RADAR BOGOR - Malam Nisfu Syaban 1445 Hijriah kembali menjadi momen yang dinantikan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Malam yang jatuh di pertengahan bulan Syaban ini dikenal sebagai salah satu malam istimewa yang sarat dengan keutamaan dan keberkahan.
Sejak lama, malam Nisfu Syaban dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak ibadah, memohon ampunan, serta berdoa kepada Allah SWT.
Tak heran jika masjid-masjid dipenuhi jamaah, dan berbagai amalan sunnah dilakukan dengan penuh kekhusyukan.
Di tengah tradisi tersebut, muncul sebuah amalan yang cukup populer di kalangan masyarakat, yakni menulis Surat Shad ayat 54.
Amalan ini diyakini oleh sebagian orang sebagai ikhtiar spiritual untuk membuka pintu rezeki agar mengalir deras sepanjang tahun.
Bunyi Surat Shad ayat 54 sendiri berkaitan dengan jaminan rezeki dari Allah SWT, sehingga ayat ini dianggap memiliki makna mendalam tentang kecukupan dan kelapangan hidup.
Karena itulah, sebagian umat Islam menjadikannya sebagai bagian dari rangkaian ibadah di malam Nisfu Syaban.
Namun, di balik popularitasnya, tidak sedikit pula yang mempertanyakan keabsahan amalan tersebut.
Apakah menulis Surat Shad ayat 54 memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam? Ataukah sekadar tradisi yang berkembang di tengah masyarakat?
Menanggapi hal ini, ulama kharismatik Buya Yahya memberikan penjelasan yang menenangkan.
Baca Juga: Jelang Lawan Persis Solo Sore Ini, Bojan Hodak Pelatih Persib Bandung: Pulang dengan Hasil Positif
Dalam salah satu kajian yang diunggah melalui kanal YouTube resminya, Buya Yahya menyebutkan bahwa tidak ada tuntunan khusus dari Rasulullah SAW yang secara spesifik mengajarkan ritual tertentu pada malam Nisfu Syaban, termasuk menulis ayat Al-Qur’an.
“Tidak ada tuntunan khusus dari Nabi Muhammad, tapi ada tuntunan umum, yaitu menghidupkan malam tersebut dengan ibadah,” ujar Buya Yahya.
Pengasuh pondok pesantren Al-Bahjah itu menjelaskan bahwa tuntunan umum yang dimaksud meliputi berbagai bentuk ibadah, seperti salat sunnah, berdoa, bertawasul dengan amal saleh, membaca Al-Qur’an, termasuk membaca Surah Yasin, serta memperbanyak istighfar dan zikir.
Terkait penulisan Surat Shad ayat 54, Buya Yahya menegaskan bahwa praktik tersebut tidak termasuk dalam ajaran baku Islam.
Namun, amalan itu bisa masuk dalam kategori ijazah atau wirid yang diberikan seorang ulama kepada murid atau santrinya.
Artinya, jika seseorang mendapatkan ijazah dari guru yang terpercaya untuk mengamalkan hal tersebut, maka boleh-boleh saja dilakukan sebagai bentuk ikhtiar spiritual.
Sebaliknya, jika tidak melakukannya, juga tidak berdosa dan tidak menimbulkan masalah apa pun.
Hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah niat dan keyakinan dalam hati.
Buya Yahya menekankan bahwa seorang muslim tidak boleh meyakini bahwa ayat yang ditulis itulah yang secara langsung memberikan rezeki.
“Yang memberi rezeki hanyalah Allah SWT,” tegasnya.
Jika seseorang sampai meyakini bahwa tulisan ayat tersebut memiliki kekuatan sendiri layaknya Tuhan, maka keyakinan tersebut dapat terjerumus pada perbuatan syirik, yang merupakan dosa besar dalam Islam.
Dengan demikian, amalan apa pun yang dilakukan di malam Nisfu Sya’ban seharusnya berlandaskan pada niat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan semata-mata mengejar manfaat duniawi.
Baca Juga: Pasien Rehabilitasi Narkoba di Megamendung Bogor Kabur, Dua Sudah Ditemukan, Satu Masih Dicari
Malam Nisfu Sya’ban sejatinya merupakan kesempatan emas untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju bulan Ramadan.
Alih-alih terfokus pada satu amalan tertentu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah yang telah jelas tuntunannya, seperti membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, serta memohon ampunan atas segala dosa yang telah lalu.
Dengan pemahaman yang tepat, malam Nisfu Sya’ban dapat menjadi momentum spiritual yang penuh makna, membawa ketenangan hati, dan menguatkan keimanan kepada Allah SWT.***
Editor : Asep Suhendar