Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Masjid Raya Baiturrahman, Jejak Iman di Ujung Perjalanan Tim Ekspedisi Radar Bogor

Muhammad Ali • Kamis, 8 Januari 2026 | 16:28 WIB
Suasana Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Suasana Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

RADAR BOGOR – Sebelum kembali ke Bogor, Tim Ekspedisi Radar Bogor menyempatkan langkah singgah ke salah satu ikon paling bersejarah di Tanah Rencong, Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis 8 Januari 2026.

Kunjungan ini menjadi penutup perjalanan panjang liputan kemanusiaan di Aceh, sekaligus ruang jeda untuk menyerap nilai sejarah dan spiritualitas yang hidup di jantung ibu kota provinsi tersebut.

Di bawah langit Banda Aceh yang cerah, tujuh kubah hitam Masjid Raya Baiturrahman tampak menjulang kokoh.

Pilar-pilar putih berdiri tegak menopang bangunan tua itu, memancarkan wibawa sekaligus keteduhan.

Di tengah denyut kota yang terus bergerak, masjid ini berdiri anggun, seolah menjadi penyeimbang antara dunia dan akhirat, antara hiruk pikuk dan keheningan doa.

Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar tempat ibadah umat Islam. Ia adalah simbol kebanggaan Aceh, penanda identitas, sekaligus saksi bisu perjalanan panjang sejarah Tanah Rencong.

Setiap langkah yang memasuki pelatarannya seakan mengajak pengunjung menengok masa lalu, menyelami kisah iman, perjuangan, dan keteguhan sebuah bangsa.

Aktivitas di masjid tak pernah benar-benar berhenti. Jamaah datang silih berganti, wisatawan berbaur dengan warga lokal, anak-anak berlarian di pelataran granit putih, sementara sebagian lain memilih duduk diam menikmati suasana.

Petugas Masjid Raya Baiturrahman, Putra mengatakan masjid ini hampir setiap hari selalu ramai pengunjung yang hendak beribadah maupun wisata religi.

“Kalau ramai, tiap hari ramai. Tapi kalau hari libur, lebih ramai lagi, sampai ribuan,” ujarnya kepada Radar Bogor, Kamis 8 Januari 2026.

Masjid Raya Baiturrahman berdiri di kawasan yang dahulu dikenal dengan nama Bustanussalatin.

Ia pertama kali dibangun pada tahun 1612 M oleh Sultan Iskandar Muda, penguasa Aceh pada periode 1607–1636.

Sejak awal, masjid ini menjadi pusat kehidupan keagamaan sekaligus simbol kejayaan Kesultanan Aceh.

Namun perjalanan sejarahnya tak selalu mulus. Dalam agresi militer Belanda ke Aceh, Masjid Raya Baiturrahman sempat dibakar oleh Jenderal Van Swieten.

Peristiwa itu meninggalkan luka dan trauma mendalam bagi masyarakat Aceh. Dari puing-puing kehancuran itulah, masjid ini kembali dibangun.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 9 Oktober 1879 oleh Tengku Qadhi Malikul Adil, dan pembangunan rampung pada 27 Desember 1881.

Menariknya, pada masa awal peresmiannya, tak sedikit masyarakat Aceh yang enggan beribadah di masjid ini karena dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

Namun seiring waktu, masjid kembali diterima dan justru menjelma sebagai simbol perlawanan kultural dan spiritual rakyat Aceh.

Secara arsitektur, Masjid Raya Baiturrahman mengadopsi gaya Islam dari berbagai wilayah, terutama Turki. Awalnya, masjid ini hanya memiliki satu kubah besar yang kini menjadi kubah utama.

Pada tahun 1935, dua kubah tambahan dibangun di sisi kiri dan kanan. Hingga kini, masjid ini memiliki tujuh kubah yang menjadi ciri khasnya.

Kubah-kubah tersebut ditopang oleh tiang-tiang putih yang kokoh. Ornamen dan lampu hias menggantung indah di bagian atap, menambah kesan megah di ruang utama salat.

Seluruh ventilasi udara kini dilapisi kaca dan dilengkapi pendingin ruangan, memberikan kenyamanan bagi jamaah yang datang dalam jumlah besar.

Meski menjadi magnet wisata religi, fungsi utama masjid tetap dijaga sebagai tempat ibadah. Masjid ini hanya digunakan untuk salat dan kegiatan keagamaan.

Namun halaman masjid terbuka bagi jamaah dan pengunjung untuk beristirahat dan menikmati suasana.

Untuk kunjungan wisata, masjid dibuka sejak pukul 05.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB, sementara untuk ibadah, jamaah diperbolehkan datang kapan saja.

“Pengunjung dari seluruh daerah ada, dari luar negeri juga ada,” tutur Putra sambil menyapa rombongan wisatawan yang baru tiba.

Masjid Raya Baiturrahman berdiri di atas lahan seluas lebih dari 30 ribu meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 4.000 meter persegi.

Kapasitasnya mampu menampung puluhan ribu jamaah, terutama saat salat Jumat, hari besar Islam, maupun bulan Ramadan.

Wajah masjid semakin menawan sejak renovasi besar pada 2017. Halaman rumput diganti dengan lantai granit putih yang luas, dilengkapi payung-payung raksasa menyerupai yang ada di pelataran Masjid Nabawi di Madinah.

Di bawah pelataran granit itu, dibangun area parkir dan tempat wudu yang tertata rapi.

Payung-payung raksasa tersebut bukan sekadar memperindah tampilan, tetapi juga memberi kesejukan bagi jamaah dan pengunjung, terutama saat matahari Banda Aceh terasa terik.

Masjid ini juga menjadi saksi kisah-kisah bahagia. Hampir setiap pagi, selalu ada pasangan yang melangsungkan akad nikah di Masjid Raya Baiturrahman.

“Setiap hari ada. Sehari bisa dua sampai empat pasangan,” tutup Putra.

Lebih dari itu, Masjid Raya Baiturrahman menyimpan makna yang jauh lebih dalam bagi masyarakat Aceh.

Bangunan ini menjadi saksi bisu dahsyatnya tsunami tahun 2004. Saat gelombang besar meluluhlantakkan Banda Aceh dan sekitarnya, masjid ini tetap berdiri kokoh dan menjadi tempat berlindung ribuan warga.

Kini, Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya monumen sejarah, tetapi juga simbol keteguhan iman dan daya hidup masyarakat Aceh.

Di bawah tujuh kubahnya, sejarah, luka, harapan, dan doa menyatu menjadi pengingat bahwa dari setiap kehancuran, selalu ada kekuatan untuk bangkit, dengan iman sebagai fondasinya.

Sebagai informasi, rangkaian perjalanan Tim Ekspedisi Radar Bogor ke Aceh dalam misi liputan kemanusiaan dan penelusuran sejarah ini terlaksana berkat dukungan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bogor dan Pemerintah Kota Bogor, serta SalamAid yang mendampingi tim sepanjang perjalanan.(cr1)

Editor : Alpin.
#masjid raya baiturrahman #radar bogor #aceh