RADAR BOGOR – Langit Banda Aceh sore itu tampak teduh ketika Tim Ekspedisi Radar Bogor melangkah masuk ke Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Kamis 8 Januari 2026.
Setelah sepekan menyusuri Aceh dalam liputan kemanusiaan, tempat ini menjadi persinggahan terakhir sebelum kembali ke Bogor.
Bukan sekadar kunjungan, museum ini menghadirkan ruang sunyi untuk mengingat tragedi 26 Desember 2004 saat gelombang raksasa mengubah wajah Aceh dan meninggalkan luka mendalam yang hingga kini masih dirawat melalui ingatan dan harapan.
Sebelumnya, tim lebih dahulu menyusuri jejak spiritual di Masjid Raya Baiturrahman, saksi bisu keteguhan iman di tengah gelombang dahsyat.
Museum Tsunami Aceh tidak sekadar berdiri sebagai bangunan memorial. Ia hadir sebagai ruang ingatan kolektif, tempat duka dirawat agar tidak dilupakan.
Lebih dari 200 ribu jiwa melayang dalam peristiwa itu, di museum ini, luka masa lalu diolah menjadi pelajaran tentang kemanusiaan, ketangguhan, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Diresmikan pada 2009, Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek Ridwan Kamil dengan konsep filosofis yang kuat.
Dari luar, bangunannya menyerupai gelombang laut raksasa, simbol kedahsyatan tsunami yang pernah menerjang daratan.
Namun di balik bentuk yang menggambarkan amukan alam, terselip pesan tentang daya tahan manusia yang mampu bangkit dari keterpurukan.
Pengunjung, Andri Mahdani Fazli, siswa SMAN 2 Banda Aceh. Bagi Andri, museum ini bukan tempat asing.
Ia mengaku sudah empat kali datang ke Museum Tsunami Aceh, namun setiap kunjungan selalu menghadirkan rasa dan pelajaran yang berbeda.
“Yang pertama saya ambil itu dari desain arsitekturnya yang bagus. Lalu pelajaran tentang para korban tsunami yang sabar menghadapi bencana yang begitu besar,” ujarnya kepada Radar Bogor, Kamis 8 Januari 2026.
Memasuki bagian dalam museum, suasana berubah drastis. Riuh kota perlahan menghilang, digantikan hening yang mengajak pengunjung menunduk dan merenung. Lorong Tsunami menjadi ruang pertama yang menyentuh batin.
Lorong sempit dan gelap dengan suara gemuruh air serta aliran air di dinding menghadirkan kembali gambaran mencekam detik-detik awal tsunami menerjang Aceh.
Lorong itu memaksa setiap orang berjalan pelan, seolah menapaki ulang ketakutan ribuan warga yang berjuang menyelamatkan diri.
Di sini, tsunami tidak lagi dipahami sebagai sekadar fenomena alam, melainkan tragedi kemanusiaan yang meninggalkan luka panjang.
“Mungkin dengan museum ini, wisatawan bisa tahu kalau Aceh pernah mengalami bencana yang begitu dahsyat,” kata Andri.
Perjalanan berlanjut menuju Memorial Hall. Di ruangan ini, nama-nama korban tsunami terukir di dinding, tersusun rapi sebagai bentuk penghormatan.
Banyak pengunjung berhenti, menatap satu per satu nama, berdoa dalam diam. Tak ada suara, namun duka terasa berbicara lebih lantang dari kata-kata.
Museum Tsunami Aceh juga berfungsi sebagai pusat edukasi kebencanaan.
Foto-foto, diorama, dokumentasi visual, hingga benda-benda peninggalan pascatsunami ditampilkan secara informatif.
Pengunjung diajak melihat kembali kondisi Aceh pascabencana, proses evakuasi yang penuh keterbatasan, solidaritas dunia melalui bantuan internasional, hingga fase rekonstruksi yang perlahan membangkitkan Aceh.
Tak hanya mengenang masa lalu, museum ini juga menatap masa depan. Ruang Escape Hill disiapkan sebagai jalur evakuasi darurat jika bencana serupa terjadi.
Keberadaan ruang ini menegaskan bahwa museum bukan hanya monumen kenangan, tetapi juga sarana mitigasi dan pembelajaran yang nyata.
Andri menyebut satu pelajaran penting yang selalu ia ingat setiap berkunjung, yakni kearifan lokal masyarakat Simeulue.
“Salah satu pelajaran penting itu tradisi Smong dari Simeulue. Saat tsunami Aceh 2004, korban di Banda Aceh sangat banyak, tapi di Simeulue hanya sekitar 12 orang karena mereka merawat tradisi itu,” tuturnya.
Bagi Tim Ekspedisi Radar Bogor, kunjungan ke Museum Tsunami Aceh menjadi penutup yang sarat makna.
Di tempat ini, duka masa lalu tidak disembunyikan, melainkan dirawat sebagai pengingat agar kesiapsiagaan terus dijaga.
“Di sini juga saya belajar tentang mitigasi bencana, seperti persiapan dan tanda-tanda yang harus diperhatikan,” kata Andri menutup perbincangan.
Kini, Museum Tsunami Aceh berdiri sebagai saksi sejarah sekaligus pengingat bahwa dari bencana besar selalu lahir pelajaran tentang kemanusiaan, ketangguhan, dan harapan.
Di lorong-lorong ingatan itu, Aceh mengajarkan dunia bahwa luka bisa disembuhkan dan bangkit selalu menjadi pilihan.
Sebagai informasi, rangkaian perjalanan Tim Ekspedisi Radar Bogor ke Aceh dalam misi liputan kemanusiaan dan penelusuran sejarah ini terlaksana berkat dukungan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bogor dan Pemerintah Kota Bogor, serta SalamAid yang mendampingi tim sepanjang perjalanan.(cr1)
Editor : Alpin.