Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Enam Hari Bersama Aceh Tamiang, Perpisahan yang Berat dari Tanah Penuh Ketangguhan

Muhammad Ali • Rabu, 7 Januari 2026 | 19:59 WIB
Tim ekspedisi Radar Bogor saat berada di Kabupaten Aceh Tamiang.
Tim ekspedisi Radar Bogor saat berada di Kabupaten Aceh Tamiang.

RADAR BOGOR – Selama enam hari berada di Kabupaten Aceh Tamiang, tim ekspedisi Radar Bogor membersamai Relawan SalamAid menyusuri jejak bencana banjir bandang yang meninggalkan luka mendalam bagi warga.

Hari-hari tersebut diisi dengan peliputan lapangan, pendokumentasian kondisi pengungsian, serta interaksi langsung dengan masyarakat yang terdampak.

Tidak sekadar menjalankan tugas jurnalistik, tim juga menyatu dengan denyut kehidupan warga yang berusaha bangkit di tengah keterbatasan.

Aceh Tamiang menerima tim Radar Bogor dengan sambutan hangat dan penuh kekeluargaan.

Dari tenda pengungsian hingga ruang kelas darurat, dari dapur umum hingga jalan-jalan berlumpur yang dilalui bersama, warga selalu menyapa dengan senyum.

Meski bencana meninggalkan duka dan kerusakan, semangat hidup dan ketangguhan masyarakat tetap terasa kuat dalam setiap perjumpaan.

Tugas peliputan akhirnya usai. Dengan perasaan berat hati, tim Radar Bogor meninggalkan Aceh Tamiang pada Rabu (7/1/2026) pukul 01.00 WIB.

Perjalanan panjang menuju Banda Aceh ditempuh sebagai bagian dari kepulangan, namun juga menjadi momen refleksi atas kebersamaan yang terjalin selama enam hari penuh makna.

Salah seorang warga Dusun Al Ikhsan, Muhammad Hasan (61), turut mengiringi kepergian tim dengan pesan dan doa.

Dia menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran serta kepedulian yang diberikan sejak hari-hari awal pascabencana.

“Hati-hati di jalan, titip salam untuk teman-teman di Bogor. Terima kasih sudah menengok kami yang kena musibah di sini. Teman-teman dari Bogor sudah kami anggap sebagai keluarga, karena yang pertama membantu kami di sini teman-teman dari Bogor,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Ucapan serupa juga datang dari lingkungan pendidikan yang turut terdampak banjir bandang.

Kepala SD Negeri Kampung Durian, Farida, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan kepada sekolah dan para guru di tengah keterbatasan sarana belajar.

“Semoga Allah memberikan perlindungan selalu. Terima kasih ya bantuannya Jurnalis Radar Bogor, Hendi dan Ali,” tuturnya.

Dalam perjalanan menuju Banda Aceh, tim ekspedisi Radar Bogor menempuh jalur Lintas Timur Sumatra.

Rute tersebut melintasi Karang Baru dan Kuala Simpang, kemudian Kota Langsa, Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireuen, hingga Sigli di Kabupaten Pidie.

Perjalanan dilanjutkan melewati Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Besar sebelum akhirnya tiba di Banda Aceh.

Di tengah perjalanan, tepatnya Rabu (7/1/2026) pukul 08.05 WIB, tim berhenti sejenak di Jembatan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen.

Jembatan yang sempat terputus akibat banjir bandang tersebut kini kembali tersambung dan menjadi simbol pemulihan akses transportasi vital masyarakat Aceh.

Pewarta Foto Radar Bogor, Hendi Novian, mengungkapkan bahwa perjalanan selama enam hari di Aceh Tamiang memberikan pelajaran kemanusiaan yang mendalam baginya sebagai jurnalis.

Dia menilai peran dokumentasi visual menjadi bagian penting dalam menyuarakan kondisi warga terdampak bencana.

“Saya tidak bisa memberikan donasi, baik sembako maupun finansial. Saya hanya bisa memotret keadaan di Aceh Tamiang dan menginformasikan para donatur yang ingin memberikan bantuan ke sana agar tepat sasaran,” ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Reporter Radar Bogor, Muhammad Ali, menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat warga Aceh Tamiang selama proses peliputan berlangsung.

Ia berharap karya jurnalistik yang dihasilkan dapat menjadi jembatan informasi sekaligus empati bagi masyarakat luas.

“Semoga tulisan yang saya buat bisa memberikan informasi bagi teman-teman di luar sana tentang kondisi Aceh Tamiang, dan mudah-mudahan bisa menggerakkan hati para dermawan untuk membantu,” ujarnya penuh harap.

Ali juga menyampaikan doa dan kekagumannya terhadap ketangguhan warga Aceh Tamiang, khususnya anak-anak yang tetap mampu tersenyum di tengah keterbatasan.

Ia menegaskan bahwa pengalaman enam hari tersebut akan menjadi catatan penting dalam perjalanan jurnalistiknya.

“Terima kasih untuk enam hari yang penuh kenangan. Dengan segala hormat dan rasa haru, saya pamit undur diri dari Aceh Tamiang,” pungkasnya.

Kini, tim ekspedisi Radar Bogor telah tiba di Banda Aceh setelah menempuh perjalanan darat sekitar 12 jam menggunakan kendaraan roda empat.

Selanjutnya, tim dijadwalkan melakukan eksplorasi singkat di Banda Aceh sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Bogor, membawa pulang cerita, pelajaran, dan nilai kemanusiaan dari tanah rencong.(cr1)

Editor : Alpin.
#aceh tamiang #korban bencana #SalamAid #radar bogor