RADAR BOGOR – Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terjadi sejak Rabu hingga Jumat (26–28/11/2025), tidak hanya membawa air bah ke daerah-daerah hulu.
Dampaknya merambat hingga ke kota-kota yang secara geografis tak tersentuh langsung oleh banjir bandang, termasuk Banda Aceh.
Warga Banda Aceh, Syahrial masih mengingat betul bagaimana dua pekan itu terasa begitu panjang. Meski rumahnya tidak terendam banjir, kehidupan sehari-hari nyaris lumpuh akibat terputusnya aliran listrik dan berbagai kebutuhan dasar.
“Kalau banjir di sini tidak kena, tapi listrik hampir dua minggu mati. Di sini hidup, di sana mati. Gantian begitu selama dua minggu,” ujarnya kepada Radar Bogor, Kamis 8 Januari 2026 sambil mengenang situasi yang dialami warga.
Menurutnya, pemadaman listrik bergilir membuat aktivitas warga terganggu. Malam-malam Banda Aceh terasa lebih sunyi dari biasanya.
Lampu-lampu padam, mesin air berhenti bekerja, dan komunikasi menjadi terbatas. Dalam kondisi itu, warga hanya bisa mengandalkan cahaya seadanya dan kesabaran.
Tak hanya listrik, distribusi bahan makanan juga ikut terdampak. Pasokan yang biasanya lancar mendadak tersendat.
Sejumlah kebutuhan pokok menjadi sulit ditemukan, sementara harga beberapa komoditas sempat melonjak.
“Bahan makanan juga terdampak. Internet dua minggu hilang. BBM, gas, kebutuhan dapur, semua terasa susah,” kata Syahrial.
Ketiadaan jaringan internet memperparah keadaan. Informasi menjadi terputus, komunikasi dengan keluarga di daerah lain terhambat, dan aktivitas kerja maupun pendidikan ikut terganggu.
Di tengah era digital, hilangnya koneksi terasa seperti kehilangan satu nadi kehidupan.
Selama hampir dua pekan, warga Banda Aceh harus menyesuaikan diri dengan kondisi darurat yang tak mereka duga.
Aktivitas sehari-hari berjalan lebih lambat, bahkan sebagian terhenti. Warung-warung membatasi jam buka, masyarakat menahan belanja, dan banyak rencana terpaksa ditunda.
“Intinya aktivitas sehari-hari sempat terhambat selama kurang lebih dua minggu,” ungkap Syahrial.
Namun, seperti wilayah-wilayah lain di Aceh yang terbiasa hidup berdampingan dengan ujian alam, warga Banda Aceh perlahan bangkit.
Listrik mulai menyala kembali, distribusi logistik berangsur normal, dan jaringan komunikasi pulih satu per satu.
Kini, kehidupan di Banda Aceh telah kembali berjalan seperti sediakala. Pasar kembali ramai, anak-anak berangkat sekolah, dan aktivitas masyarakat kembali menggeliat.
Meski begitu, pengalaman dua pekan tanpa kepastian itu meninggalkan pelajaran berharga tentang rapuhnya sistem kehidupan modern saat alam menunjukkan kuasanya.
“Untuk sekarang sudah normal kembali,” tutup Syahrial singkat, seolah menandai bahwa badai telah berlalu, meski kenangannya masih tersimpan rapi. (Cr1)
Editor : Alpin.