RADAR BOGOR – Malam ini, Senin, 2 Februari 2026, bertepatan dengan malam ke-15 di bulan Syaban.
Malam pertengahan bulan Syaban ini dikenal dengan istilah malam Nisfu Syaban.
Biasanya, umat Islam memperingati malam Nisfu Syaban dengan berbagai amal ibadah, seperti membaca Surah Yasin.
Pada siang harinya, umat Islam tak lupa melaksanakan puasa sunah Nisfu Syaban.
Lantas, banyak perempuan yang bertanya, bagaimana dengan mereka yang sedang haid?
Adakah amalan yang dapat dilakukan pada malam Nisfu Syaban tersebut?
Buya Yahya, dalam videonya yang diunggah di kanal YouTube Al-Bahjah, menjelaskan amalan yang dapat dilakukan oleh perempuan haid pada malam Nisfu Syaban.
Haid bukanlah penghalang untuk tetap menghidupkan malam penuh kemuliaan itu dengan berbagai bentuk ibadah.
Dalam sebuah majelis yang sarat nasihat, Buya Yahya menyampaikan bahwa banyak kaum perempuan bertanya mengenai cara menghidupkan malam Nisfu Syaban ketika berada dalam keadaan haid.
Ia menjawab dengan tegas bahwa haid tidak berarti seluruh pintu ibadah tertutup.
“Dalam keadaan halangan haid bukan berarti ibadah semuanya terputus. Memang Anda tidak boleh membaca Al-Qur'an, memang Anda tidak boleh melakukan salat, mungkin memang Anda tidak melakukan tawaf, tetapi ada ibadah lain yang masih bisa Anda lakukan,” ujar Buya Yahya.
Menurut beliau, masih terbuka luas kesempatan bagi kaum perempuan untuk meraih keutamaan malam Nisfu Syaban melalui zikir, istigfar, doa, dan tafakur.
Malam tersebut tetap dapat dihidupkan dengan menghadirkan hati kepada Allah SWT meski tanpa salat.
“Anda bisa berzikir, Anda bisa istigfar, Anda bisa mengadu, memohon kepada Allah, tafakur di malam itu. Jadi, tahajud jangan terputus gara-gara haid,” lanjutnya.
Buya Yahya juga menekankan pentingnya menjaga kebiasaan bangun malam.
Ia mengingatkan bahwa jika seseorang terbiasa berhenti tahajud selama masa haid, maka akan terasa berat untuk memulainya kembali setelah suci.
“Bayangkan haidnya 10 hari libur tahajudan, maka saat akan tahajud lagi terasa berat. Karena apa? Harus memulai lagi dari baru, dari awal,” tuturnya.
Sebagai solusi, beliau menganjurkan agar perempuan tetap bangun di sepertiga malam terakhir, meski tidak untuk salat, tetapi untuk menemani anggota keluarga yang sedang beribadah.
“Biarpun dalam keadaan haid, Anda tetap bisa bangun menunggu, menemani suami yang sedang tahajud, menemani adik yang sedang tahajud, menemani putra-putri yang sedang tahajud sambil Anda membuatkan kopi, teh, dan seterusnya. Alangkah indahnya saat itu,” kata beliau dengan nada penuh kelembutan.
Lebih lanjut, pengasuh LPD Al-Bahjah itu mengajak umat Islam menjadikan malam Nisfu Syaban sebagai malam tafakur dan introspeksi diri.
Ulama kelahiran Blitar tersebut mendorong setiap orang untuk merenungi kesalahan terhadap orang tua, keluarga, dan sesama.
“Jangan lupa kita jadikan malam itu sebagai malam tafakur. Anda tidak salat, akan tetapi Anda bisa tafakur, merenungi kesalahan kita kepada ibunda, ayahanda, saudara-saudari, kemudian setelah itu kita doakan mereka,” jelasnya.
Tak hanya itu, beliau juga mengingatkan pentingnya membersihkan hati dari dendam dan kebencian.
“Kita ingat orang yang bermasalah dengan kita, yang menyakiti kita, yang zalim kepada kita, dan kita doakan semoga semua yang berbuat salah kepada kita diberi oleh Allah pengampunan, diangkat derajatnya, supaya tidak ada dendam di hati kita. Malam itulah yang akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti disebutkan dalam hadis,” jelasnya.
Dalam konteks malam Nisfu Syaban yang dikenal sebagai malam pengampunan, pesan ini menjadi sangat relevan.
Buya Yahya juga menganjurkan umat Islam untuk mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat, seperti menonton televisi atau mengonsumsi konten hiburan secara berlebihan.
Meski perempuan haid tidak dapat beriktikaf di masjid, menurut beliau, ibadah tetap bisa dilakukan secara maksimal di rumah.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa malam Nisfu Syaban bukan hanya tentang ritual lahiriah, tetapi juga tentang menghadirkan hati, membersihkan jiwa, dan memperbanyak doa.
Bagi kaum perempuan yang sedang haid, pintu-pintu kebaikan tetap terbuka lebar dan kesempatan meraih rahmat Allah tetap sama besarnya.***
Editor : Eli Kustiyawati