RADAR BOGOR – Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan hanya dalam setahun pada 2025 menjadi catatan bersejarah. Capaian ini sebelumnya diumumkan langsung Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat pada Rabu, 7 Januari 2026 lalu.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membeberkan rahasianya saat berdialog dengan pimpinan Jawa Pos Group di kediamannya, kawasan Kalibata, Jakarta, Minggu, 11 Januari 2026. Menurutnya ini jauh melampaui target awal pemerintah yang semula mencanangkan waktu empat tahun.
Swasembada pangan 2025 tercermin dari sejumlah indikator utama yang menunjukkan penguatan signifikan. Produksi beras nasional tahun 2025 mencapai 34,71 juta ton, meningkat 4,09 juta ton atau 13,36 persen dibandingkan 2024.
Kenaikan produksi tersebut menghasilkan surplus beras sebesar 3,52 juta ton. Dengan demikian, Indonesia tercatat tidak melakukan impor beras untuk kebutuhan konsumsi sepanjang tahun 2025. Angka produksi ini bahkan diprediksi FAO sebagai rekor tertinggi Indonesia.
Amran menyebut keberhasilan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari transformasi radikal dan strategi "gaspol" di kementeriannya. Ia membeberkan lima kunci utama yang membuat target tersebut terealisasi lebih cepat.
Pertama deregulasi besar-besaran atau pemangkasan birokrasi yang berbelit. Kementan menyederhanakan regulasi secara masif dengan mencabut 291 Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) yang dianggap menghambat.
"Sebanyak 15 Permentan disederhanakan menjadi satu aturan, serta ratusan keputusan menteri disesuaikan untuk mempercepat investasi dan hilirisasi melalui pembentukan Taskforce khusus," katanya.
Kedua, melakukan "bersih-bersih" di internal kementerian dengan sistem meritokrasi ketat. Amran tak segan melakukan mutasi, demosi, hingga pemecatan terhadap 192 pejabat yang dinilai tidak berkinerja baik atau bermasalah.
"Saya mau orang yang ingin berubah, kalau usaha awalnya cuma satu, kita tambah sampai lima supaya target melompat tinggi," tegasnya.
Ketiga, memperketat pengawasan eksternal dengan menggandeng Satgas Pangan Polri untuk menindak mafia pangan. Sepanjang 2024 hingga 2025, Satgas berhasil menindak 92 kasus (termasuk 46 kasus beras dan 27 kasus pupuk) serta menetapkan 76 tersangka.
"Izin dari 2.229 pengecer dan distributor pupuk nakal pun dicabut demi menjamin distribusi yang adil bagi petani," bebernya.
Keempat, efisiensi anggaran, Kementan melakukan penghematan biaya umum dengan memangkas perjalanan dinas, seminar, dan rapat di hotel. Total efisiensi anggaran tahun 2025 tercatat mencapai Rp3,8 triliun.
Hasil refocusing anggaran tersebut dialihkan langsung untuk kebutuhan petani, seperti pembelian benih unggul, pompa, dan alat mesin pertanian (Alsintan). Langkah ini berkontribusi signifikan pada peningkatan produksi beras senilai Rp17,89 triliun.
Kelima, transformasi dari pertanian tradisional ke modern. Penggunaan teknologi mekanisasi diklaim berhasil menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil hingga 100 persen.
Selama dua tahun terakhir, sebanyak 167.906 unit alsintan, termasuk pompa air, telah disalurkan. Perluasan lahan sawah baru (Food Estate) juga masif dilakukan, termasuk di Merauke dan Kalimantan Tengah yang kini sudah mulai panen.
Dampak positif dari strategi tersebut pun dirasakan langsung oleh petani. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 menyentuh angka 123,26, rekor tertinggi selama 33 tahun terakhir. Stok beras di Bulog per 31 Desember 2025 juga aman di angka 3,25 juta ton, level tertinggi sepanjang sejarah.
"Ke depan, Kementan tidak hanya fokus pada pangan, tetapi juga mendukung kemandirian energi melalui program Biodiesel B50," tutupnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati