandingkan sebelumnya.
Longsor besar saat banjir bandang menyebabkan struktur jembatan harus dibuat lebih panjang untuk menyesuaikan kondisi tanah yang berubah.
“Awalnya jembatan ini tidak sepanjang sekarang. Karena longsor, akhirnya dibuat lebih panjang,” ungkapnya.
Pemulihan Jembatan Krueng Tingkeum menjadi simbol penting bangkitnya akses transportasi Aceh pascabencana.
Selain memulihkan mobilitas masyarakat, jembatan ini juga berperan vital dalam memperlancar distribusi logistik dan menggerakkan kembali aktivitas ekonomi di lintas nasional Banda Aceh–Medan.(cr1)
Editor : Alpin.