Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Domang, Harmoni Rimbo dan Tesso di Tesso Nilo: Drama Cinta Gajah hingga Misi Konservasi Hutan Riau

Fransisca Susanti Wiryawan • Rabu, 4 Februari 2026 | 17:26 WIB
Domang, Harmoni, dan Tesso, gajah Sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo, simbol wisata edukasi dan konservasi satwa liar di Riau.
Domang, Harmoni, dan Tesso, gajah Sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo, simbol wisata edukasi dan konservasi satwa liar di Riau.

RADAR BOGOR – Taman Nasional Tesso Nilo di Riau menyimpan cerita yang lebih dari sekadar panorama hutan tropis.

Di kawasan konservasi ini, Domang, Harmoni Rimbo, dan Tesso adalah tiga anak gajah Sumatra yang menjadi ikon perjuangan pelestarian satwa, konflik manusia dan alam, serta romantika kehidupan liar di tengah ancaman kerusakan habitat.

Mengunjungi Tesso Nilo tak hanya menawarkan wisata alam, tetapi juga pengalaman edukatif.

Para wisatawan dapat mengenal lebih dekat gajah Sumatra sekaligus memahami pentingnya menjaga keberlangsungan spesies yang kini terancam punah.

Di kawasan ini, pengunjung bisa berinteraksi dengan Domang, Harmoni Rimbo, Tesso, dan sejumlah gajah lain dalam kegiatan yang diawasi pawang.

Drama Cinta Gajah di Tengah Hutan Riau

Ketiganya merupakan keturunan Papa Bogel, gajah liar, dan Mama Ria, gajah jinak binaan pengelola taman nasional.

Kisah cinta keduanya kerap disebut sebagai simbol hubungan lintas “status” di alam liar.

Sebelum alih fungsi lahan meluas, Papa Bogel kerap mendatangi Mama Ria dan anak-anaknya.

Dengan daya ingat yang kuat, sang gajah jantan selalu menempuh jalur yang sama menembus rimbunnya pepohonan.

Namun kini, Papa Bogel tak pernah lagi terlihat.

Meski Gajah Indro yakni pejantan binaan taman nasional kerap mendekati Mama Ria, gajah betina itu tetap setia menunggu.

Indro hanya mampu berdiri di sisinya, menyentuh buntut Mama Ria dengan belalai, seolah menyimpan kisah pilu yang tak terucap.

Pesona Wisata Alam Tesso Nilo

Fajar di Tesso Nilo menghadirkan suasana dramatis.

Kabut tipis menyelimuti rimba, kontras dengan pemandangan gajah-gajah yang masih terlelap di area konservasi Elephas maximus.

Ketika sinar mentari mulai memecah langit jingga, dedaunan berkilau diterpa cahaya, sementara para gajah perlahan bangkit menyambut hari.

Suara gajah, owa, dan monyet berpadu menciptakan orkestra alam khas hutan tropis.

Angin sejuk menghapus penat, sementara hamparan hijau pepohonan dari durian daun hingga buah kayu mendominasi pandangan.

Edukasi Cinta Gajah untuk Anak-anak

Dalam sesi wisata edukasi, anak-anak tampak antusias membersihkan tangan dengan hand sanitizer sebelum memberi potongan pisang atau semangka kepada gajah.

Interaksi ini menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai satwa liar dan pentingnya menjaga alam.

Konflik Gajah dan Manusia

Ingatan gajah yang kuat membuat mereka tetap menelusuri jalur tradisional meski kawasan hutan berubah fungsi.

Ketika sebagian wilayah Tesso Nilo beralih menjadi kebun sawit ilegal atau hutan produksi, kawanan gajah tetap melintas, sehingga memicu konflik dengan warga.

Taman Nasional Tesso Nilo memiliki luas sekitar 81.793 hektare.

Namun hingga akhir 2025, tutupan hutannya dilaporkan menyusut drastis, menyisakan sekitar 12.000–14.000 hektare hutan alami.

Berkurangnya pakan dan habitat memperbesar risiko perjumpaan gajah dengan manusia.

Misi Menumbuhkan Kepedulian

Di tengah tekanan tersebut, pengelola taman nasional berupaya menanamkan kesadaran bahwa gajah bukan musuh, melainkan penjaga ekosistem.

Tesso Nilo tak sekadar menjadi lokasi konservasi dan tujuan wisata, tetapi juga pusat edukasi untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap satwa berbelalai itu.

Gajah, Penjaga Ekosistem Hutan

Menurut WWF Indonesia, seekor gajah dewasa dapat mengonsumsi sekitar 136 kilogram makanan setiap hari.

Dalam proses itu, biji-bijian yang tertelan akan tersebar melalui kotoran, membantu regenerasi hutan secara alami.

Dengan jangkauan jelajah yang luas, gajah berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Dari Gajah untuk Gajah

Di Tesso Nilo, kotoran gajah bahkan dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk menanam jagung.

Hasil panennya kemudian kembali diberikan kepada para gajah, termasuk Domang, Harmoni Rimbo, dan Tesso, sebagai pakan segar dari alam yang mereka jaga sendiri, sebuah siklus sederhana yang mencerminkan harmoni antara konservasi dan keberlanjutan. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#konservasi hutan #DOMANG #gajah #tesso nilo #riau #gajah sumatra