Oleh: Asri Supatmiati
RADAR BOGOR - Saya menamatkan e-book ini beberapa jam, selama dua hari berturut-turut. Ini setelah terseret arus ramainya perbincangan tentang child grooming di dunia maya, yang dikaitkan dengan buku Broken Strings ini. Namun, hal paling mendorong rasa penasaran saya, hingga tergerak membaca memoar ini adalah sikap publik yang menunjukkan kegeraman pada Bobby, tokoh utama dalam buku ini.
Timbul tanya, apa yang sebenarnya dilakukan Bobby? Sedramatis apa tragedi yang menimpa Aurelie Moeremans? Seluka apa batinnya? Dan, jawabannya cukup mengejutkan. Ternyata, kisah hidupnya lebih tragis dari sinetron yang dibintanginya. Mungkin sebentar lagi akan banyak produser film yang memperebutkan hak siarnya. Apa yang dia kisahkan, benar-benar membuat merinding, memantik emosi, dan sulit dipercaya.
Di luar isinya, saya terkejut dengan pilihan kata dan cara bertutur Aurelie yang sangat menarik. Saya pikir dia dibantu penulis atau editor ahli, ternyata tidak. Benar-benar berbakat. Mungkin karena ditulis dari hati yang tulus, deskripsinya membawa kita seperti mengalami apa yang dia rasakan saat itu. Sebuah memoar yang mengalir dan enak dibaca.
Saya tidak mau menyebut kisahnya sebagai child grooming, karena akan menjadi perdebatan tentang definisi “child” atau “anak” itu sendiri. Sebab, jika dibedah dari kacamata Islam, umur 15 tahun tidak bisa lagi disebut “anak”. Dia adalah batas usia baligh, yang artinya sudah mendapat taklif hukum sebagai orang dewasa.
Namun, jika merujuk pada Undang-undang Perlindungan Anak, atau kesepakatan dunia tentang batasan anak vs dewasa, usia 15 memang masih disebut anak. Jadi, kita sepakati saja, “anak” di sini dalam makna universal, yaitu seorang anak dari ibunya. Remaja fase awal yang masih belum matang perkembangan fisik dan mentalnya. Gadis belum berpengalaman, yang begitu belia untuk mengerti kejamnya dunia orang dewasa. Terlebih bagi Aurelie, yang baru menginjakkan kaki di Jakarta, dengan keterbatasan Bahasa Indonesia yang belum dia mengerti.
Semua bermula ketika Aurelie Moeremans yang ranum, segar dan polos, masuk ke industri hiburan. Latar belakang keluarganya di Belgia yang hidup pas-pasan, membuatnya terseret ikut menopang keuangan keluarga. Bermodal wajah blasteran Belgia-Indonesia, Aurelie mencoba peruntungan di dunia yang menjanjikan popularitas dan uang ini.
Sayangnya, industri hiburan ini ternyata manipulatif. Usianya yang 15 tahun, diubah menjadi 21 tahun, hanya supaya lolos menjadi bintang iklan. Padahal, di sini dia memerankan diri sebagai kekasih dari seorang laki-laki dewasa. Hal yang harusnya tidak boleh dilakonkan anak belum cukup umur. Ini pelanggaran kode etik. Namun, orang dewasa yang terlibat proyek ini tidak peduli. Orang tua Aurelie juga tidak. Dari sinilah petaka dimulai.
Adalah Bobby (29), lawan mainnya di iklan itu, yang kemudian cinta lokasi padanya. Ia melakukan segala cara untuk menguasai hidup Aurelie. Dia memanipulasi pikiran gadis ini, mengendalikan perasaannya dan bahkan tubuhnya.
Lambat tapi pasti, Aurelie tumbuh menjadi gadis bingung yang tidak berani mengutarakan perasaannya, selalu merasa dia pantas mendapat perlakuan buruk, berusaha menyenangkan orang lain dan tidak memiliki keberanian untuk menjadi dirinya sendiri. Dia benar-benar kehilangan dirinya. Dia sepenuhnya berada di dalam kendali Bobby.
Caranya sangat halus, hingga korban tidak menyadarinya. Tidak sepenuhnya mengerti, bahwa ia telah masuk perangkap grooming. Siklus hidupnya hanya seputar syuting dan Bobby. Masa remajanya terenggut. Waktumu habis untuk laki-laki berumur dua kali lipat dirinya. Ia tidak bargaul layaknya remaja seusianya. Ponselnya dikendalikan satu nama, Bobby.
Bagaimana semua hal itu bisa terjadi? Love bombing. Bobby mengguyurnya dengan perhatian, mengantarnya, dan memberi hadiah. Menungguinya waktu syuting hingga larut malam, di pikiran Aurelie, itu adalah bentuk perhatian. Ia merasa dicintai, meski tak tahu apa itu definisi cinta. Ia tidak sadar bahwa itu bentuk pengendalian dan pengawasan. Sampai satu titik, Bobby mendeklarasikan untuk menjadikannya pacar. Saat itu, Aurelie yang belum mengerti relasi laki-laki dan perempuan, sebenarnya gamang.
Tapi, segala pengorbanan Bobby yang selalu diungkit-ungkit, menjeratnya seperti utang yang harus dibayar. Dia seperti harus mengiyakan segala kehendak laki-laki itu. Ia tidak boleh begini dan begitu, kalau dilanggar, akan dikasari. Suatu ketika Aurelie melirik tato laki-laki yang lewat di dekatnya, yang ia pikir lucu. Bobby dengan kasar menyeretnya ke mobil dan memarahinya.
Mama Aurelie bukan tanpa usaha untuk menghentikan hubungan toxic itu. Setiap kali Aurelie bertengkar dan menangis, mama memintanya untuk menjauh. Bahkan, kedua orang tua yang sudah kewalahan dengan anak gadisnya ini, meminta bantuan pihak yang terkait, melaporkan manipulasi itu. Tentu saja, hal itu sulit membuktikannya. Apalagi, Bobby berhasil memutarbalikkan fakta. Didiktekan pada Aurelie, bahwa dia dieksploitasi kedua orang tuanya. Orang tua Aurelie sangat kecewa. Upaya menyelamatkan anaknya gagal.
Ini menyeret Aurelie kembali dalam cengkeraman laki-laki itu. Ketika ia mencoba menghindar, Bobby mengancam akan bunuh diri. Menangis mengiba, agar Aurelie masuk perangkapnya. Puncaknya, Bobby berhasil mencuri hal paling berharga miliknya, di kamarnya sendiri. Aurelie telah total kehilangan dirinya. Bobby berhasil mengendalikan seluruh hidupnya, bahkan menikahi paksa. Pernikahan yang di kemudian hari dibatalkan oleh Aurelie setelah kebebasannya.
Tak sampai di situ, Bobby menguasai uangnya, menjauhkan gadis ini dari keluarganya, demi memiliki gadis ini sepenuhnya. Dan, dengan relasi kuasa yang dia miliki, Aurelie pun terjebak dalam “neraka.” Di layar ia bintang, di rumah mertua ia seperti asisten rumah tangga. Dilarang bertemu mama kandungnya. Dipaksa mengikuti skenario Bobby sebagai pasangan mesra di hadapan media. Padahal di kamar ia diludahi, hingga dicengkeram lengannya. Luka fisik inilah yang akhirnya menjadi bukti konkret deritanya, hingga bisa membebaskan diri dari cengkeraman Bobby, meski menyisakan trauma sepanjang hidupnya.
Begitulah, memoar ini cukup jujur dan berani, mengingat tokoh-tokohnya masih hidup. Ditulis sebagai cara untuk menyembuhkan diri. Dituturkan dari sudut hati korban yang terluka. Menjadi pelajaran, tentang pentingnya memiliki keberanian untuk menjadi diri sendiri. Jangan biarkan hidupmu dikendalikan orang lain.
Buku ini awalnya ditulis dalam versi Bahasa Inggris. Boom, publik menyambutnya. Terbitlah versi Bahasa Indonesia dalam bentuk digital dan disebarkan secara gratis. Niatnya, untuk menyelamatkan “Aurelie-Aurelie” lain di luar sana. Ingat, laki-laki manipulatif seperti Bobby di luar sana banyak. Korbannya bisa anak-anak, remaja hingga dewasa. Broken Strings mewakili suara hati mereka.
Siapapun yang membaca buku ini, akan semakin aware terhadap tanda-tanda perilaku manipulatif. Namun, menurut saya, dari sudut kaca mata Islam, yang paling penting bagi para perempuan adalah: jangan pacaran. Jangan mau diajak khalwat. Jangan mau membuka aurat di depan kamera. Jangan izinkan laki-laki masuk dalam kehidupan privat. Jaga diri dan tetaplah patuh pada nasihat orang tua.
Judul Buku: Broken Strings, Kepingan Masa Muda yang Patah
Penulis: Aurelie Moeremans
Tahun terbit: 2025 e-book
Ketebalan: 220 halaman
Peresensi: Asri Supatmiati, Penulis 25 Buku