Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Waspada! Virus Nipah Terdeteksi BRIN di Kelelawar Indonesia: Kenali Risiko Penularan dan Cara Mencegahnya

Kholikul Ihsan • Minggu, 1 Februari 2026 | 11:22 WIB
Ilustrasi. Kelelawar asal virus Nipah
Ilustrasi. Kelelawar asal virus Nipah

RADAR BOGOR - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi bahwa virus Nipah telah bersirkulasi di alam liar Indonesia, khususnya pada kelelawar buah. 

Mengutip dari laman resmi brin.go.id, Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti, mengungkapkan bahwa penelitian molekuler telah mengidentifikasi keberadaan genom Virus Nipah pada sampel kelelawar di Sumatera Utara, Kalimantan Barat, hingga Pulau Jawa.

 

BRIN juga menyebut, masyarakat perlu memahami karakteristik virus dari kelelawar ini agar tidak terjadi kepanikan, namun tetap waspada.

Berikut adalah data teknis terkait Virus Nipah:

 - Penyebab Utama: Henipavirus yang dibawa oleh reservoir alami kelelawar buah (Pteropus vampyrus dan Pteropus hypomelanus).

 - Risiko Kematian: Sangat tinggi dan berpotensi menimbulkan wabah berskala besar.

 - Media Penularan: Kontak langsung dengan hewan terinfeksi (terutama babi).

   - Konsumsi makanan/minuman yang terkontaminasi urin atau saliva kelelawar.

   - Penularan antar manusia melalui cairan tubuh.

 - Status Pengobatan: Belum ada vaksin atau obat antivirus spesifik, penanganan saat ini hanya berupa perawatan suportif.

Virus Terdeteksi di 3 Wilayah Besar

Berdasarkan kajian ilmiah terbaru yang dipaparkan BRIN pada Jumat (30/01), jejak Virus Nipah di Indonesia ditemukan melalui dua metode deteksi:

 - Studi Serologis (Kalimantan Barat): Ditemukan antibodi NiV pada 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus.

 - Deteksi PCR (Sumatera Utara): Konfirmasi genom virus pada sampel saliva dan urin kelelawar.

 - Karakteristik Genetik (Jawa): Ditemukan virus yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia, tempat wabah pertama kali pecah pada 1998.

Menghadapi risiko ini, BRIN mendorong implementasi strategi One Health, yaitu kolaborasi lintas sektor yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

“Penguatan riset, surveilans, dan kesiapsiagaan adalah kunci agar Indonesia mampu menghadapi potensi ancaman Nipah virus secara lebih siap dan terukur,” tegas Indi dalam keterangannya.

Pemerintah kini memperketat pengawasan di pasar hewan dengan sanitasi buruk serta memantau populasi babi di wilayah yang berdekatan dengan habitat kelelawar buah guna menekan potensi penularan lintas spesies.

Sebagai langkah antisipasi mandiri, peneliti menyarankan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perilaku konsumsi dan interaksi dengan satwa liar:

 - Hindari Konsumsi Buah Bekas Gigitan: Jangan mengonsumsi buah yang terdapat bekas gigitan hewan, karena berisiko terkontaminasi saliva kelelawar.

 - Masak Pangan Hingga Matang: Pastikan produk daging, terutama babi, dimasak dengan suhu yang tepat.

 - Edukasi Publik: Meminimalkan kontak langsung dengan kelelawar liar dan menjaga kebersihan lingkungan rumah dari sarang kelelawar.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#BRIN #kelelawar #virus nipah