RADAR BOGOR – Malam Nisfu Syaban yang tahun ini jatuh pada Senin, 2 Februari 2026, kembali menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di tengah perbedaan pandangan mengenai sebagian praktik ibadah yang biasa dilakukan masyarakat, pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah, Buya Yahya, mengajak umat untuk mengambil jalan tengah, menjaga tradisi baik yang telah hidup di tengah masyarakat, sekaligus menyempurnakannya dengan niat dan pemahaman yang lebih tepat.
Dalam sebuah majelis tanya jawab, seorang jemaah mempertanyakan kebiasaan salat khusus di malam Nisfu Syaban yang sering disebut dalam kitab Majmu’ Syarif, termasuk niat tertentu yang menyertainya.
Ia ingin mengetahui apakah amalan tersebut memiliki dasar yang kuat dalam syariat.
Menanggapi hal tersebut, Buya Yahya menjelaskan bahwa memang terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai salat khusus Nisfu Syaban.
Sebagian ulama, seperti Imam Al-Ghazali rahimahullah, menuliskan tentang praktik tersebut dalam karya-karyanya.
Namun, di sisi lain, ada pula ulama besar seperti Ibnu Hajar Al-Haitami yang menyatakan bahwa salat dengan tata cara dan niat khusus tersebut tidak memiliki dasar yang kuat sebagai ibadah tersendiri.
Meski demikian, Buya Yahya menekankan pentingnya sikap bijak dalam menyikapi perbedaan ini.
“Kami mengambil jalan tengah. Kami tidak mengatakan orang yang mengamalkannya itu salah, tetapi kami mengajak untuk mengubah niatnya saja. Hadirkan hajat-hajat kita kepada Allah, karena hajat kita itu banyak,” ujar Buya Yahya, dilansir dari kanal YouTube Al-Bahjah TV.
Menurutnya, jika seseorang terbiasa melakukan banyak rakaat salat di malam Nisfu Syaban, maka rakaat-rakaat tersebut bisa diniatkan sebagai rangkaian ibadah yang sudah dikenal secara umum dalam syariat, seperti salat witir, salat awwabin, salat hajat, atau salat istikharah.
“Kalau Anda melakukan 100 rakaat, lumayan bisa dimasukkan di dalamnya witir 11 rakaat, kemudian ada awwabin 6 rakaat, lalu salat hajat dan istikharah. Jadi, kita ubah niatnya saja,” jelasnya.
Buya Yahya juga menyoroti pentingnya menjaga tradisi ibadah yang telah mengakar di suatu kampung atau masyarakat. Menurutnya, kebiasaan baik tidak seharusnya dibatalkan secara kasar, apalagi jika isinya adalah ibadah.
“Kebiasaan baik di satu kampung jangan dibatalkan, tetapi disempurnakan. Jangan sedikit-sedikit dibilang bidah, sesat. Ulama-ulama dulu tidak seperti itu. Bahkan kemungkaran pun tetap dibiarkan berkumpul, hanya isinya yang diubah,” tutur Buya Yahya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perdebatan ulama seperti Ibnu Hajar Al-Haitami sejatinya berkaitan dengan status salat khusus Nisfu Syaban, bukan dengan kemuliaan malam Nisfu Syaban itu sendiri.
“Yang dibahas oleh Ibnu Hajar itu masalah salatnya, bukan malam Nisfu Syabannya. Malam Nisfu Syaban tetap mulia,” tegasnya.
Buya Yahya mengingatkan bahwa dalam beberapa hadis disebutkan Allah SWT melimpahkan ampunan pada malam Nisfu Syaban kepada hamba-hamba-Nya yang memohon ampun, kecuali golongan tertentu, seperti orang yang menyimpan kebencian dan permusuhan di hatinya.
Karena itu, ia menganjurkan agar malam tersebut diisi dengan memperbanyak istigfar, doa, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.
“Dalam doa, sebut orang tua kita, saudara-saudara kita, bahkan orang yang mungkin pernah menyakiti kita. Kita doakan supaya hati kita tidak masuk wilayah orang-orang yang suka membenci,” pesannya.
Dengan pendekatan ini, Buya Yahya berharap umat Islam dapat menjalani malam Nisfu Syaban dengan penuh kekhusyukan tanpa terjebak pada perdebatan yang berujung saling menyalahkan.
Baginya, esensi utama dari malam tersebut adalah mendekat kepada Allah SWT, memperbanyak ampunan, serta membersihkan hati dari segala penyakit batin.
Malam Nisfu Syaban pun kembali menjadi momentum refleksi spiritual, mempertegas bahwa perbedaan pandangan dalam fikih seharusnya melahirkan sikap saling menghormati, bukan perpecahan.***
Editor : Eli Kustiyawati