RADAR BOGOR - Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia usai mengakhiri hidupnya dan viral di media sosial.
Sebelum meninggal, siswa berinisial YBS sempat meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan kepada ibunya dan berisi pesan perpisahan kepada sang ibu.
Selama ini ia diketahui tinggal bersama nenek dan ibunya merupakan orang tua tunggal dan bekerja sebagai petani serta buruh serabutan demi menghidupi lima orang anak, termasuk YBS.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bahkan turut menyoroti peristiwa yang terjadi di NTT yang diduga karena tak bisa membeli keperluan sekolah seperti buku dan pulpen.
Dalam keterangannya Gus Ipul menyampaikan dukacita atas meninggalnya siswa SD berusia 10 tahun tersebut dan mengirim tim untuk melakukan asesmen dan membuka peluang dukungan pendidikan bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.
“Sekarang (petugas Kemensos) ada di lapangan, lagi bicara sama orang tuanya dan masih berduka, ada kakaknya yang akan kita coba untuk bisa bersekolah, apakah di sekolah-sekolah yang dekat sana atau nanti di Sekolah Rakyat, masih sedang asesmen di lapangan,” ujar Gus Ipul usai hadir pada acara Sinkronisasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) 66 titik Sekolah Rakyat Tahap 1C di Bekasi, Rabu, 4 Februari 2026 sebagaimana dilansir dari laman resmi Kemensos RI.
Kemensos lewat Sentra Efata Kupang menyalurkan santunan dan bantuan sebesar Rp9 juta bagi keluarga korban dan santunan diberikan sebesar Rp5 juta, lalu bantuan sembako dengan nominal Rp1,5 juta serta dukungan bantuan sandang Rp2,5 juta.
Tak hanya itu kedua kakak korban juga akan diberi bantuan dukungan belajar keterampilan serta diupayakan untuk bisa kembali bersekolah.
Mensos menekankan peristiwa itu menjadi pengingat terkait penguatan data yang akurat dan menurutnya dengan data yang akurat, negara bisa memberikan perlindungan dan dukungan yang tepat kepada keluarga prasejahtera serta berharap peristiwa itu tak terulang.
“Jadi mudah-mudahan tidak terjadi lagi dan bisa kita mitigasi, kita bisa cegah hal-hal seperti ini ke depan,”
Menurut Gus Ipul penguatan data jadi dasar berbagai program perlindungan sosial, termasuk Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi keluarga kurang mampu, terutama kelompok rentan yang selama ini belum terjangkau bantuan dan salah satunya melalui Inpres Nomor 5/2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Jadi pelan-pelan ini datanya tunggal, kita konsolidasikan terus, kita mutakhirkan insyaallah makin hari akan tambah akurat," imbuhnya.
Sementara itu korban selama ini tidak menerima bantuan sosial (bansos) dari pemerintah dengan alasan keluarganya mengalami kendala administrasi kependudukan atau adminduk.
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan kendala tersebut terjadi saat keluarga YBS pindah domisili dari Kabupaten Nagekeo ke Kabupaten Ngada dan tidak diikuti dengan pembaruan data adminduk.