RADAR BOGOR – Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty, menyebutkan kanker masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data Riskesdas 2023, tingkat kematian akibat kanker di Indonesia mencapai 59,24 persen dan menempati urutan ketiga penyebab kematian terbesar.
"Penyakit kanker yang terlaporkan di Kabupaten Bogor berjumlah 586 orang terdiri dari laki laki 205 orang dan perempuan 381 orang, serta penderita yang meninggal sebanyak 4 orang," ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu 4 Februari 2026.
Menurut dr. Fusia, di era modern saat ini terdapat banyak faktor risiko kanker, terutama yang berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup.
Meski demikian, sebagian besar faktor risiko tersebut sebenarnya dapat dikendalikan melalui kebiasaan sehari-hari.
Ia mengimbau masyarakat untuk memperbanyak konsumsi makanan alami dan utuh yang minim proses, seperti sayuran berwarna, buah segar, serta umbi-umbian dan biji-bijian utuh.
Kandungan serat dan antioksidan dalam makanan tersebut dinilai mampu membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan.
Selain itu, masyarakat juga diminta membatasi konsumsi makanan ultra-proses, seperti makanan cepat saji serta camilan kemasan yang tinggi MSG, pengawet, dan pewarna.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diketahui mengaitkan konsumsi daging olahan dengan peningkatan risiko kanker usus besar.
"Kurangi juga gula dan tepung putih. Minuman manis, kue, roti putih, dan sirup. Gula berlebih menyebabkan inflamasi dan resistensi insulin," jelasnya.
Dalam pemilihan sumber protein, dr. Fusia menyarankan masyarakat untuk memilih protein yang lebih aman, seperti ikan laut, tahu, tempe, serta konsumsi telur secukupnya.
Sementara itu, konsumsi daging merah berlebihan dan daging yang dibakar hingga gosong perlu dibatasi karena mengandung zat karsinogen.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan lemak sehat, seperti minyak zaitun, minyak kelapa secukupnya, alpukat, dan kacang-kacangan. Sebaliknya, masyarakat diminta menghindari minyak jelantah dan gorengan yang digunakan berulang kali.
Tak kalah penting, pemanfaatan rempah dan herbal alami seperti kunyit, jahe, bawang putih, dan teh hijau juga dianjurkan karena memiliki sifat antiinflamasi dan antikanker alami.
Selain pola makan, masyarakat diimbau untuk mengurangi konsumsi makanan tinggi garam, seperti ikan asin, mi instan, dan makanan awetan, karena berkaitan dengan risiko kanker lambung.
"Jangan makan terlalu malam, usahakan makan terakhir kurang lebih 3 jam sebelum tidur," tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan menyeluruh, dr. Fusia mengajak masyarakat untuk menghindari faktor pemicu lain, seperti tidak merokok, membatasi konsumsi alkohol, tidur cukup, serta mengelola stres dengan baikdengan melakukan dzikir, berdoa dan relaksasi.
“Makanlah yang dikenal tubuh, bukan yang dibuat pabrik. Lebih sering dari alam, lebih jarang dari kemasan,” tutupnya. (Cr1)
Editor : Alpin.